Beranda Warta Cerita Limbong Wara, Sulitnya Berproses Akibat Banjir (2-Habis)

Limbong Wara, Sulitnya Berproses Akibat Banjir (2-Habis)

Comments (0) View (1285)

H

HINGGA kini, P2KP di Desa Limbong Wara sudah memasuki tahap pembentukan BKM, tepatnya pembentukan panitia pembangunan BKM yang segera akan berlanjut pada tahap coaching/pembekalan panitia. Namun, agenda inipun harus terhambat karena bencana banjir serta sulitnya mencapai lokasi/desa ini, terlebih karena salah satu akses jalan darat juga terkena banjir, yaitu Desa Wara (Dusun Durian Bela, Dusun Lodondou, dan Dusun Labou).

Untuk menempuh perjalanan dengan jalur air menggunakan perahu dari Desa Wara, akan memakan biaya sekitar Rp. 20.000. Sementara tempat pertemuan yang sering digunakan adalah gedung Sekolah Dasar (SD) Limbong Wara yang juga masih dalam keadaan tergenang. Selain itu, masyarakat masih trauma untuk kembali ke desanya karena imbas banjir tersebut. Satu yang disayangkan adalah masih kurangnya perhatian dari pihak Pemerintah Kabupaten, sementara bantuan yang ada, baru dari Dinas Sosial berupa beras, air mineral, kecap dan ikan kaleng.

Namun nampaknya, harapan masyarakat wilayah ini lebih diutamakan kepada perbaikan sarana dan prasarana lingkungan seperti jembatan, jalan, saluran pembuangan serta tanggul-tanggul, yang sebelumnya, diharapkan dari pihak Pemkab untuk melakukan pengerukan Sungai Rongkong dulu. Hal ini juga disebabkan agar apa yang dibenahi menjadi tidak sia-sia, karena penyebab banjir ini adalah pendangkalan Sungai Rongkong. Akibat musibah ini, petani mengalami persoalan pada biaya pemasaran yang menjadi lebih tinggi.

Keaktifan masyarakat desa ini untuk selalu hadir pada setiap pertemuan, nampaknya kurang mendapatkan respon dari Pemerintah Desa, disebabkan struktur organisasi yang belum ada. Penyebab lainnya adalah intensitas kehadiran Kepala Desa (Kades) yang kurang akibat lokasi/rumah Kades berada di Kecamatan Lamasi (luar Desa Limbong Wara). Selain itu, keberadaan lembaga desa, rata-rata belum berfungsi dengan baik, ditambah dengan SDM yang memang masih rendah.

Fenomena penerapan kegiatan Pemetaan Swadaya (PS) di warga, nampaknya merupakan sesuatu yang baru bagi masyarakat, sehingga, merekapun sangat antusias melakukan proses ini. Hanya, akibat tingkat pendidikan rata-rata yang memang rendah, pelaksanaan PS dirasa masih kurang maksimal. Namun hebatnya, kelemahan SDM ini, tidak juga menghalangi antusias masyarakat untuk mengidentifikasi masalah dan potensi yang ada di Limbong Wara.

Antusias dan partisipasi warga Limbong Wara, tercermin dari respon para tokoh masyarakat yang masih ada, sangat mendukung kegiatan P2KP, begitu pula dengan Kades dan Kadus, walau dengan segala keterbatasan mereka. Seperti saat pelaksanaan PS, mereka sangat memperhatikan kajian sebaran KK miskin, berikut nama-nama yang ada dalam sebaran tersebut beserta rumahnya, terutama yang berada dalam lingkungan wilayah Desa Limbong Wara, termasuk setelah terjadinya banjir, banyak warga yang numpang/mengungsi di desa tetangga, juga muncul dalam data.

Warga memandang, dengan kondisi semacam ini, perlu ada langkah-langkah agar pelaksanaan P2KP di desa ini bisa berjalan dengan baik, yaitu berkoordinasi dengan Kepala Desa, tokoh masyarakat serta Relawan mengenai kelangsungan pelaksanaan program (pembangunan BKM), ke depan.

Salah satu kegiatan mendesak yang dilakukan Faskel dalam kasus Desa Limbong Wara ini adalah membantu pendistribusian bantuan sembako untuk korban banjir. Namun, upaya ini nampaknya hanya solusi sementara saja, karena yang menjadi persoalan mendasar saat ini adalah bagaimana mengatasi banjir serta antisipasi apa saja yang harus dilakukan paska terjadinya banjir.

Kondisi banjir ini, sebenarnya, tidak hanya terjadi Desa Limbong Wara saja, namun juga di beberapa desa sekitarnya yang juga termasuk desa sasaran P2KP, seperti Desa Wara, Pombakka, Waelawi. Sehingga, kendala utama yang terjadi dalam pelaksanaan P2KP, lebih pada tertundanya kegiatan/siklus berikutnya yakni pembentukan BKM akibat banjir. Akibat bencana banjir ini pula, telah menyebabkan banyak warga yang belum mau kembali ke Desa Limbong Wara akibat trauma dan ketakutan akan terjadinya banjir susulan.

Upaya yang masih mungkin dilakukan untuk pelaksanaan siklus berikutnya yaitu pembentukan panitia pembangunan BKM. Ini juga disebabkan, beberapa warga yang masih tinggal di wilayah tersebut, merupakan Relawan dan Tim PS yang telah pula siap (bersedia) untuk juga menjadi panitia pembangunan BKM. Namun, yang lebih penting, ke depan, hendaknya para pihak terkait mempertimbangkan dengan matang tentang antisipasi penerapan lapang P2KP di wilayah-wilayah kasus/sulit seperti ini. (Selesai)

(Sebagaimana diceritakan oleh seorang Relawan Desa, dikompilasi dengan data Fasilitator Kelurahan oleh Bambang Irawan Wibisono, Asisten Korkot 3 Palopo KMW 7 P2KP 2/1; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.