Beranda Warta Cerita Uang 4 Angkat Sinung

Uang 4 Angkat Sinung

Comments (0) View (1276)

R

RM dan Team Leader KMW 1 P2KP 2/1 masuk pengadilan. Ini bukan isapan jempol atau cerita mengada-ada, namun, itulah kejadian yang dialami TL, Riduansyah, saat menunaikan tugasnya, melakukan supervisi lapangan di salah satu desa wilayah kerja Tim Fasilitator 7, tepatnya di Desa Jelimpo.

Pro dan kontra soal pengadilan adat paska reformasi, makin merebak di bumi khatulistiwa ini. Di satu sisi, mempertahankan adat sebagai warisan leluhur adalah bagian dari perilaku patriotik pelestarian budaya, namun di sisi lain dirasa berat akibatnya, jika berbeda pemahaman dan latar belakang etnografisnya. Itu pula yang terjadi beberapa waktu lalu antara kru KMW 1 dengan masyarakat Jelimpo. Namun, dimana kaki berpijak, disitu langit dijunjung, masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang harimau mengaum.

Hari itu, Kamis 24 Februari 2005, udara Desa Jelimpo terasa segar, hingga TL, Riduansyah yang ditemani RM Nasiri (biasa dipanggil RM), merasa perlu membuka jendela mobil setelah seharian menghirup AC Mitsubishi Kuda. Namun, karena RM belum keramas, tiba-tiba saja, seekor lebah masuk menyerang RM yang saat itu tengah mengemudikan mobil. Sontak RM terpekik seraya menginjak rem dengan tiba-tiba. Tentu saja tindakannya ini mengejutkan seorang pengendara motor yang baru saja dilaluinya, walau, tidak sempat tersenggol dan tidak sempat mengerem, apalagi jatuh. Menurut RM, rasa anginnyapun lewat begitu saja.

Namun, yang dirasakan RM, berbeda lagi dengan yang dirasakan sang pengendara motor. Menurutnya, rasa kaget itulah yang tak dapat dihargai dengan uang, hingga ia berniat mengajukannya pada dewan adat sebagai delik aduan adat. Maka, mengadulah pengendara motor itu pada ‘pasirah’ atau ketua dewan adat tingkat lokal. RM dan TL pun tak dapat mengelak ketika massa mengerumuni, dan mau tak mau, kenyataan itu yang harus dihadapi.

Konon, pasal yang yang dituduhkan ialah rasa kaget yang membahayakan, dan mereka menyebutnya sebagai ‘sinung raya atau uang 4 angkat sinung’. Merasa terpojok dan tak dapat mengelak, dengan lancarnya ‘tukang paca’ mencarikan dalil hukuman. Semula, jika diuangkan, jumlahnya sangat banyak dan tak masuk dalam pikiran sehat RM dan TL. Namun setelah terjadi tawar menawar alot, akhirnya dapat disepakati kekagetan itu dengan sejumlah uang.

Cecep Dudi Santoso (yang punya wilayah), awalnya mengatakan, bahwa ia akan mengurus tuntas kejadian tersebut, artinya, ada kemungkinan bebas atau tetap mendapat keringanan. Namun, adat berkata lain, artinya, semua sangsi harus dibayar pihak tertuduh. Maka, dibuatlah surat yang ditandatangani kedua belah pihak yakni tertuduh RM Nasiri dan pengurus adat Simpat Sei Raya.

Setelah ditawar, jumlah denda sebesar Rp. 307.500,- dengan rincian sebagai berikut: tukang paca (Rp. 4000,-); 2,5 kg ayam kampung (Rp. 30.000,-); 1 buah parang (Rp. 10.000,-); 6 buah piring (Rp. 30.000,-); 5 kg beras (Rp. 30.000,-); 2 kg arak (Rp. 12.000,-); 1 kg gula (Rp. 5000,-); 2 ons kopi (Rp. 4000,-); 1 krs garam (Rp. 500,-); 1 krs micin 50 gram (Rp. 1000,-); 10 kg babi (Rp. 150. 000,-); 1 tempayan (Rp. 25.000,-); serta 2 kg beras ketan (Rp. 6000,-). (Dari partisipatif KMW 1 P2KP 2/1; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.