Beranda Warta Cerita Limbong Wara, Desa P2KP Berpenduduk 30 KK (1)

Limbong Wara, Desa P2KP Berpenduduk 30 KK (1)

Comments (0) View (1565)

D

DESA LIMBONG WARA merupakan sebuah desa di wilayah Korkot 3 KMW 7 P2KP 2/1. Desa ini merupakan kategori desa terpencil, dimana untuk menujunya, harus melewati banyak desa dengan medan yang cukup menyulitkan. Dari Masamba ke kota Kecamatan Malangke Barat, kita mesti melewati Desa Polejiwa, Desa Kalitata, Desa Cening dan Desa Wara. Letak Desa Limbong Wara sendiri, seperti desa dalam desa yaitu berada dalam lingkup Desa Wara.

Terdapat 2 jalur akses yang bisa digunakan menuju Desa Limbong Wara yaitu lewat darat dan melalui jalur sungai/air. Apabila memilih jalur air, bisa melalui Desa Wara dan Dusun Layar Putih melalui Kecamatan Lamasi, Kabupaten Luwuk. Waktu tempuh yang diperlukan (pada musim kemarau) untuk menuju Desa Limbong Wara dari posko (Desa Baku-Baku), sekitar 1 jam lebih. Namun, apabila musim hujan datang, diperlukan waktu 2 jam dari posko. Untuk yang menggunakan jalur air, waktu tempuh berkisar 1,5 jam dari Desa Wara dan 1 jam dari Kecamatan Lamasi.

Jumlah penduduk desa ini, secara administrasi tercatat sebanyak 85 KK, dengan jumlah jiwa 225 orang. Ada fenomena yang menarik saat ini, dimana jumlah penduduk Desa Limbong Wara tinggal sekitar 30 orang. Ini disebabkan banyak penduduk lainnya yang mengungsi (meninggalkan) lokasi akibat banjir.

Banjir di wilayah ini memang sebagai hal yang rutin terjadi sejak tahun 1993. Menurut beberapa sumber, banjir ini disebabkan karena pendangkalan Sungai Rongkong dan HPH, di akhir tahun 1980-an. Akibatnya, banyak penduduk yang berstatus (ber-KTP) Desa Limbong Wara, tetapi menetap di luar desa tersebut. Seperti saat ini, sejumlah 10 KK atau sekitar 25 jiwa penduduk Desa Limbong Wara, masih menetap/bertempat tinggal di Dusun labou dan Dusun Durian Bella, Desa Wara. Sebagian yang lain tinggal di Kota Palopo dan Kecamatan Lamasi, Kabupaten Luwu.

Kondisi yang terjadi di Desa Limbong Wara saat ini dalam keadaan rusuh akibat banjir/meluapnya air Sungai Rongkong akibat pendangkalan sungai dan HPH di akhir tahun 1980-an. Selain itu, pembuatan tanggul oleh masing-masing desa dengan tidak dikoordinasikan, mengakibatkan adanya penyempitan alur sungai serta pendangkalan.

Tanggul yang dibuat seadanya oleh biaya swadaya warga itu, tidak kuasa menampung debit air secara lebih banyak di musim hujan. Tanggul menjadi jebol yang mengakibatkan kerusakan pada lahan kebun yang baru bertunas dan baru berbuah, akibat terjangan/luapan air. Selain itu, luapan air juga mengenai rumah penduduk, jembatan, jalan dan fasilitas umum.

P2KP dan Minimnya Jumlah Penduduk

Pada saat P2KP masuk ke desa ini, tepatnya saat berlangsung sosialisasi dan RKM sekitar Bulan Februari 2004, kondisi Desa Limbong Wara masih berpenduduk sekitar 33 KK yang rata-rata merupakan penduduk trans (Lombok, Jawa, Bone dan Wajo). Akibat jumlah penduduk yang relatif sangat sedikit, maka kegiatan tersebut dilakukan langsung di tingkat desa.

Kendala sedikitnya jumlah penduduk ini, juga berimbas kegiatan FGD RK. FGD dilakukan dalam kelompok homogen yang hanya berlangsung di tingkat desa, tidak di tiap dusun. Kemudian, dilanjutkan dengan FGD RK pada kelompok heterogen yang menyepakati kriteria dan penyebab Kemiskinan, yang salah satunya membahas tentang kurangnya sentuhan pembangunan dari Pemerintah Kabupaten.

Tingkat pendidikan penduduk di daerah ini juga sangat minim. Rata-rata, pendidikan mereka hanya sampai SD/SMP. Bahkan, warga yang tercatat berpendidikan setara strata 1 (S-1) hanya 1-2 orang saja. Ini juga sangat berpengaruh pada pelaksanaan kegiatan Pemetaan Swadaya (PS) yang difasilitasi oleh Tim PS.

Suatu yang menyulitkan memang, akibat kondisi sedikitnya jumlah penduduk dengan taraf pendidikan yang minim, keberlangsungan pelaksanaan PS harus sepenuhnya didampingi oleh Fasilitator sendiri. Pemetaan Swadaya dilakukan langsung di tingkat desa, mengingat jumlah penduduk yang ada sangat kurang. Namun, di tengah kendala sedemikian, ada sebuah kebanggan dan syukur, bahwa respon dan partisipasi warga yang masih ada, masih begitu tinggi. (Bersambung)

(Sebagaimana diceritakan oleh seorang Relawan Desa, dikompilasi dengan data Fasilitator Kelurahan Limbong Wara oleh Bambang Irawan Wibisono, Asisten Korkot 3 Palopo KMW 7 P2KP 2/1; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.