SMS = Setiap Malam Sosialisasi

Comments (0) View (1185)

M

MASA-MASA sosialisasi, menjadi ujung tombak penting saat mengawali siklus P2KP. Pada masa ini pula, Fasilitator akan disibukkan dengan berbagai janji-janji yang telah dibuat di tingkat desa, dusun, RT dan RW, untuk melakukan sosialisasi. Ibaratnya, pada masa-masa ini, seperti tak ada waktu luang bagi Faskel untuk mengistirahatkan diri.

Tak jarang, muncul kejenuhan sangat dalam diri seorang Faskel, terlebih saat sosialisasi dilakukan beruntun di tiap malam. Apalagi, materi yang disampaikan di banyak even warga tersebut, berbicara hal yang sama dan mengulang-ulang. Jelas saja, ini akan membuat Faskel merasa jemu dan bosan, walau, kegundahan semacam ini akan pupus dengan sendirinya manakala melihat macam mimik dan wajah warga yang kalem, keibuan hingga garang dan menyebalkan.

Banyak dinamika yang didapat dalam interaksi bersosialisasi, yang kesemuanya, sangat mewarnai saya. Kata orang-orang bijak, ”Faskel, pandai-pandailah membawa diri! Kalau beruntung, akan dapat berkenalan dengan pemuda desa yang sedikit ganteng, dan mau menjadi relawan, yaitu rela antar-antar wanita.” Sehingga, diperlukan komunikasi yang baik agar diterima sebagai bagian dari warga, sebelum mampu menarik pemuda menjadi ’relawan’ tadi.

Di zaman sekarang, komunikasi tidak hanya tergantung dari tatap muka, namun juga piranti canggih bernama handphone (HP), dan karenanya, peralatan ini bukan lagi menjadi barang mewah. Fenomena ini juga terlihat di desa, setiap Kadus atau RT, telah nampak menenteng HP pribadi. Komunikasi melalui SMS untuk konfirmasi jadwal ataupun meminta waktu sosialisasi, menjadi bagian telah biasa dilakukan. ”Apa malam ini bisa dating di acara pertemuan RT di Dukuhan, Mas?” atau, ”Pertemuan di Karangrejo jadi diundur tanggal 10 Maret, di rumah Kadus”. Begitu kira-kira bunyi SMS yang seringkali dilontarkan kepada Faskel.

Satu hal, tanpa terasa, peran sms ini bermanfaat sekali untuk komunikasi antar kelurahan/desa. Apalagi, jika jarak/rentang desa sangat luas, dirasa sangat menghemat tenaga dan waktu. Walau harus diakui, peran SMS ini, belum sampai pada ’personal touch’ kepada masyarakat, walau setidaknya, juga bisa menjadi media efektif untuk menyebarkan isu P2KP di masyarakat. Bisa dibayangkan, apabila kita mengirinkan SMS ke nomor kontak Kadus/RT/RW/Lurah/Relawan dan semua yang ada di phone book kita. Pasti, informasi akan tersebar luar biasa!

Akhirnya, setiap malam, sosialisasi yang dilaksanakan tanpa pandang jeda waktu pun, bukan menjadi masalah lagi. Dan kira-kira, SMS berikutnya akan berbunyi: ”Setiap Malam Sosialisasi”, dan ”Setia Melakukan Siklus”. (Yustina Tri Wahyuningsih, Faskel Muntilan, KMW 13 P2KP 2/2; Yanti)

0 Komentar