Beranda Warta Cerita Srengat Punya Cerita, Lagi !

Srengat Punya Cerita, Lagi !

Comments (0) View (1384)

P

Pada kesempatan ini, Pusinfo menayangkan cerita kiriman Fasilitator Kelurahan (Faskel) KMW XVI, Haris Yuniarsyah yang bertugas di Srengat Blitar, Jawa Timur. Haris merupakan salah satu faskel yang paling aktif dalam menyumbangkan tulisannya kepada Pusinfo. Apalagi gaya penulisan Haris, khas dan menarik. Kami yakin, “penggemar” Haris sudah lama menanti tulisannya.

Intel Masuk Kampung?

“Mas, apakah nanti akan ada intel yang datang ke kampung kami?” Aku terhenyak mendengarnya. Kusimpan keterkejutanku dalam hati. Dengan sabar, aku berusaha mendengarkan apa yang sebenarnya ingin diutarakan bapak tersebut. “Memangnya kenapa, Pak? ” kataku, balik bertanya. Setengah penasaran.

“Begini, Mas. Misalnya kalau nanti dalam data orang miskin, ternyata sebenarnya dia nggak miskin..apakah nanti akan ada intel yang mengecek ke lapangan, Mas?” tutur si bapak.

“Oh.. Nggak, Pak. Jangan kuatir. Nggak akan ada intel yg masuk ke kampung Bapak. Karena, yg menentukan dan mengecek kebenaran warga miskin, adalah masyarakat sendiri,” jawabku. Gejala apakah ini?

Sekian Ratus Ribu Rupiah, untuk Sebulan

Siang itu aku bermain ke rumah seorang relawan. Dia bercerita tentang penghasilan seorang pamong di desanya. Aku pun mendengarkan dengan saksama. “Bayangkan, Mas. Pak Fulan itu gajinya cuma sekian ratus ribu untuk sebulan,” kata beliau. Minim sekali, pikir saya. “Apakah itu layak, Mas? Kasihan tho, Pak Fulan?” lanjut rekan relawan.

Jadi kalau Pak Fulan jarang datang ke kantor kelurahan untuk melaksanakan tugasnya, menurut aku, ya wajar saja. Barangkali Pak Fulan harus mencari pekerjaan lain untuk kebutuhan anak dan istrinya. “Tapi, yah...memang begitu Mas, kondisinya. Pak Fulan jadi terlihat kurang mengurusi masalah dusunnya,” kata rekan relawan lagi.

Mendengar cerita itu, aku hanya terdiam. Dari cerita yang beliau sampaikan, aku jadi kepikiran juga. Jadi, dalam satu bulan, Pak Fulan hanya menerima gaji sekian ratus ribu saja? Ah…………………. (Allah maha tahu)


Nikmatnya Keramahan

Jam tanganku menunjukkan pukul 19.30 WIB. Saat itu, hujan baru saja berhenti. Masih ada rintik hujan tersisa. Membuat udara terasa begitu dingin. Sepeda motorku berhenti di suatu gang. Aku melangkah mantap menuju rumah besar yang amat tenang. Kutambatkan hatiku di sana. Di sana, aku bertemu dengan si empu rumah. Dan, seorang perangkat desa yang lebih dulu datang bertamu.

Kubuka obrolan dengan acara Kajian Pemetaan Swadaya. Dan rencana pertemuan lanjutan bulan Agustus. Dari dalam ruang tengah, seorang ibu muda datang dengan membawa tiga cangkir kopi panas dan satu piring kue lumpur.

Ah, nikmat benar, pikirku. Dingin-dingin begini, ada kopi panas lagi! “Silahkan, Bapak-bapak,” ujar tuan rumah. Mempersilahkan aku dan tamu lainnya menikmati kopi panas dan kue lumpur. Tanpa disadari, suasana pun menjadi semakin akrab dan menyenangkan.

Terimakasih, atas ketulusan hati dan keramahan bapak relawan yang baik budi. Dan, trims atas kopi panas dan kue lumpurnya. (edit: nina)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.