Beranda Warta Cerita Pulau Tonduk (1): Duka Penyelam Tripang

Pulau Tonduk (1): Duka Penyelam Tripang

Comments (0) View (2267)

D

DESA TONDUK adalah sebuah wilayah kepulauan, yang untuk mencapai pulau ini, harus transit terlebih dahulu di Pulau Ra’as. Apabila berangkat dari Dungkek yakni pelabuhan atau dermaga paling ujung timur di Pulau Madura, haru sdilalui dengan perjalanan lima jam yang itupun dalam kondisi angin dan cuaca normal. Tapi, apabila tidak normal, bisa lebih lama lagi akibat diombang-ambingkan ombak yang tidak menentu.

Setelah sampai di Panggung yakni pelabuhan paling ujung timur di Pulau Ra’as, barulah bisa sampai di Pulau Tonduk dengan naik perahu tambang yang hanya memuat sekitar 15 sampai 20 orang, sambil membawa jerigen berisi air, karena di Tonduk tidak ada sumber air tawar yang layak dikonsumsi, harus mengambil dari pulau Ra’as.

Saipul, Duka Penyelam Tripang

Sebut saja namanya Saipul, bukan nama samaran, tapi memang biasa dipanggil begitu oleh banyak orang di Desa Tonduk. Ia merupakan bagian dari warga Desa Tonduk, Kecamatan Ra’as, Kabupaten Sumenep, yang untuk P2KP fase ini, Desa Tonduk mendapat P2KP dengan alokasi pagu BLM sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah.

Apa sebenarnya yang menarik dari sosok Saipul ini? Dia hanya salah satu warga biasa yang hidup di Desa Tonduk, yang sejujurnya, menjadi inspirasi dari tulisan ini. Saya yakin, ada suatu ’hikmah’ mendalam yang bisa dipetik dari sosoknya, tentunya apabila anda terus melanjutkan membaca tulisan yang terburu-buru ini, karena ada berita telepon dari Sekretaris KMW 16, yang kebetulan giliran saya.

Suatu sore, di mana matahari sudah mulai redup, saya berjalan-jalan menelusuri desa bersama seorang Relawan sebagai penunjuk jalan. Ketika sampai di Dusun Tonduk Barat atau lebih dikenal dengan sebutan Jengkara, saya tertarik pada sebuah gubug yang berdiri sendiri di tengah-tengah kebun pohon kelapa. Mulanya, saya hanya berfikir hanya mau singgah sebentar, tetapi ternyata gubug itu berpenghuni.

Ukuran gubug tersebut sangat sederhana, tidak lebih dari dua kali tiga meter. Dindingnya terbuat dari gedeg bambu beratapkan kolare (daun pohon kelapa), beralaskan tikar dari pandan yang mulai lusuh. Di dalam gubug yang sempit itu, terdapat blek bekas minyak goreng (tempat beras), tiga botol aqua plastik, sebuah koper berwarna coklat (tempat pakaian) serta sebuah kendil (tempat menanak nasi). Dan satu lagi yang ada di sana adalah sebuah tongkat.

“Assalamu’alaikum, apa kabar Pak Saipul?” sapa saya. “Wa’alaikum salam, ya beginilah,” ujarnya ramah seraya meraih tongkat dan bergeser seolah memberikan tempat kepada saya sembari mempersilahkan duduk. “Sedang apa Pak?” tanya saya lagi. “Ini Pak, sedang merangkai manik-manik buat kalung, cari upah buat makan. Satu kodi ongkosnya tiga ribu rupiah. Ya maklum, mau kerja apa lagi Pak, saya di sini sebatang kara, kaki saya lumpuh akibat nyelam mencari binatang,” ungkapnya.

Memang, mayoritas pekerjaan warga Tonduk adalah menyelam hingga kedalaman tiga puluh depa untuk mencari binatang (ikan tripang), terutama yang tersebar di perairan Kupang, Irian, Sulawesi, dengan masa tiga sampai empat bulan di rantauan.

Sementara anak istri mereka, di tinggal di rumah dengan beraktifitas merangkai manik-manik sambil menunggu sang suami datang, sekalipun, pada saat datangnya sang suami mereka, paling lama hanya dua bulan. Setelah itu, berangkat lagi berlayar dan menyelam, untuk mencari sesuap nasi. Dalam prinsip mereka, tidak takut mati, namun, mereka hanya takut kelaparan.

Dan, tidak sedikit akibat dari menyelam, selain taruhannya adalah maut, apabila selamatpun, akan terkena ’kram’ (lumpuh mulai dari paha sampai kaki), terutama menyelam saat siang hari. Lumpuh dan tak berdaya, layaknya Pak Saipul di atas. (Bersambung)

(Penulis: Suryadi, Fasilitator Kelurahan Tonduk, Korkot 3, KMW 16 P2KP 2/2; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.