Beranda Warta Cerita Kisah Perjuangan Para Ibu, di Hari Ibu

Kisah Perjuangan Para Ibu, di Hari Ibu

Comments (0) View (2044)

M

Menyambut Hari Ibu 22 Desember 2005, Faskel KMW XVI, Haris Yuniarsyah—faskel favorit kita—yang bertugas di Srengat, Blitar, Jawa Timur menyumbangkan tulisan menyentuh tentang kasih sayang ibu yang tanpa pamrih. Jadi, rangkul dan ciumlah ibu (juga istri, sebagai ibu dari anak-anak) Anda semua, masing-masing. Tidak hanya hari ini saja, tapi setiap hari. Tidak lupa, Pusinfo juga mengucapkan selamat Hari Ibu untuk semua wanita Indonesia.

Kisah Sedih di Hari Ibu

“Ribuan kilo jarak yang kau tempuh, lewati rintangan demi aku, anakmu. Ibuku sayang, masih terus berjalan, walau telapak kaki penuh darah penuh nanah..”

Begitu, nyanyi gadis pengamen cilik—mengutip lagu milik Iwan Fals berjudul “Ibu”—di atas bus yang kutumpangi menuju Surabaya. Lantunan gadis kecil itu mengingatkan aku pada besarnya perjuangan seorang ibu. Ya, ibu kita telah banyak berjasa membesarkan kita, dengan mencurahkan segala kasih sayangnya, tanpa meminta balasan apa pun dari kita.

Jadi, betapa mirisnya melihat masih banyak ibu-ibu yang harus terus berjuang mencari nafkah demi kelangsungan hidup. Ibu-ibu yang hidup dalam kemiskinan dan berusaha keras memerdekakan diri dari kejamnya dunia. Ibu-ibu yang harus membanting tulang dalam ketidakberdayaannya.

Lamunanku buyar menyadari gadis cilik tadi turun dari bus. Disusul seorang ibu yang menggendong anaknya, naik ke dalam bus. Si ibu itu pun bernyanyi, memohon kemurahan hati penumpang agar memberikan sedikit uang recehan sebagai imbalan dari hiburan yang dipersembahkannya.

Ketika si ibu turun di Terminal Mojoangung, Jombang, aku melihat ada sekitar 7 orang ibu-ibu pengamen menunggu bus yang berhenti. Mata nanar penuh harapan melihat ke dalam bus. “Siapa tahu bisa mengamen”, mungkin itu yang mereka pikirkan. Salah satu ibu masuk ke dalam bus yang kutumpangi. Kemudian, dia bernyanyi dengan diiringi tape karaoke sederhana.

Ah, makin lama aku memikirkan sosok ibu, semakin aku melihat perjuangan para ibu itu. Di Hari Ibu ini, semoga kisah sedih yang dirasakan para ibu tadi segera berlalu. Juga, semoga kemiskinan yang menghimpit para kaum ibu, lambat laun hilang dan berganti dengan kebahagiaan. Selamat Hari Ibu… (edit: nina)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.