Melirik Betoambari dan Sorawolio

Comments (0) View (5746)

K

KALI INI, cerita lapang mencoba mengupas profil Tim Fasilitator Kelurahan. Dan yang kena dapuk adalah sebuah Tim di wilayah KMW 9 P2KP 2/1 Sulawesi Tenggara, yakni Tim Betoambari dan Sorawolio. Tim ini terdiri dari tiga orang Faskel dan seorang Senior Faskel (SF), dimana, masing-masing Faskel mempunyai wilayah dampingan 3 kelurahan untuk difasilitasi.

Tim Betoambari dan Sorawolio sendiri mempunyai 9 lokasi dampingan di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Betoambari dan Kecamatan Sorawolio. Untuk Kecamatan Betoambari, terdiri dari 5 kelurahan, yaitu: Nganaumala, Lanto, Kaobula, Tarafu dan Waj. Sedangkan untuk Sorawolio, terdiri dari 4 kelurahan, yaitu: Kaisabu Baru, Karya Baru, Bugi, dan Gonda Baru.

Kelurahan Nganaumala, terletak di jantung Kota Bau-bau yang berjarak 5 kilometer dari kantor Korkot. Jarak antar rumah dengan rumah lainnya, sangat rapat, dan ini menjadikan tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi atas kehadiran P2KP di wilayahnya. Kelurahan ini, berdekatan dengan Kecamatan Wolio yang dibatasi dengan kali Ambon.

Selanjutnya adalah Kelurahan Lanto yang terletak tidak terlalu jauh dari Nganaumala, dengan sebaran rumah yang sangat rapat. Kelurahan Lanto merupakan kelurahan ketiga yang paling padat penduduknya di Kecamatan Betoambari dengan rata-rata mata pencaharian warga sebagai pedagang.

Kelurahan Kaobula, terletak di daerah pinggiran pantai, dengan warga yang rata-rata bermata pencaharian sebagai nelayan dan pedagang. Umumnya, warga kelurahan ini masih terlihat trauma dengan program lain, yang ini, berkorelasi dengan tingkat partisipasi warga yang cenderung sedikit.

Menurut sebagian warga Kaobula, dari pelaksanaan beberapa program Pemerintah terdahulu, pada dasarnya tidak memberikan penguatan-penguatan di masyarakat, sehingga, penyadaran kritis warga tidak tercapai selain juga membuat program menjadi tidak transparan di mata masyarakat. Imbasnya, masih ada sebagian masyarakat yang tidak pro-aktif terhadap program P2KP akibat trauma atas program terdahulu.

Kelurahan Wajo merupakan pintu masuk menuju Kecamatan Betoambari yang dibatasi dengan Kali Ambon. Kelurahan ini berbatasan dengan Kelurahan Melai dan Kelurahan Lamangga. Masyarakat Wajo, rata-rata bermata pencaharian sebagai pedagang, Pegawai Negeri Sipil serta sebagian merantau. Pada dasarnya, masyarakat Wajo sangat antusias menerima program ini yang terlihat dari kehadiran mereka di tiap FGD, ditambah lagi dengan keaktifan dari hampir semua relawannya.

Kelurahan Tarafu memiliki sebaran perumahan penduduk yang padat dan terletak di daerah pantai, sehingga, sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan dan sisanya adalah pedagang. Di kelurahan ini, masalah yang dihadapi berkaitan dengan persoalan air bersih akibat PDAM tidak bisa menyuplainya hingga ke rumah-rumah. Ini menyebabkan masyarakat Tarafu harus membeli air dari kelurahan lain dengan jarak tempuh sekitar 4 kilometer.

Sebelum menuju Kecamatan Sorawolio, harus melewati satu kecamatan yaitu Kecamatan Wolio, dengan jarak sekitar 9 kilometer. Jadi, antara kecamatan Betoambari dan Sorawolio, memiliki bentang yang lumayan jauh, sekitar 9 kilometer. Kelurahan pertama di kecamatan ini adalah Kaisabu Baru. Kelurahan ini terdiri dari bermacam-macam etnis, yaitu etnis Komba-Komba (orang yang ada di pinggiran Keraton Buton), Kabauria (berasal dari etnis Kapuntori) dan Kaisabu (etnis Galampa). Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Kaisabu Baru terdiri dari empat bahasa, yaitu bahasa Wolio, Kapuntori, Galampa dan Cia-cia, dengan rata-rata warga yang bermatapencaharian sebagai petani dan penyadap Konau (aren).
 
Wilayah Kaisabu Baru, juga masih memegang teguh adat-istiadat yang dibuktikan dengan masih adanya acara pengangkatan tokoh adat atau Parabela. Pengangkatan seorang Parabela, masih sangat kental dengan cara-cara lama, yakni: Parabela dilantik oleh Pandesuka (Hakim).

Pandesuka sendiri berkedudukan di bawah Parabela, dengan cara mengumpulkan masyarakat di suatu lokasi serta mengumumkannya kepada khalayak bahwa mereka telah melantik Parabela dengan menggunakan bahasa lokal. Untuk mengangkat seorang Parabela, dilakukan oleh Pandekilala melalui pendekatan supranatural. Sedangkan masa jabatan Parabela, tidak dibatasi oleh waktu, oleh melainkan adanya musibah yang datang secara berturut-turut di daerah tersebut.

Kelurahan Karya Baru merupakan kelurahan yang baru terbentuk. Masyarakat kelurahan ini, bermata pencaharian sebagai petani sengan tipikal masyarakat yang tidak begitu jauh dengan kelurahan di dekatnya, yaitu kelurahan Bugi, Kaisabu Baru dan Gonda Baru. Masyarakat Karya Baru menggunakan bahasa Cia-Cia dan berasal dari etnis Laporo. Sebagaimana warga Kaisabu Baru, masyarakat Karya Baru masih memegang teguh adat melalui keberadaan sosok Parabela sebagai tokoh adat.

Kelurahan Bugi berdampingan dengan kelurahan Karya Baru dan Gonda Baru. Kelurahan ini merupakan pemekaran dari kelurahan Karya Baru. Masyarakat Bugi menggunakan bahasa Cia-Cia dan berasal dari etnis Laporo, dengan rata-rata mata pencaharian warganya adalah petani dan pengolah batu gunung. Selain itu, mereka juga masih memegang teguh adat, dengan terlihatnya Parabela sebagai tokoh adat.

Kelurahan Gonda Baru adalah kelurahan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Buton. Masyarakat wilayah ini, rata-rata bermata pencaharian sebagai petani dan penyadap Konau (aren), dengan nuansa yang kehidupan kultural yang masih kental memegang teguh adat melalui sosok tokoh adat yang dipimpin oleh Parabela. Warga menggunakan bahasa Cia-Cia, dengan etnis yang berasal dari Laporo.

(Penulis: La Ode Yakin Nugraha (SF), Hermawan Subekti, La Ode Risawal Samsul Ismet, Tim Faskel Korkot 2 KMW 9 P2KP 2/1; Yanti)

0 Komentar