Beranda Warta Cerita Niat Meminta Maaf, Eh.. Malah Dimintai Maaf

Niat Meminta Maaf, Eh.. Malah Dimintai Maaf

Comments (0) View (1040)

S

Suatu hari, saya menerima SMS dari salah satu teman tim kami di lapangan. Isinya, soal pembatalan rencana penyepakatan hasil PS di Desa Sokaraja Lor pelaksanaan Lokakarya Desa (Lokdes). Pelaksanaannya diundur sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Kami juga diminta untuk meminta maaf kepada masyarakat Desa Sokaraja Lor. Khususnya para relawan. Waduh. Gawat. Bagaimana ini? Tapi, agar masalahnya lebih jelas, kami sepakat mencari informasi lebih lengkap.

Nasi dan lauk sudah habis dimakan. Bekas sarapan pun sudah ditarik mundur ke dapur. Mungkin maksudnya memberi ruang yang lebih bersih untuk berdiskusi masalah lapangan. Setelah itu, saya lebih dulu beranjak untuk memakai jaket. Siap-siap berangkat. Eeh, rupanya ada yang belum sempat sikat gigi waktu mandi tadi! Kok bisa lupa, ya? Konon, untuk menambah kepercayaan diri, Mas Bambang segera masuk kamar mandi untuk bersikat gigi. Takut masih ada sisa makanan yang bercokol di sela gigi. Seperti kata Aa (Gym), “kebersihan sebagian dari iman.” Cocok!

Pengaturan kendaraan dibahas di tengah perjalanan. Kebetulan, kami harus mampir di bale desa—tempat base camp—dulu. Pengaturan jadi masalah karena jumlah motor banyak. Tapi, demi efisiensi (baca: irit), “Mbonceng aja!!” Alhasil, hanya dua motor yang menuju desa sasaran. Satu lagi menyusul.

Meski memikul misi minta maaf, anehnya beban tidak begitu terasa. Perjalanan malah terasa indah. Pemandangan sawah dan orang yang sedang membajak pun terlihat luar biasa. Gimana ya. Rasanya, mengalir aja, gitu…

Tiba di kantor desa sasaran, suasana masih sepi. Ada dua perangkat desa, berada di mejanya. Sementara, satu orang lainnya—yang tidak berpakaian perangkat—sedang tiduran di kursi panjang. Jabat tangan? Hal biasa. Senyum ramah? Sudah lumrah. Setelah basa-basi secukupnya, diperoleh keterangan, ibu lurah tengah berada di lokasi pameran pembangunan yang hari itu akan ditutup Bupati, katanya. Yooo…lah…

Segera, saya keluarkan buku agenda dari tas. Menyusul ballpoint. Sedikit menyampaikan maksud dan tujuan (tidak memperkenalkan diri lagi, wong sudah kenal!) kedatangan saya, selaku orang yang dituakan oleh teman-teman di kabupaten. Kami jelaskan pula, kunjungan ini merupakan hal rutin dalam rangka menggali informasi perkembangan kegiatan P2KP di masing-masing desa/kelurahan sasaran. Perkembangan meliputi pencapaian kegiatan yang telah dipahami maknanya, dukungan-dukungan dari berbagai elemen masyarakat maupun kendala-kendala yang muncul.

Dari pernyataan kunci ini, aparat yang menemani kami menyampaikan dengan lancar, pendapat secara pribadi sesuai tingkat pemahamannya. Dari awal kegiatan sampai akhir—dan saat penyampaian ini—secara tidak sadar beliau menyatakan sendiri, dengan permintaan maaf tadi malam, pelaksanaan Lokdes untuk penyepakatan hasil PS, tidak terlaksana karena ada mis komunikasi. 

Nah lho? Kok? Padahal tim dan saya berangkat dengan niat mau minta maaf kepada masyarakat. Lha kok sekarang malah teman-teman aparat yang minta maaf? Ada apa, nih? Wajah teman-teman tim juga terlihat bingung (dan lega!). Kenapa sih, kok malah mereka yang minta maaf ke kita-kita? Setelah dipancing dengan sedikit pertanyaan, muncullah jawaban yang ternyata tim juga baru tahu saat itu. Kegagalan acara Lokdes itu sudah diprediksi aparat. Menurut dia, petugas pembuat undangan sudah melaksanakan tugas dengan baik. Bahkan, lengkap mencantumkan alamat masing-masing undangan yang dituju.

Namun, karena tugas lain menumpuk, surat undangan dititipkan ke rumah salah satu dari tim 5 (sebutan untuk orang-orang yang banyak berperan sebagai motor penggerak relawan. Namun, ada beberapa yang dipandang masih ber-paradigma lama). Dengan harapan agar undangan bisa disebarkan sesuai alamat. Tapi, ternyata mereka tidak melakukannya. Tanpa alasan pula. Akhirnya, pada malam yang ditentukan, tidak satupun peserta Lokdes yang datang. Hanya satu yang datang. Siapa lagi kalau bukan si pembuat undangan! Dengan hati gondok, dia curhat kepada fasilitator yang menghadiri Lokdes malam itu, “Pasti undangan tidak disebar, nih.”

Barulah kami paham. Gagalnya Lokdes bukan karena kunjungan dari Jakarta dibatalkan dua hari sebelumnya. “Pembatalan kunjungan sih tidak pernah kami ambil hati,” kata aparat. Jadi, ada atau tidak kunjungan (dari Jakarta), tidak masalah.

Lega rasanya hati ini. Selain itu, teman-teman tim juga memperoleh pelajaran baru tentang kondisi masyarakat, dan karakteristik tokoh-tokoh yang berpengaruh di wilayah ini. Hikmah lain yang kami dapat, prasangka berlebih dapat membuat takut diri sendiri dalam melangkah, serta berujung pada pemikiran yang tidak jernih dalam menyikapi masalah. Untung saja kami tidak seperti itu. (Cerita oleh : Tim Fasilitator Wil. Kec. Sokaraja, Korkot 1, KMW 13, P2KP 2/2;nina)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.