Beranda Warta Cerita Kedung Gandu, Local Genuine Warga Pinggiran

Kedung Gandu, Local Genuine Warga Pinggiran

Comments (0) View (1483)

P

PERTAMA kali menginjakkan kaki di Desa Banjarsari, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, tidak pernah menyangka ada sebuah kampung terisolir yang seakan terpisah dari keramaian. Kampung tersebut adalah Dukuh Kedung Gandu, sebuah pedukuhan tersembunyi di antara rimbunnya pepohonan, dengan merdunya kicauan burung Kehicap yang menghiasi kesunyian di antara belasan rumah membisu.

Dukuh Kedung Gandu merupakan bagian dari wilayah RW 06, Desa Banjarsari, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, dengan jumlah penduduk sekitar 45 orang. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani, sedangkan sebagian lainnya adalah pedagang kapuk yang kerap merantau sampai ke luar Jawa.

Tidak ada sarana jalan yang layak menuju kampung tersebut, kecuali jalanan setapak melintasi pematang sawah dan berakhir di bibir Sungai Klawing. Demikian pula tidak ada jembatan atau sarana penghubung lain. Penduduk setempat terbiasa menyeberangi sungai dengan bertelanjang kaki jika ingin keluar dari Dukuh Kedung Gandu untuk sekedar membeli keperluan sehari-hari atau mencari nafkah hidup di luar dusun.

Menyeberangi sungai adalah alternatif termudah, mengingat jarak tempuh yang cukup dekat menuju desa tetangga yaitu Desa Buara, wilayah Kecamatan Karanganyar, yang itupun, jika kondisi Sungai Klawing dalam kondisi normal. Di musim hujan, seringkali terjadi banjir ‘bandang’ (besar--red), bahkan, kerap pula arus sungai meluap merendam sebagian besar areal persawahan di sekitarnya. Jika kondisi seperti itu, terpaksa penduduk mengambil jalan lain yang cukup jauh yakni dengan mendaki bukit, menelusuri jalan setapak dan memutar ke sebelah selatan Dusun Watu Tumpang.

Hari Jumat, 25 Maret 2005, sekitar pukul 14.00 WIB, kami melaksanakan sosialisasi di dukuh tersebut dengan dihadiri oleh sebagian besar warga. Sosialisasi tersebut berjalan dengan lancar dengan materi yang dapat dipahami warga meski rata-rata peserta terdiri dari kaum ‘manula’. Hal ini dimungkinkan karena bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa asli yang disampaikan oleh teman satu tim saya, Mas Gun. Hasil sosialisasi dan rembug masyarakat Dukuh Kedung Gandu sungguh di luar dugaan dan lain daripada yang lain, yaitu disepakatinya pembuatan jalan alternatif yang menembus bukit menuju Dukuh Watu Tumpang, dengan biaya swadaya warga murni serta pelaksanaannya dimulai sejak tanggal 3 April 2005.

Fenomena tersebut bagi kami merupakan hal menarik, karena, di saat warga dukuh lain begitu gencar mempertanyakan pencairan dana P2KP, atau bersitegang menentukan siapa yang berhak memperoleh kemanfaatan dana tersebut, atau mereka-reka kegiatan agar memperoleh cipratan dana, bahkan ada yang mengusulkan agar kegiatan P2KP dilaksanakan nanti ketika dana sudah cair, dsb, masyarakat Kedung Gandu yang lugu itu, ternyata sama sekali tidak mempermasalahkan kapan dana itu akan cair, berapa besar yang akan mereka  peroleh, dsb.

Prinsipnya, kalau pembangunan tidak dilakukan oleh mereka, lalu siapa lagi yang akan memperbaiki hidup mereka? Salah satu kemurnian sikap warga Kedung Gandu tersebut, juga dicerminkan oleh ungkapan sesosok tua, Mbah Waryo, yang dengan bijak mengatakan: “Jika sudah berurusan dengan uang, maka uang itu adalah racun!“

Local genuine, kemurnian dan kerekatan modal sosial yang ditunjukkan warga Kedung Gandu itu, demikian membekas di hati kami. Akhirnya, dari sebuah dusun terisolir, justru kami memetik banyak pengalaman berharga, berkenalan dengan kelompok terisolir, namun sangat percaya dengan semangat kemandirian, penuh nuansa gotong-royong dan selalu dihiasi dengan ketulusan hati yang murni dalam melakukan segala sesuatu.

(Penulis: Asep Ismail S. Permana, Tim Fasilitator 20, KMW 13 P2KP 2/2, Purbalingga; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.