Beranda Warta Cerita Perlukah Olah Kanuragan ‘Membelah Jiwa’?

Perlukah Olah Kanuragan ‘Membelah Jiwa’?

Comments (0) View (1435)

E

ENTAH karena antusiasme warga yang sangat tinggi atau persoalan koordinasi yang kurang mulus, seorang Fasilitator terpaksa harus mendatangi forum rembug di dua tempat yang berbeda, dalam waktu yang bersamaan. Agenda pertama adalah forum pengambilan keputusan Rembug Kesiapan Masyarakat (RKM) tingkat dusun, dan yang kedua adalah forum sosialisasi.

Bentrok dua agenda yang sudah tak mungkin dikoordinasikan lagi itu, membuat Fasilitator sempat berfikir dan menyayangkan, mengapa dirinya tidak pernah mendalami olah kanuragan ‘membelah jiwa’, membelah diri menjadi dua, supaya bisa hadir di dua forum rembug tersebut. Tetapi, layar sudah tidak bisa ditutup lagi, pertunjukan harus tetap berjalan. Forum rembug tidak mungkin dibatalkan karena masyarakat sudah menunggu.

Tetapi, bukan Fasilitator namanya bila tidak memiliki jalan keluar. Dengan agak spekulatif, sang Fasilitator memilih mendatangi forum rembug yang kira-kira tidak menghabiskan waktu terlalu lama terlebih dahulu, baru kemudian menghadiri forum rembug di wilayah kedua. Pilihan pertama Fasilitataor jatuh pada forum Rembug Kesiapan Masyarakat (RKM) tingkat dusun. Menurut perkiraannya, acara ini tidak membutuhkan waktu terlalu lama serta tidak perlu melakukan sosialisasi panjang lebar lagi, karena sebelumnya sudah dilakukan.

Namun, sial tidak dapat ditolak. Kenyataannya, justru acara RKM tingkat dusun berjalan cukup alot karena masyarakat masih menuntut sosialisasi yang lebih lengkap lagi sebelum memutuskan menerima atau menolak P2KP. Dengan kesabaran setinggi tebing karang, Fasilitator menjawab dan menjelaskan setiap pertanyaan warga, sekaligus memandu proses RKM tingkat dusun, hingga agenda ini berjalan mantap dan sukses.

Selesai memfasilitasi RKM, bukan berarti agenda habis, masih ada satu wilayah lagi yang harus didatangi untuk sosialisasi. Dengan sigap sembari menolak secara halus setiap ajakan untuk minum dan sekedar menikmati kudapan yang disediakan, Fasilitator segera meluncur ke forum sosialisasi di wilayah kedua yang juga terjadwalkan malam itu.

Proses RKM yang cukup alot sebelumnya, memang telah menyita waktu dan membuat kehadiran Fasilitator di acara sosialisasi berikutnya, terbilang cukup larut. Warga sudah hampir tidak sabar menunggu, bahkan, untuk memastikan kehadiran Fasilitator, warga bersepakat mengirimkan utusan untuk menjemputnya di lokasi saat Faskel memandu RKM.

Namun, dasar telah menjadi naluri, kepekaan Faskel untuk masalah seperti ini memang cukup tinggi. Sebelum utusan datang menjemput, Faskel sudah meluncur terlebih dahulu ke lokasi, meskipun terlambat. Dalam benaknya, lebih baik dating terlambat, daripada tidak sama sekali, dan jangan pernah menghambat proses belajar masyarakat. Demikian kira-kira ungkapan hati Fasilitator.             

Sekali lagi, kesabaran Fasilitator diuji di sini. Kedatangan Fasilitator yang terlambat, bukannya disambut dengan gegap gempita atau sekedar diberi senyuman penyejuk hati, tapi disambut dengan berondongan ungkapan kekecewaan warga karena merasa sudah terlalu lama menunggu. “Kesasar yo, Mas (tersesat ya, Mas), bar iki arep nang endi maneh (habis ini mau kemana lagi), wah bagus tenan Fasilitatore, ndadak dipethuk barang (ganteng sekali Fasilitatornya, harus dijemput segala), ayo Mas ndang dimulai, selak ngantuk ki! (ayo segera dimulai, sudah pada ngantuk nih!),” ungkap beberapa warga dengan nada agak kesal.

Dihadapkan pada situasi tidak menggembirakan, sang Fasilitator tetap bersikap tenang. Namun, begitu Fasilitator duduk dan siap menunaikan tugas sosialisasinya, seorang warga berinisiatif memberikan air minum bagi sang Faskel. Tidak ada masalah dengan air minumnya, tetapi tiba-tiba, seorang peserta menyodorkan minum 2 gelas sekaligus di hadapan Fasilitator.

Serasa spontan, para peserta berkomentar, “Wah, wis tekane telat, entuk jatah ngombe loro meneh (sudah datang terlambat, dapat jatah minum dua lagi).” Tak pelak, ungkapan spontan warga tersebut disambut dengan gerrr (tertawa) panjang dari seluruh hadirin. “Sabar, sabar, batin sang Fasilitator sambil tetap mempersembahkan senyuman manisnya kepada semua hadirin, meskipun dalam hatinya, kecut setengah mati.

Singkat cerita, walau sempat diledek peserta, sosialisasi tetap berjalan lancar. Sang Fasilitator menjelaskan kronologi keterlambatannya, disambung dengan sosialisasi P2KP, walau diakuinya, dinamika forum sudah tidak sepenuhnya lagi kondusif karena hari telah larut. Dan yang agak mengecewakan, tidak ada satupun peserta yang mengajukan diri sebagai Relawan saat acara selesai. Namun, Fasilitator tetap pulang dengan gagah, dengan hati penuh cinta dan bangga karena telah berhasil menunaikan tugasnya, meski tidak sempat berolah kanuragan ‘membelah jiwa’.

(Imbas, Subprov 1, Sumber: Tim 6 Muntilan, KMW 13 P2KP 2/1 Jawa Tengah; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.