Tak Ada Listrik, Petromax Jadi

Comments (0) View (1096)

T

TAK ADA rotan, akarpun jadi. Pepatah kuno ini ternyata masih berlaku di zaman modern ini, minimal pas untuk dipakai dalam menggambarkan semangat kerelawanan Aparat, Relawan dan masyarakat di Kelurahan Talete Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, yang secara bersama-sama bertekad memerangi kemiskinan melalui proses belajar yang difasilitasi oleh P2KP, meski dalam kondisi gelap gulita, mengapa?

Saat itu, jarum jam telah menunjukkan sekitar pukul 19.00 WITA. Aparat, Relawan dan masyarakat, telah berkumpul di depan dan sekitar aula kantor kelurahan Talete Satu. Meski cuaca terbilang dingin, namun belum satupun peserta yang beranjak memasuki ruang pertemuan akibat kondisi di dalamnya yang gelap gulita karena ada pemadaman listrik dari PLN.

Sementara menunggu listrik menyala, Tim Fasilitator bercakap-cakap dengan beberapa Aparat dan Relawan seputar pertemuan yang belum juga dimulai. Dari percakapan tersebut, muncul beberapa ide/gagasan dari Relawan. “Kalo listrik nyandak menyala, berarti torang tunda jo ini pertemuan,” ujar salah satu Relawan yang artinya, jika penerangan listrik tidak menyala, maka pertemuan ini ditunda. “Pertemuan ini tetap torang beking, biar nanti pake petromax deng lilin,” sahut yang lainnya yang berarti pertemuan ini harus tetap dilaksanakan, meskipun menggunakan penerangan petromax dan lilin.

Demi mendengar beberapa pendapat dan atas pertimbangan manfaat bersama, Tim Fasilitator mendukung ide yang kedua yakni pertemuan tetap terlaksana meski harus menggunakan petromax dan lilin. Dengan bergegas, Aparat dan Relawan pun segera menyiapkan peralatan tersebut. Akhirnya, ruangan menjadi bercahaya, meskipun terbatas. Seluruh peserta pun bergegas memasukinya.

Dengan bermodalkan penerangan petromax yang hanya satu buah dan beberapa lilin, pertemuan dimulai dengan diawali ucapan selamat datang dan do’a oleh salah seorang peserta. Dilanjutkan dengan arahan dari Lurah Talete Satu, Dsr. Eddy J. Turang. Dalam sambutannya, Lurah menyampaikan bahwa masalah kemiskinan yang ada di kelurahan ini, hanya dapat diatasi, bila secara sadar, warga menanggulanginya bersama-sama, baik Pemerintah maupun masyarakatnya. Dan P2KP adalah program yang memfasilitasi proses belajar menanggulangi kemiskinan ini secara mandiri, pada semua komponen masyarakat dan Pemerintah.

Di akhir sambutannya, Lurah juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para Relawan, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, masyarakat dan Tim Fasilitator, yang telah berkenan hadir dalam pertemuan tersebut. Dan secara kebetulan, tepat setelah Lurah mengakhiri sambutannya, penerangan listrik dari PLN, menyala dengan tiba-tiba.

Tim Fasilitator sampai pada giliran untuk menyampaikan beberapa hal sehubungan dengan rembug masyarakat pembentukan Panitia Pemilihan BKM di kelurahan ini. Pada kesempatan ini, Tim Fasilitator menyampaikan beberapa hal tentang maksud dan tujuan pertemuan; sosialisasi Organisasi Masyarakat Warga (OMW), termasuk kajian kelembagaan dan kepemimpinan saat pelaksanaan tahapan siklus Pemetaan Swadaya di masyarakat; tata cara pembentukan BKM, termasuk pembagian tugas pokok Panitia dalam tiga Pokja yaitu pemilihan anggota BKM, perumus AD BKM, dan pemantau partisipatif.

Setelah itu, peserta yang hadir berembug untuk membentuk Panitia Pembentukan BKM, termasuk pembagian perannya ke dalam tiga Pokja tadi. Akhirnya, sekitar pukul 21.30 WITA, terbentuklah Panitia Pembentukan BKM di Kelurahan Talete Satu. Dalam pertemuan tersebut, jumlah peserta yang hadir sebanyak 116 orang, terdiri dari 48 orang laki-laki dan 71 orang perempuan. Selain itu, juga langsung disepakati waktu pelaksanaan pembahasan Tatib pemilihan dan AD BKM. Ya, ini berkat, ‘Tak Ada Listrik, Petromaxpun Jadi’.

(Penulis: Faskel Tim 12, Korkot Tomohon, KMW 5 P2KP 2/1; Yanti)

0 Komentar