Beranda Warta Cerita Potret Buruh Ternak Ayam

Potret Buruh Ternak Ayam

Comments (0) View (1617)

C

Cerita berikut adalah tulisan dari Faskel KMW XVI, Haris Yuniarsyah, yang bertugas di Srengat, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Menurut faskel yang sangat aktif menulis dan mengirim karyanya ke Pusinfo ini, tulisan tersebut dibuat pada 12 Juni 2005. Cerita bertutur tentang potret kehidupan buruh peternakan ayam. Tujuannya, agar mata pembaca terbuka dan menyadari pentingnya kepedulian terhadap sesama.

“Karena, di sekeliling kita masih begitu banyak masyarakat miskin yang hidupnya sangat menderita, terutama akibat perlakuan yang tidak manusiawi baik dari sang juragan maupun dari para pengambil kebijakan,” tulis Haris dalam emailnya kepada Pusinfo. Haris menegaskan, tulisannya tidak bermaksud mendiskreditkan pihak tertentu, melainkan fakta, dan berdasar pengalaman yang dialaminya selama bertugas di Srengat.


Potret Kehidupan Buruh Ternak Ayam

Hari itu, kami melakukan praktek pemetaan swadaya di salah satu desa dampingan. Salah satu kegiatannya adalah diskusi dengan masyarakat mengenai mata pencaharian yang ada di lingkungan mereka. Ada temuan yang menarik untuk dijadikan bahan refleksi dan perenungan, agar kita peka terhadap masalah sosial yang ada di lingkungan kita.

Dalam diskusi itu, terungkap suatu keterangan dari peserta, tentang sisi hidup seorang pekerja buruh ternak ayam yang keadaannya sungguh prihatin. Para buruh ternak ayam—mayoritas perempuan—bekerja pada pemilik ayam dengan jam kerja mulai 06.00 WIB hingga 16.00 WIB. Upah (kotor) yang diterima mereka hanya Rp.13.000 per hari. Mereka tidak mendapat jatah makan siang dari perusahaan. Maka, untuk menuntaskan rasa lapar, sang buruh harus pulang ke rumah.

Dalam satu bulan, buruh hanya diberi satu hari libur atau cuti. Bila buruh sakit, atau mengalami kecelakaan kerja, biaya pengobatan ditanggung sendiri. Dari perusahaan, tidak ada jaminan kesehatan atau kecelakaan kerja. Tidak ada ikatan kontrak kerja resmi antara buruh dengan majikan, sehingga posisi tawar buruh sangat lemah dan sewaktu-waktu dapat dipecat. Dengan begitu, apa yang diinginkan majikan (karena punya kekuasaan) buruh harus menurutinya. Sungguh memprihatinkan. Keadaan ini berjalan selama puluhan tahun!

Tapi, kenapa si buruh masih mau saja bekerja di perusahaan itu? Padahal perusahaan tidak mampu (mungkin tepatnya, tidak mau) memberikan pelayanan dan jaminan kerja yang memadai kepada para buruh. Rupanya, hal ini dikarenakan posisi buruh yang lemah. Kebanyakan dari mereka bahkan tidak lulus sekolah SD. Sehingga untuk mencari pekerjaan lain, sangat kecil peluangnya. Akhirnya, mereka harus rela bekerja di peternakan ayam, karena hanya perusahaan itu saja yang mau menerimanya. Namun keadaaan ini menjadikan si buruh sebagai obyek eksploitasi oleh sang majikan. Sedangkan bagi majikan, merasa beruntung karena si buruh adalah tenaga kerja murah.

Sungguh malang benar nasibmu buruh. Keadaan seperti ini harus kau alami selama bertahun-tahun, dan akan tambah menderita. Mungkin air mata kesedihanmu mengering sudah. Tiada kuasa dirimu mengadukan penderitaanmu kepada siapapun. Engkau hanya dapat berpasrah, meski dalam batin mungkin terselip harapan akan adanya manusia yang peka terhadap masalah ini. Jeritanmu meminta tolong tak terdengar, karena manusia disekelilingmu sengaja menutup rapat telinga mereka. Atau berpura-pura tak mendengar, karena asyik dengan kehidupan mereka sendiri.

Kondisi ini adalah suatu bukti ada ketidakberpihakan pemerintah terhadap nasib buruh, yang notabene adalah kaum miskin. Kalau saja ada perhatian pemerintah, tidak mungkin nasib buruh akan seperti itu. Kesejahteraan si buruh akan lebih meningkat dan keselamatan kerja lebih terjamin. Akankah dibiarkan seperti ini selamanya?

“Ya Allah, berikanlah perlindunganmu pada kaum papa, agar mereka terhindar dari kesengsaraan dan penderitaan, amin.. (edit: nina)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.