Beranda Warta Cerita P2KP, Semangat ‘Nguwongke Wong’

P2KP, Semangat ‘Nguwongke Wong’

Comments (0) View (16521)

<

”Sampai kapan kami akan terbebas dari lilitan derita hidup ini? Sampai kapan kemiskinan ini akan bisa teratasi? Sampai kapan kami bisa menikmati kehidupan yang layak seperti suadara-saudara kita yang lain? Dan sampai kapankah ketidakadilan akan terus terjadi?”

SEPENGGAL jeritan hati dan keluh kesah saudara-saudara kita yang belum beruntung (miskin), mengawali kisah yang diilhami dari hasil uji petik tentang pemahaman, persepsi dan pendapat  masyarakat tentang P2KP, hingga tahapan RKM. Dengan bahasa yang sederhana (filosofi jawa) namun penuh makna, mereka mengungkapkan substansi pesan nilai-nilai luhur, di tengah upaya peningkatan pemahaman konsep P2KP terhadap seluruh lapisan masyarakat yang terus dilakukan melalui sosialisasi.

P2KP telah berkumandang. Gaungnya pun telah terdengar di seluruh lapisan, mulai dari masyarakat akar rumput, hingga Pejabat dan Anggota Dewan. Program ini hadir dengan semangat ‘berani tampil beda’, dengan menawarkan konsep ‘nguwongke uwong’ (memanusian manusia), melalui berbagai siklus yang ditawarkannya.

Semangat ‘nguwongke uwong’ inilah kiranya yang menjadi daya tarik hingga P2KP cepat direspon oleh seluruh lapisan masyarakat. Imbasnya, harapan besar masyarakat dalam upaya penanggulangan kemiskinan pun, ditumpahkan kepada P2KP. Hal ini sebagaimana terungkap dari beberapa pernyataan warga (suara masyarakat) tentang P2KP, kerelawanan dan makna RKM, pada saat dilakukan uji petik KMP di wilayah Korkot 3 KMW 14.

Seorang warga mengungkapkan: “Kegagalan program yang lalu, sangat menyakitkan hati kami, namun, kami sadar, salah satu penyebab kegagalannya adalah ketidakpedulian dan kesalahan kami akibat belum mampu menjalin kebersamaan.”

Seorang Relawan, Maryono, mengatakan: ”Kedatangan P2KP bagai gayung bersambut, karena masyarakat, ternyata sudah sangat antusias untuk segera bangkit dari keterpurukan. Sehingga, Relawan disini yang sudah ada sebelum P2KP masuk, menjadi semakin terdorong rasa kebersamaannya untuk memperbaiki kondisi keterpurukan warga.”

Suparmin, seorang Kepala Dusun, mengaku memperoleh informasi P2KP dari undangan Kades dan informasi Faskel untuk mengikuti kegiatan sosialisasi tingkat desa. Lain lagi ungkapan Dwi Sudomo, seorang Tokoh Masyarakat, yang mengatakan, asumsi awal masyarakat tentang P2KP adalah sama dengan proyek-proyek sebelumnya, namun, setelah mendapat penjelasan, ternyata program ini diakuinya sangat berbeda. ”P2KP sama dengan memberdayakan masyarakat dan mempunyai konsep yang sistematis,” ujarnya.

Bagaimana dengan pendapat kaum hawa tentang program ini? Salah satunya diungkapkan Sudarmi, seorang Tokoh PKK. ”Selaku Ketua PKK, saya sering ditanya oleh Ibu-ibu yang belum memperoleh sosialisasi P2KP, yang sering ditanyakan adalah kapan turunnya dana P2KP. Namun, terus saya berikan penjelasan kepada mereka tentang proses P2KP yang sebenarnya, dan rata-rata, mereka bisa memahami. Selanjutnya, saya pun meminta Faskel memberikan sosialisasi lewat pertemuan PKK agar mereka lebih paham,” jelasnya.

Pendapat dari Tokoh RW, lain lagi. Rosidi, seorang Ketua RW mengaku telah menyiapkan kelompok-kelompok di wilayahnya, untuk siap menerima dana P2KP. Nah? Namun, pendapat ini, berbeda dengan pemahaman Dwi Suparmi, seorang Relawan, yang karena dirinya melihat kondisi warga miskin di sekitarnya, Suparmi yang mengaku tidak mampu membantu secara materi, menyatakan siap membantu meraka walau dalam bentuk non materi. ”Saya hanya mempunyai ketrampilan, seperti tata boga, rias dan jahit, saya berharap, mereka nanti bisa diberi pelatihan dan santunan,” ujarnya bersemangat.

Seorang warga, Suparno mengatakan, sebelum ada P2KP, masyarakat RT sudah melakukan iuran rutin bulanan untuk kegiatan, arisan, pembangunan, sosial dan simpan pinjam (Tridaya), yang ini telah dilakukan sejak tahun 1970-an. ”Sistim bagi rata, hanya adil bila dipandang dari pembagian jumlahnya, tetapi ini akan tidak adil apabila dilihat berdasarkan kebutuhannya,” ungkapnya.

Kitri, seorang warga, bahkan mengungkapkan persepsinya terhadap program ini dalam untaian kata-kata sederhana. Menurutnya, manfaat RKM adalah ’rumongso handarbeni’ (merasa memiliki). Selain itu juga ada harapan penuh makna yang disampaikan warga tentang keberadaan P2KP ini: ”Peteng dadi padang (gelap menjadi terang), susah dadi seneng (sedih menjadi gembira), tidak mampu menjadi mampu, semoga, P2KP bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara kongkrit serta mampu mengurangi kebiasaan buruk warga.”

Perbedaan pandangan, pendapat, dsb, sebagaimana di atas, bukan hal yang tabu dinyatakan, terlebih untuk keberadaan pendampingan masyarakat. Berbagai pernyataan semacam itu, seyogyanya juga dijadikan sebagai bahan instropeksi diri dalam melakukan penyempurnaan strategi, sikap dan perilaku. Sedangkan tentang pertentangan, hujatan, kritikan dan saran, merupakan terpaan dan tatangan, untuk lebih memperkaya dan memperdalam kajian lapang/masyarakat.  

(Penulis: Korkot 3 Sukoharjo, KMW 14 P2KP 2/1, Jawa Tengah; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.