Pulau Tonduk (2-habis): Do’a dari Tonduk

Comments (0) View (1673)

T

TELAH banyak para istri yang menjadi janda akibat sang suami pergi berlayar, berselimut angin, dan berbantal ombak. Bahkan terkadang, mayatpun tak sampai di rumah, sebagaimana yang sering mereka ungkapkan: ”Mate e tasek, bueng ngambeng Mate e derek, bueng ka lobeng.” (Mati di laut mengambang di laut, mati di darat di buang ke lobang)

Lalu, berapa banyak penderitaan warga Tonduk lainnya akibat kondisi alam yang sedemikian panas, tandus, tidak ada listrik, tidak ada bank, tidak ada air tawar, pendidikan hanya setingkat MTs (setara SMP) yang itupun, gurunya juga jarang masuk.

Apa yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat, aparat desa, pemerintah, LSM, para janda, jompo, anak yatim, guru, ustad, pemuda? Mendengar lontaran ini, saya dan Saipul tidak bisa menjawab. Sementara P2KP yang mestinya hadir di ‘P’ yakni Perkotaan bukan di ’P’ dalam arti Pedesaan atau di Pulau? Apakah merupakan sebuah jawaban? Saya dan Saipul lagi-lagi tidak bisa menjawab.

Tapi akhirnya, seorang relawan yang menjadi penunjuk jalan-jalan saya itu menjawab, “Bisa, bisa, asal mau berubah dan berdo’a.” Lalu, dia mencoba mengingatkan, paling tidak hanya satu hal seseorang atau manusia itu mau berubah yaitu dengan niat. Niat baik adalah kunci perubahan. Selain itu, perubahan adalah ’Sunnatullah’.

Kedua, dengan do’a. Paling tidak, ada empat do’a mustajab yang pantas di amini yaitu: Do’a kepada kedua orang tua, do’a kepada anak-anak yatim, do’a orang-orang yang sholeh serta do’a orang-orang yang terdhalimi.

Tidak jauh dari tempat gubug berdiri, terdapat sumur umum, dimana warga biasa nyuci dan mandi. Dengan serta-mertapun, Saipul ingin mengambil air wudhu’. Saat itu, rasanya saya ingin berdo’a: “Semoga P2KP sukses di Desa Tonduk.” Saya tertegun dan saya tidak tahu, apakah Saipul termasuk salah satu orang yang terdhalimi. (Selesai)

(Penulis: Suryadi, Fasilitator Kelurahan Tonduk, Korkot 3, KMW 16 P2KP 2/2; Yanti)

0 Komentar