Beranda Warta Cerita Cerita Pilu Pemetik Kembang Kenanga

Cerita Pilu Pemetik Kembang Kenanga

Comments (0) View (3245)

B

Bening, awal Desember 2005. Seorang ibu tua bercerita tentang musibah yang menimpanya 2 tahun lalu.  Saat itu, ia berusaha memanjat pohon kenanga setinggi 11 meter yang tumbuh di belakang rumahnya. Beliau mempertaruhkan nyawa memetik kembang kenanga yang bergelantungan di ranting, demi menyambung hidup. “Kalau dijual ke pengepul, harga satu kilo(gram) kembang kenanga Rp3.000, sama dengan satu kilo(gram) beras,” jelas si ibu.

Sayang, hari itu dewi fortuna tidak sedang berpihak padanya. Saat si ibu berada di atas pohon, tiba-tiba kakinya terpeleset. “Bruukk!!” suara berdebam membahana seiring jatuhnya si ibu ke tanah. Tulang pinggul dan tangan kanannya patah. Dengan sisa kekuatannya, sambil mengerang kesakitan, beliau meminta tolong kepada saudaranya yang tinggal di samping rumah.

Untung saja beliau segera mendapat pertolongan, sehingga nyawanya terselamatkan. Dokter terpaksa dipanggil, karena kondisi tidak memungkinkan ibu tersebut pergi ke mana-mana. Selain pengobatan dokter, perawatan oleh ahli patah tulang pun dilakukan. “Alhamdulillah, Mas, kurang lebih dua bulan saya sudah sembuh total,” tuturnya. Tapi, pengobatan itu menghabiskan koceknya sebesar Rp1juta. ‘Kasihan sekali si ibu,’ batinku, ‘Uang tabungan hasil kerja keras sebagai pemetik kembang kenanga yang dikumpulkan, ditambah hutang sana-sini, habis untuk biaya pengobatannya’.

Miris, betapa si ibu mesti berjuang sendirian menghadapi sakit itu, karena beliau sudah 20 tahun menjanda akibat ditinggal kawin lagi oleh suaminya. Sementara, dua anak lelakinya tidak lagi tinggal bersama dia. “Anak pertama saya ikut bapaknya, jauh di luar kota. Sedangkan anak kedua, jauh merantau, mencari nafkah,” jelas si ibu.

Rumah beliau sangat sederhana. Lantai rumah dari tanah, dengan dinding terbuat dari gedhek. Meski hidup dalam kemiskinan, semangat pantang menyerah si ibu sungguh mengagumkan. Betapa tidak, begitu pulih beliau kembali melanjutkan aktivitasnya sebagai pemetik kembang kenanga. Tidak kapok kah? “Habis, mau gimana lagi, Mas? Kalau saya nggak kerja mengambil kembang, saya makan dari mana?” kata si ibu.

Aku mendesah. Beginilah potret kehidupan yang dijalani seorang pemetik kembang kenanga. Penuturan tadi hanya satu cerita dari sekian banyak cerita pemetik kembang kenanga yang menggantungkan hidup pada “kebaikan” pohon kenanga yang tingginya bisa mencapai 15 meter itu. Bermodal keberanian, sambil mempertaruhkan nyawa.

Kini, kembang kenanga hanya dihargai sekitar Rp2.500 per kilogram. Lebih murah dibandingkan dua tahun lalu. Hanya bisa panen dua kali sebulan. Bila bunganya rimbun, dalam sekali panen seorang pemetik kembang bisa mendapatkan 20 kilogram kembang. Tapi bila bunganya sedikit, hanya 5-10 kilogram.

Banyak-sedikitnya hasil pun tergantung keberanian si pemetik, untuk mengambil bunga di tempat tersulit! Semakin besar nyali si pemetik, semakin banyaklah hasil yang ia dapatkan. Namun, bagi pemetik yang tidak berani, maka hasilnya pun sedikit. Belum lagi, pemetik kembang yang bekerja untuk orang lain. Dalam hal ini, hasil yang didapatkan akan dibagi dua. Setengah untuk pemetik, setengah lagi untuk sang “juragan”. Tentunya, sang “juragan” tinggal menikmati hasil tanpa harus mempertaruhkan nyawa memetik kembang, pikirku.

Sebelum waktuku berpamitan, si ibu meneruskan ceritanya. “Mas, dua bulan lalu, sebelum lebaran, ada bapak yang tinggal di sebelah Utara desa sini. Dia juga jatuh dari pohon sewaktu memetik kembang (kenanga). Kasihan, Mas, bapak itu meninggal seketika,” kata si ibu. Aku termangu. “Enam bulan lalu, ada juga seorang bapak pemetik jatuh dari pohon, dia juga meninggal,” lanjut si ibu.

Kisah pilu pemetik kembang kenanga banyak menimpa kaum miskin. Mereka adalah bagian dari kehidupan kita. Realita yang ada di sekeliling, banyak dari kaum papa ini gugur, terjatuh dari ketinggian pohon kenanga tersebut.

Semoga Allah selalu memberi limpahan rejeki kepada para pemetik kembang kenanga, dan selalu mendapatkan perlindungan-Nya. Amin.

(Sebagaimana diceritakan oleh Ibu Siti di Dusun Bening, Kelurahan Togogan, Srengat, Blitar, pada Minggu, 11-12-2005. Ditulis oleh Haris Yuniarsyah, Faskel KMW XVI, Srengat, Blitar, Jawa Timur; nina)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.