Beranda Warta Cerita Facilitator as a Common Person

Facilitator as a Common Person

Comments (0) View (1254)

S

SOSIALISASI dalam P2KP, merupakan langkah awal dari rangkaian proses belajar bersama masyarakat dan Pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan. Sosialisasi merupakan pintu pembuka dalam melakukan kegiatan berikutnya. Baik atau tidaknya proses ini, dapat mengakibatkan tidak terbangunnya visi, misi dan tujuan akhir program. Walaupun sosialisasi awal yang baik, belum juga merupakan jaminan mampu terjadinya perubahan pola pikir masyarakat, namun, paling tidak, dapat mempermudah jalan ke arah itu.

Sebagai Fasilitator yang baik, biasanya kami selalu mempersiapkan diri sebelum melaksanakan kegiatan, termasuk saat melakukan sosialisasi. Persiapan yang harus dilakukan di antaranya: mengetahui siapa saja peserta yang akan hadir, materi apa yang akan disampaikan, serta berapa lama waktu efektif yang diperlukan untuk penyampaiannya.

Hal lain yang juga perlu difikirkan adalah teknis pelaksanaannya, yakni tentang dimana sosialisasi akan diselenggarakan, kapan waktu penyelenggaraannya, bagaimana setting ruangan, dsb. Pertanyaan tersebut terlihat sepele hingga terkadang, Fasilitator kurang mempertimbangkannya. Namun, setelah di lapangan dan terjadi beberapa persoalan tentangnya, mereka baru tersadar, betapa pentingnya persiapan itu.

Tim kami sendiri beranggotakan Fasilitator yang sudah berpengalaman dalam bidang pemberdayaan. Entah sudah berapa banyak pertemuan sejenis sosialisasi yang telah kami lakukan/fasilitasi. Saking merasa ‘sakti’ dengan pengalaman tersebut, sering kali kami melupakan tentang: ‘that we just a common person who often make the same mistake at the same location’.

Sebagai contoh, pada saat sosialisasi di Dusun Kleben, Desa Tanjung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, pada hari Rabu, 23 Februari 2005, merupakan contoh kejadian dimana Fasilitator kurang mempertimbangkan teknis pelaksanaan kegiatan. Pada saat itu, sosialisasi dilaksanakan di Balai Desa setempat, dengan ukuran ruangan yang cukup besar, plus dalam keadaan hujan lebat dan listrik padam. Pada saat itu, tidak ada penerangan serta pengeras suara. Akibatnya, suara Fasilitator yang bersaing dengan suara hujan, menjadi tidak dapat terdengar dengan baik. Imbasnya lagi, peserta yang berjumlah sekitar 80 orang, beraktifitas ngobrol sendiri-sendiri, hingga materi menjadi tidak tersampaikan dengan baik.

Kejadian di atas, dapat dijadikan cermin, selihai apapun seseorang Fasilitator telah terbiasa melakukannya, masih sangat memerlukan persiapan teknis dalam setiap kegiatan. Setelah persiapan yang diperlukan telah dilakukan, tinggal melihat bagaimana pelaksanaannya di lapangan. ‘After that always remember that we are not just a Facilitator, at the same time, we are just a common person’.

(Penulis: Devi M. Badri, Senior Fasilitator Tim 6 Muntilan, KMW 13 P2KP 2/2; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.