Beranda Warta Cerita Mengusik Kecelakaan Faskel Hatta di Ngantru

Mengusik Kecelakaan Faskel Hatta di Ngantru

Comments (0) View (1948)

L

LIMA Mei 2005, sekitar pukul 17.30 WIB, Senior Fasilitator (SF) wilayah Ngadiluwih, Kediri, M. Hatta Iskandar, mengalami kecelakaan di Desa Ngantru. Sebagai personil Fasilitator, Hatta sendiri bergabung dengan KMW 15 P2KP 2/2 sejak akhir Desember 2005. Sebelumnya, lelaki semampai bertinggi 175 cm ini, telah bergabung dengan P2KP sejak tahun 1999.

Seperti biasanya, pada Kamis siang, Hatta datang ke kantor Korkot Kediri dengan mengendarai sepeda motor ‘Kharisma’ yang telah dibelinya beberapa bulan silam. Hatta memang keluarga muda, tetapi atas kegigihannya bersama isterinya, dia telah mempunyai sebuah rumah mungil tipe 36 di bilangan kesohor di kota Batu, Puri Savira. Tentu, kebiasaan mengangsur dan kredit, menjadi pilihan Hatta, tak terkecuali saya dan teman-teman lain yang kerap memilih skenario KPR sebagai alternatif pintas.

Sembari diskusi dengan teman-teman Faskel dan Askot Kediri, Tommy Rizky, Hatta bergegas pulang menuju kontrakannya di daerah Ngunut yang berjarak sekitar 30 km dari kantor Korkot Kediri. Keluarga Hatta dan anaknya yang semata mayang, memang telah diboyong ke Tulungagung sejak dirinya direkrut KMW 15 menjadi Faskel. Semula, Hatta memang mempunyai wilayah di kawasan Ngunut, Tulungagung, namun kemudian dia dipercaya untuk menjadi SF dan harus pindah ke Kecamatan Ngadiluwih, Kediri.

Keluar dari Korkot Kediri, Hatta memacu motornya dengan kecepatan tinggi 80 km/jam. Biasa, ini memang tradisi sebagian besar orang muda yang lebih mempunyai kenikmatan dan pengalaman tak tergantikan, tatkala bisa memacu kendaraannya dengan laju tinggi. Wuzzz, huuurrr, laju kharisma terus dipacu dengan kecepatan sembari ‘sleyat sleyot’.

Hari Kamis yang semula benderang itu, kini makin senyap karena petang telah menjemput sore. Di ujung barat Kota Kediri yang disesaki dengan tanaman tebu yang berjibun itu, lambat-lambat, langit telah berganti memerah. Sungai Brantas yang memisahkan Kota Kediri dengan Kota tulungagung, telah mulai bermasyuk ria dengan cahaya kemerahan yang dipantulkan dengan pantulan-pantulan kerlap-kerlip, di sepanjang aliran sungai, yang kini dengan setia dan teguh, menepati janjinya mengalir dari ketinggian ke ngarai nan jauh.

Hatta masih memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, di saat surau-surau di sepanjang jalan yang dilaluinya, tengah mendendangkan Adzan Maghrib. Sayup-sayup adzan bersautan dan bersaing keras untuk berkompetisi memanggil hati manusia yang keras agar melunak. Hatta kini telah mengemudikan kendaraan di suasana remang, lampu motornya pun mulai dinyalakan.

Byarr, beberapa saat, cahaya itu dapat membimbingnya menghindari halangan dan kerikil yang berbaris tak teratur di sepanjang jalan yang aspalnya mulai menipis dan rusak. Rasanya, kerusakan aspal dan jenis jalan dari tanah atau makadam, merupakan bagian pemandangan yang menghiasi sebagian jalan di kawasan itu, dan ini, nampaknya tidak perlu dimaki-maki. Jalan-jalan di desa dan kawasan pinggiran, selalu menjadi tempat yang nyaman dan tidak terlihat untuk mengurangi jatah aspal yang semestinya harus disiramkan.

Sreet …ciiitt, tiba-tiba Hatta menabrak seorang belia yang mengendarai sepeda kayuh dan memotong jalan ke kanan tanpa pertanda apapun. Waktu itu, tepat di depan Hatta, juga tengah melaju sepeda motor serupa, tetapi pengendaranya beruntung bisa menghindar. Hatta yang dengan kecepatan tinggi, tak bisa menguasai sepeda motor kesayangannya yang selama ini setia dalam pelana kendalinya. Krakkk… bresss, dan badan Hatta terguling-guling di aspal keras membatu. Dahi kananya luka, kaca helmnya pecah dan pelipis kanannya, tepat di atas alis, robek, yang kemudian terpaksa harus dijahit.

Tak berapa lama, darah terus bercucuran dari wajah Hatta. Jarak beberapa menit kemudian, kelopak matanya mulai menghitam dan membiru. Sementara bola matanya mulai menampakkan tanda-tanda merah sebagai protes karena menerima benturan keras yang tak pernah terbayangkan. Di remang kegelapan maghrib yang mulai merayap itu, Hatta ditolong oleh beberapa masyarakat. Segera kemudian, dirinya mengirim SMS kepada 2 rekan Timnya, Zidni dan Darto. Mulanya, 2 temannya itu tidak percaya, yang kemudian balik menelfon Hatta yang saat itu dalam erangan serius karena kucuran darah yang terus menutupi wajahnya.

Demi mendengar SFnya kecelakaan, sang rekan bergegas menuju menuju lokasi. Tak terbayangkan, di lokasi telah melintas beberapa Polisi dengan mengendarai mobil patroli, serta baru saja selesai meminta surat-surat motor dan SIM Hatta. Tanpa berpanjang lebar, Polisi kemudian ‘ngacir’ pergi tanpa merasa berdosa. Nyatanya, Polisi lebih memilih surat-surat motor Hatta, ketimbang bergegas menyelamatkan nyawa Hatta yang terkapar pasrah di remang emperan rumah penduduk di Desa Ngantru itu.

Darto ditemani kerabatnya, segera tanggap dan langsung membopong Hatta menuju UGD di RSUD Kota Tulungagung yang berjarak sekitar 7 km. Di sepanjang perjalanan, darah dari wajah Hatta terus mengucur dan membasahi pangkuan teman-temannya, juga, jok mobil butut milik Darto yang mengusung mereka.

Pertolongan pertama diberikan oleh Tim Dokter. Hatta kemudian dibawa ke ruang Bougenvile I-1. Malam jum’at yang semula dimuliakan untuk tahlil dan yasin, bagi teman-teman sesama Faskel, berganti dengan menemani Hatta secara bergiliran. Saya sendiri baru dikhabari beberapa saat, dan kemudian sampai ke lokasi ruang Hatta pada Jum’at, 6 Mei 2005, sekitar pukul 15.00 WIB.

Segera saya menuju ruang dimana Hatta terbaring. Wajah Hatta yang semula kuning langsat, kini telah dibalur dengan warna kebiruan memar. Luka di dahi kanannya masih basah, sementara di bagian atas alis kirinya masih dibalut karena bekas jahitan sekitar 4 tempat. Kelopak matanya membiru dan matanya masih malas untuk dibuka, beberapa saat sempat terbuka, nampak warna kemerahan.

Bertepatan dengan itu, Zaini, rekan sesama Faskel, telah ada di ruang tersebut, yang kemudian disusul Tommy, Askot Kediri. Meraka memang karib Hatta sejak P2KP tahap 1 lalu. “Obatnya mahal-mahal lho Pak, kemarin saya nebus habis Rp. 200.000,-, saya tidak tahu masih berapa lagi obat yang harus saya tebus,” ucap Hatta sembari meringis memiringkan badannya. Belum selesai Hatta bicara, Zaini tanggap dan langsung mengeluarkan sebuah kartu keikutsertaan asuransi dari sebuah badan jasa. Dalam kartu berwarna biru laut tertulis, MD Rp. 10.000.000, CT, Rp. 10.000.000 dan P Rp. 1.000.000. Hatta tidak tahu kecelakaan yang menimpa dirinya itu, masuk dalam kategori sandi mana. Ssstt, sebentar, saya akan mencoba memahami sandi-sandi itu, ujar saya saat itu.

Hatta terbaring di atas tempat tidur sempit dengan posisi kepala arah selatan, dan dekat kakinya, terbuka jendela untuk lalu lalang nyamuk. Di atas kepala Hatta, berputar sebuah kipas angin yang menghiburnya dengan kesejukan hambar. Suara kipas tua itulah yang setia menemani Hatta di sepanjang penantian kesembuhan. Nampak beberapa kali bibirnya digigit tanda menahan sakit yang meluas di sekujur tubuhnya. Di sela-sela dia miring itu, dengan mata terpejam rapat, Hatta menerima telfon dari temannya yang malam nanti akan menyiapkan sebuah Pelatihan Relawan di 2 tempat.

Saya tak kuasa melihat itu, kemudian membayangkan betapa kondisi kelurahan, apapun realitanya, tidak boleh ditunda kegiatannya. Hatta telah mendiskusikan beberapa hal yang akan dilaksanakan berkaitan dengan pelatihan dan laju siklus proses belajar P2KP, di 8 kelurahan yang didampinginya bersama 2 temannya.

Malam itu, saya bersama Zidni, mengisi materi pelatihan di Kelurahan Rembang. Pelatihan diikuti oleh 58 Relawan dari 140 Relawan yang terdaftar. Pelatihan diselingi dengan makan nasi pecel bungkus. Usai pelatihan, sekitar jam 22.30 WIB, telfon Zidni berdering, ternyata dari isteri Hatta yang memberitakan bahwa anak Hatta kini tengah panas dan di beberapa bagian tubuhnya memerah. Usai pelatihan, Darto dan Zidni juga bergegas menuju rumah Hatta disertai beberapa temannya yang telah memprakarsai untuk secara bergiliran menunggui Hatta di rumah sakit, karena isteri Hatta, disibukkan dengan merawat anaknya yang juga sakit.

Senin, 9 Mei 2005, pagi pukul 10.00 WIB, saya dengan teman-teman kembali menjenguk Hatta yang masih terbaring di Bogenvile I-1. Kali ini Hatta ditunggui oleh isterinya yang tinggi semampai dan berjilbab, beserta kakak perempuan Hatta. Nampak di lantai bawah tempat tidur Hatta, masih tergelar karpet kecil untuk tidur kakaknya semalaman. Wajah Hatta yang Jum’at lalu masih lebam membiru, kini telah agak pulih. Jahitan di dahinya juga telah dibuka, untuk seterusnya setelah hari Senin, Hatta diizinkan pulang. 

Saya sempatkan konfirmasi kepada isteri Hatta, tentang kebiasaan ngebut Hatta, apakah telah menjadi bagian dari kesehariannya. Dengan terkekeh, Hatta yang disusul isterinya memberikan jawaban, “Ya, memang hobi ngebut itu adalah bagian dari dia, sampai di tungkai uratnya pernah putus, juga di bagian dengkulnya,” sergah isteri Hatta disambut dengan senyum simpul Hatta yang matanya mulai normal berbinar.

Kejadian kecelakaan Kamis itu, tak ayal, merupakan rentetan dari tanggungjawab Hatta sebagai seorang suami, terlebih saat dikhabari isterinya bahwa Noval, si Hatta kecil, tengah sakit. Perjalanan dari kantor Korkot Kediri saat itu, menurut Hatta, memang dipenuhi dengan bayangan keinginan bergegas mengetahui suasana permata hatinya yang dikhabarkan sakit. Hatta yang putera Palembang itu berujar, kini kondisinya telah mulai pulih. Dirinya juga sudah puas karena telah diperkenankan tidur dengan alas bantal dan selimut tebal yang dilipat.

Kini, Hattapun sudah bisa berjalan ke kamar mandi sendirian, dengan tanpa merasakan suasana pusing. Mata kirinya memang masih nampak memerah, tapi dirinya yakin akan segera membaik. Semalam, orang yang ditabrak Hatta, juga bertandang ke rumah sakit dimana Hatta dirawat. Oleh pihak Hatta, sang korban tersebut, juga telah diberi santunan sejumlah Rp. 400.000,-. Uang sebesar itu, menurut isterinya, disepakati antara Hatta dengan orang tersebut, setelah menghitung sepeda kayuh yang telah rusak beserta ongkos pijat akibat memar. Ketika saya tanya kenapa si pemilik sepeda kayuh itu minta kerugian, Hatta dengan tangkas menjawab, “Kasihan Pak, meskipun saya begini, dia itu kan orang miskin,” ujar Hatta. Demi mendengar jawaban Hatta tersebut, Basuki, Askot Tulungagung yang menyertai keramaian kunjungan itu, menimpalinya dengan canda dan berujar, “Ya itulah pengamalan spirit P2KP yang selama ini kita benderakan, kita kerek dan kibarkan tinggi-tinggi di berbagai belahan nusantara.”
 
Waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB, suasana ramai di RSUD Dr. Iskak Tulungagung, mulai panas dan bersautan orang-orang yang meraung kesakitan, anak kecil yang meringkih dan cerewet di sana-sini. Lantai rumah sakit yang putih bersih, selalu dirawat dengan disiplin. Alas kaki yang kotor dan kaki yang berdaki, selalu nampak menjadi bagian dari keistimewaan sebuah lingkungan fasilitas kesehatan masyarakat yang tarifnya tak pernah ramah dengan para pengunjungnya itu. Kaki-kaki yang kotor dan berdaki itu, tidak bisa menolak dan mengelak bahwa kesehatan harus dibayar sepanjang mereka mampu. Kecuali, semua harta tidak kuasa lagi menandinginya, maka masyarakat berdaki itu, sekalipun sakit dan nyaris sekarat, akan tetap berpura-pura tidak sakit.

Menyulap erangan menjadi senyuman, menyikapi penindasan dengan kepasrahan yang tanpa batas dan kemudian protes pada Tuhan yang menganugerahkan sakit dan memberikan pelajaran melalui menunda kesembuhan. Mungkin, Hatta bukan sedang diberi pelajaran oleh Tuhan, tetapi oleh promosi moralitas yang kini menjadi sisi ghaib, yang tentunya, Hatta sendiri yang lebih tahu dibanding saya dan anda.

Itulah persinggahan pentas keseharian sekelompok Tim Faskel. Di samping mengurus soal-soal kelurahan, ternyata ‘beyond’ itu juga mengurus soal-soal yang harus mereka gotong dengan setia dan bersama. Bahu membahu seperti ini, nampaknya menjadi spirit tersendiri dalam rumah tangga besar P2KP. (Kang Kardi, TA Monev KMW 15 P2KP 2/2; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.