Tebal Muka, Sudah Biasa Tuh!

Comments (0) View (1073)

I

INI cerita tentang pengalaman lapangan Faskel yang musti memiliki satu syarat perlu dalam mendampingi warga, yaitu ‘Tebal Muka’. Bagaimana? Apakah Faskel harus layaknya seorang sales yang ‘door to door’ menawarkan dagangannya dengan resiko dicaci-maki, ditolak hingga dikejar anjing? Hampir seperti itu, namun dalam konteks yang agak lain.

Dalam menerima pembekalan siklus P2KP 2 tahap 1, menurut hemat kami, tidaklah utuh, artinya, Faskel menerima pelatihan atau coaching, tahap demi tahap dari siklus pembelajaran tersebut. Padahal, kenyataan di lapang, Faskel yang langsung berhadapan dengan masyarakat, selalu diberondong dengan pertanyaan tentang hal yang jauh ke depan dari kelanjutan siklus dan proses ini.

Ini membuat kami seperti menapaki jalanan panjang tapi di depan kami, gelap gulita, hingga, membuat jawaban kami pada warga terkesan meraba-raba. Beberapa kali kami menjawab pertanyaan masyarakat dengan seadanya, atau sebatas yang kami ketahui. Ini tak lain akibat ‘panduan’ baik berupa SOP, modul ataupun coaching dari pusat, yang kami bahasakan sebagai cahaya bagi jalan kami mendampingi warga di lapangan, kerap datang lebih lambat daripada siklus yang telah kami jalani. Dan ironisnya, ini sering terjadi di setiap siklus.

Akibatnya, tebal mukalah yang menjadi andalan kami, maksudnya, kerap kami harus memperbaiki apa yang telah kami sampaikan ke warga, setelah panduan itu datang terakhir. Andaikan berbagai panduan itu berjalan seiring atau idealnya antisipatif (di muka), tentu, muka tebal Faskel ke warga akan terkurangi. Meski dengan perasaan yang agak kesal, sedikit kesabaran dan tentu saja muka tebal, kami dituntut memperbaiki kesalahan itu di masyarakat, berdasarkan panduan yang telah datang.

Yang sempat ada di benak kami, mengapa Faskel dari awal proyek, tidak dilatih atau diberikan pembelajaran siklus yang lengkap, komplit dan tuntas mengenai proses, substansi dan legitimasinya. Bukankah orang yang mau terjun dan berjuang (ke masyarakat), harus lengkap sesajennya?

Kami pernah mendengar, di P2KP tahap sebelumnya, pelatihan dasar Fasilitator itu, memakan waktu yang cukup lama. Fasilitator bahkan diberikan pembelajaran yang lengkap mengenai berbagai hal di program ini, hingga aspek pengimplementasiannya. Ini sebenarnya, justru akan mempermudah pekerjaan lanjutannya, karena bila telah sampai pada siklus berikutnya, kita tinggal mengingatkan kembali apa yang telah diberikan saat pelatihan dasar tersebut, dalam bentuk coaching-coaching.

Intinya, kami kerap bertanya tentang banyaknya perubahan-perubahan yang telah terjadi dalam pelaksanaan siklus P2KP 2 tahap 1 ini. Tanpa mengurangi rasa hormat kami pada para pelaku di tingkat pusat, perubahan sekecil apapun, sangat berdampak besar di lapangan, terlebih karena kami menjaga agar Faskel tidak dikatakan ’plin-plan’, yang akan mempengaruhi kepercayaan warga terhadap informasi yang kami bawa, jadi, bukan hanya sekedar tebal muka. Kalau hanya sekedar tebal muka sih, sudah biasa tuh!

(Dari pengalaman lapang Tim Fasilitator 4, Banjarmasin Tengah dan Marabahan, KMW 4 P2KP 2/1; Yanti)

0 Komentar