Beranda Warta Cerita Bruaak! Relawan itu pun Terpelanting dari Sepeda

Bruaak! Relawan itu pun Terpelanting dari Sepeda

Comments (0) View (1084)

K

Kendal Doyong, awal oktober 2005. Suatu siang, seorang relawan P2KP berambut gondrong asyik mengayuh sepeda kumbangnya. Pria yang juga berprofesi sebagai penjahit itu hendak pulang, usai mengunjungi rumah orang tuanya. Malang, begitu memasuki desa tetangga, sepedanya ditabrak motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah Utara.

Bruaaaak!!! Sang bapak pun terpental dari sepeda. Tangan kirinya patah, dari telinga pun mengucur darah. Gegar otak ringan mendera kepalanya. Warga sekitar segera menolong dan membawa beliau ke rumah sakit. Ternyata, lukanya parah. Beliau mesti menjalani rawat inap selama dua minggu di rumah sakit. Selama itu pula, istri, anak, dan menantunya dengan sabar dan penuh kesetiaan menunggui beliau. Sampai akhirnya, sang bapak dinyatakan sembuh dan dokter memperbolehkannya pulang.

Beberapa malam setelah kejadian, aku lewat di depan rumah beliau. Pintu rumahnya tertutup rapat. Tak lagi terlihat mesin jahit atau gerakan kaki dan tangan beliau yang lincah, cekatan membuat kemeja pesanan langganan. Rumah sederhana di pinggir jalan raya itu tampak sepi. ‘Apa sang bapak belum pulang dari rumah sakit?’ batinku. Mengobati rasa penasaran, aku coba bertanya pada saudara beliau. “Memang belum pulang, Mas. Kemungkinan baru besok pulangnya,” jawab dia.

Seminggu berlalu, aku mendengar kabar dari relawan lain, bapak itu sudah pulang dari rumah sakit. “Tapi, sekarang beliau kehilangan kesadaran. Omongannya juga melantur,” jelas si relawan. Oh, begitukah? “Jadi bapak itu belum pulih ingatannya?” ulangku pada relawan tadi. ‘Kasihan benar bapak itu,’ desah batinku, ‘Tentunya beliau kehilangan penghasilan, karena usaha jahitnya harus berhenti beberapa bulan ini.’

Minggu berikutnya, sepulangku dari desa dampingan lain, aku melintasi rumah sang bapak. Aku sungguh terkejut ketika sang bapak segera mencegat laju sepeda motorku, tak lama beliau melihatku. Aku pun berusaha menghampiri beliau. “Ada apa, Pak?” tanyaku. Aku masih berpikir, saat ini ingatan beliau belum pulih.

Ternyata… “Alhamdulillah, Mas. Sekarang saya sudah sembuh. Saya sudah betul-betul sadar,” kata sang bapak gembira. “Tadi waktu saya duduk-duduk, saya melihat sepeda motor Mas lewat. Mendadak saya teringat kayaknya itu kok Mas. Akhirnya, saya coba mencegat Mas,” beliau meneruskan.

Mendengar itu, aku turut gembira. “Syukur, Alhamdulillah, kalau begitu, Pak. Memang saya dengar dari masyarakat, Bapak sedang sakit dan belum sadar,” hanya itu yang mampu kulontarkan di sela luapan kegembiraan.

“Betul, Mas, memang saya sempat kehilangan kesadaran, hampir dua minggu. Bahkan, saya sampai lupa arah kiblat. Tapi, sekarang saya sudah ingat, Mas. Saya juga sudah berkunjung ke rumah relawan lain untuk menunjukkan, saya sudah benar-benar sembuh,” tuturnya. “Oh ya, Mas. Kapan ada pertemuan P2KP lagi? Saya mau ikut lagi ya, Mas,” lanjut beliau, mendesak haruku. (Cerita oleh: Haris Yuniarsyah, Faskel KMW XVI, Jatim, P2KP 2/2; nina)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.