Beranda Warta Cerita SFku Hilang, SFku Malang

SFku Hilang, SFku Malang

Comments (0) View (1178)

S

SAYUP auman binatang malam, menambah suasana gelap terasa kian mencekam di tengah udara dingin yang menusuk tulang. Jalan setapak lurus, seakan tak berujung, tanpa seberkas cahaya apapun, hanya temaram bulan yang menerobos sela-sela pepohonan. Miris dan menakutkan sekali malam itu.

Dari kejauhan, nampak sekelebat bayangan, yang kian mendekat, semakin nyata, motor tua dengan semangat membara sang pengendaranya, berbaur dengan malam pekat. Namun, siapa yang rela menghabiskan malamnya untuk menaklukkan mencekamnya gelap? Siapa lagi kalau bukan sosok Faskel yang tengah mengemban misi mulia, fasilitasi warga miskin untuk berdaya.

Walau dengan rasa setengah miris, ’celingak-celinguk’ Faskel, mencoba menyapa alam sekitarnya, atau mungkin sebagai gambaran upaya melawan ketakutannya seorang diri. Tiba-tiba, sang Faskel memperlambat laju motornya. Oh, ternyata, ia tengah menanti beberapa teman di belakangnya. Ketika suara derum motor yang lain sudah terdengar, degup di dada menjadi agak reda, berganti dengan senyum kelegaan karena merasa ada teman senasib tengah menyertai.

Namun, perjalanan masih panjang. Untuk menghilangkan rasa sepi dan takut, selingan ngobrol menjadi pilihan sembari berkendaraan beriringan. Holobis kuntul baris, demikian motto yang telah tertanam untuk siap menggandeng masyarakat, menuju hari esok yang lebih baik.

Obrolan sambil jalan itu, nampaknya terasa semakin mengasyikan. Dari topik A sampai Z, menjadi penghibur perjalanan malam, hingga terdengar suara berdebum tiba-tiba, “Krosak, buuuum!” Seketika, perasaan takut yang telah dibawa sejak awal, membuat tersentak seluruh rombongan yang dengan segera, berusaha mempercepat laju motor masing-masing. Dan, wuz, wuz, wuz, motor dipacu hingga kecepatan 100 km/jam. Kontan saja, dalam sekejap, sampailah mereka pada situasi aman, yang sejengkal lagi, tiba di rumah Kepala Dusun yang dituju.

Warga peserta pertemuan, nampak telah berkumpul di halaman depan. Bak rombongan pejabat teras, Faskel disambut dengan keramahan dan keakraban khas masyarakat agraris. Dengan sedikit tersenggal-sengal akibat kekagetan perjalanan malam, Faskel mencoba tersenyum riang merespon keramahan masyarakat, sembari bercerita tentang apa yang baru terjadi.

Dengan sedikit bumbu horor, para Faskel meyakinkan warga bahwa mereka memang layak untuk takut menghadapi situasi miris yang baru saja terjadi (atau supaya tidak dianggap sebagai penakut saja). Dan klop, warga bahkan mendukung cerita mereka, dengan mengiyakan cerita Faskel bahwa sepanjang jalan yang dilalui mereka, memang terkenal angker.

Tiba-tiba suasana menjadi hiruk-pikuk karena saat acara perkenalan, diketahui bahwa sang Senior Faskel (SF) tidak ada. Seketika, suasana menjadi geger yang segera ditindaklanjuti oleh Faskel lain untuk berinisiatif mencari SF mereka, sembari mencari solusi bagaimana untuk segera menemukannya. Akhirnya disepakati, warga akan membantu/menemani para Faskel untuk menelusuri kembali jalanan yang tadi dilalui mereka.

Lalu, bagaimana kejadian sebenarnya, apa gerangan yang menimpa SF? Rupanya, sang SF adalah pengendara motor tua yang saat tersentak demi terdengar bunyi-bunyian aneh di tengah gelapnya malam, tidak bisa menandingi laju kecepatan motor Faskel lainnya. Alasannya, bagaimana mungkin SF bisa mensejajarkan diri dengan motor lain yang bisa tancap gas sampai 100 km/jam, sedangkan motornya, tak mampu dipakai untuk itu.

Ketakutan yang juga menyelimuti SF, membuat SF juga berupaya tancap gas. Namun yang terjadi, motor tuanya bukannya bertambah kecepatan, tetapi malah, ”Gedabruk, nyes!” Motor tua berikut SF, kecemplung (tercebur--red) sawah. Begitu tahu dirinya masuk ke sawah, SF berupaya menggapai pingiran pematang yang nampaknya masih terlalu tinggi untuk dijangkau.

Hampir saja sang SF putus asa dengan kondisinya, bak pepatah, ’sudah jatuh, tertimpa tangga’. ”Sudah malam, sendiri, sepi, gelap dan dingin, kecemplung sawah lagi, minta ampun paniknya,” benak SF berkata. Namun, ”Tenang! Tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi, pertolongan selalu datang darimana saja, dan pada saat yang dibutuhkan,” keyakinan hati SF kala itu sembari pasrah saja pada Yang Kuasa.

Dan, benar saja. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara segerombolan orang yang semakin dekat, semakin jelas dan nyata. Ternyata pertolongan itu datang. Suara di kejauhan tersebut adalah suara Faskel dan warga yang tengah berupaya mencarinya. Hingga, SF berhasil diselamatkan dan diangkat dari kubangan lumpur sawah.

Tentang suara aneh dan berdebum yang menjadikan para Faskel tersentak dan ketakutan saat malam mencekam itu, usut punya usut, ternyata itu hanyalah suara nangka yang jatuh dari pohonnya. Dan ini baru diketahui mereka, saat didapati buah nangka jatuh dari sebuah pohon, tepat di lokasi yang membuat mereka pada ngacir ketakutan malam itu. Alamak!

(Cerita ini diambil dari kisah nyata dari salah satu Tim Faskel Korkot 3, Sukoharjo, KMW 14 P2KP 2/2; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.