Beranda Warta Cerita Jadi Relawan Harus Berpengalaman?

Jadi Relawan Harus Berpengalaman?

Comments (0) View (1628)

P

PRASYARAT nilai kemanusiaan dalam diri Relawan, ternyata ada pula yang menganggapnya kurang. Padahal, kejujuran, ikhlas, adil dan kemauan untuk bersama sebagai suatu spirit, pada jaman yang serba mendewakan materi ini, ibarat  menawarkan pil dosis rendah kepada banyak orang yang sudah ‘berpenyakit akut’.

Namun, dari kebanyakan warga yang ‘sakit’ ini ternyata masih ada yang percaya bahwa pemulihan harus tetap dilakukan. Konsep kerelawanan dalam idiom masyarakat Jawa, dipahami dengan padanan kata ’malaikatan’ (orang yang bertindak atas dasar spirit/kesadaran roh).

Ini terwujud dari kesediaan mereka mengadakan pertemuan warga dengan fasilitas seadanya, biaya sendiri dan tidak merasa perlu mendapatkan kompensasi dari apa yang sudah dikeluarkan, berkaitan dengan waktu, tempat dan materi. Lebih konkrit lagi adalah mereka tidak membutuhkan bayaran, tidak berhitung untung rugi, tidak mengharapkan imbalan, serta bertindak sepenuh hati.

Peristiwa berikut ini, berlangsung di suatu sore di basecamp Tim Fasilitator 12, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali KMW 13 P2KP 2/2. Seorang pemuda, warga dusun tetangga, tiba-tiba datang ke basecamp kami untuk sekadar berbincang-bincang. Setelah memperkenalkan diri, ia mengutarakan maksud kedatangannya, berkaitan dengan pendaftaran Relawan P2KP sebagai tindak lanjut sosialisasi.

Pemuda tersebut menyatakan tertarik dengan konsep yang ditawarkan P2KP yang kemudian, dirinya menawarkan diri sebagai Relawan desa tersebut. Dari uraiannya nan panjang tentang konsep membangun dari dalam melalui pencarian orang baik sebagai jawaban P2KP atas permasalahan kemiskinan, yang juga dilihatnya dari VCD P2KP, membuat kami selaku Tim Faskel merasa optimis terhadap komitmen pemuda ini.

Pembicaraan kemudian beralih kepada cara mendaftarkan diri serta syarat seorang Relawan. Setelah kami berikan informasi tersebut, dengan penuh antusias, pemuda tersebut bercerita bahwa ia baru saja pulang dari Aceh sebagai Relawan bencana tsunami serta gempa bumi di wilayah itu. Dirinya juga menyatakan, awalnya, selain syarat nilai-nilai dan moralitas yang tinggi, persepsinya bahwa P2KP juga menuntut syarat pengalaman pekerjaan sebagai Relawan.

Dalam hati kami tergelak, membayangkan Bapak-bapak Relawan yang sudah berusia di atas 60 tahun jika mendengar syarat ’tambahan’ sebagaimana yang diungkapkan pemuda itu. ”Jangankan pengalaman bekerja yang menuntut fisik prima, seperti Relawan Aceh tersebut, untuk menulis nama dan tanda tangan dalam lembar biodata saja, tangan renta mereka sudah tertatih-tatih akibat ’buyuten’ (gemetaran karena tua--red). Namun, apapun persepsinya dan telah kami luruskan, kami sangat menghargai bentuk kepedulian pemuda ini.

(Penulis: Tim Fasilitator 12 KMW 13 P2KP 2/2; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.