Interupsi Samir dan Perubahan Sosial

Comments (0) View (1324)

S

SAMIR adalah salah satu dari 18 desa di Kecamatan Ngunut. Dari kota kecamatan, desa ini berjarak 6,5 km atau jika ditempuh dengan kendaraan sekitar 12 menit, sedangkan dari kota kabupaten berjarak sekitar 18 km, atau bila ditempuh dengan kendaraan sekitar 1 jam perjalanan.

Tercatat, hingga tahun 2001, desa ini berpenduduk 1.740 jiwa, terbagi dalam 859 orang laki-laki dan 881 orang perempuan. Jumlah tersebut, tersebar di 11 RT dan 3 RW. Secara geografis, wilayah Samir adalah pemukiman, persawahan dan ladang. Total luas desa mencapai 119,2 Ha, terdiri dari sawah irigasi teknis seluas 58 Ha, ladang seluas 27,07 Ha dan sisanya adalah lahan pemukiman seluas 34,13 Ha.

Mata pencaharian penduduk Samir terbesar ada di sektor pertanian, khususnya tanaman pangan. Tidak kurang dari 189 warga Samir bekerja pada areal lahan sekitar 1/3 dari luas desa tersebut. Di samping pertanian, ada juga yang memiliki mata pencaharian di sektor industri pengolahan, terutama indutri pengolahan makanan kecil dan gula merah dengan jumlah sekitar 110 orang, sementara untuk perdagangan dan jasa, tercatat sekitar 125 orang. Rata-rata, warga desa ini bekerja sebagai pedagang, jasa angkutan, jasa komunikasi, dan sebagian lain menjadi TKI dan buruh tani.

Pada saat dilakukan Rembug Kesiapan Masyarakat (RKM) beberapa waktu yang lalu, dinyatakan bahwa warga menerima P2KP, yang diikuti dengan pembacaan nama-nama Relawan dari masing-masing utusan RT oleh Pimpinan Sidang. Pada saat itu disebutkan, ada 48 orang Relawan yang akan ikut mengawal P2KP, tanpa pamrih, rela dan ikhlas. Bahkan, menurut Nihayatus Sholihah, Fasilitator setempat, ada yang menyimpulkan Relawan itu sama dengan ikhlaswan.

Ke-48 orang Relawan Desa Samir tersebut, selanjutnya menyatakan kesiapannya dalam mengikuti pelatihan. Pelatihan Relawan ini sendiri, memakan waktu sekitar 4 hari yang selama agenda berlangsung, Relawan mengikutinya melalui model belajar bersama selama 6 jam untuk setiap malamnya. Artinya, ke-48 Relawan tersebut, benar-benar merupakan orang-orang yang terpilih karena keihlasannya.

Perubahan Sosial: Berani Interupsi

Sejak P2KP masuk, ada perubahan sosial yang ’significant’ hadir pada perilaku warganya. Salah satunya, masyarakat desa kini tak lagi takut melakukan interupsi saat rembug, yang di masa lalu, hal ini merupakan suatu tabu yang tak pernah dilakukan oleh wakil rakyat di gedung dewan sekalipun.

Kejadian ini, tergambar saat dilakukan RKM, interupsi itu benar-benar terjadi di Balai Desa Samir. Hal ini, merupakan bagian dari potret demokrasi yang sedang berproses di desa ini. “Interupsi Pak, saya ingin klarifikasi nama-nama Relawan di masing-masing RT. Saya kira tadi ada kesalahan penyebutan nama,” ujar Suprihatin yang saat itu khawatir akan terjadinya rekayasa dalam penentuan Relawan di desanya. Namun, setelah dijelaskan oleh Pimpinan Sidang, Suprihatin dapat menerima klarifikasi penyebutan nama-nama Relawan. Salah satu contoh kecil nuansa perubahan sosial!

(Penulis: Cak Zaki, TA Sosialisasi KMW 15 P2KP 2/2; Yanti)

0 Komentar