Si Miskin dan Sang Rentenir

Comments (0) View (2436)

D

Dua tahun yang lalu, di sebuah kampung pinggiran Surabaya, aku punya tetangga bernama Mbak Tiroh. Wanita yang hidup pas-pasan. Untuk kebutuhan sehari-hari saja, Mbak Tiroh tidak cukup hanya mengandalkan penghasilan suaminya yang hanya berprofesi sebagai tukang becak. Belum lagi, Mbak Tiroh memiliki dua anak kecil. Dalam mencukupi kekurangan tersebut, Mbak Tiroh terpaksa utang sana-sini. Bahkan, akhirnya Mbak Tiroh terjerat utang dari rentenir. “Jahatnya minta ampun,” kata Mbak Tiroh padaku.

Sang rentenir, sebut saja namanya Mbok Minah, rajin menagih uang yang ia pinjamkan kepada Mbak Tiroh. Sayangnya, setiap Mbok Minah menagih, Mbak Tiroh justru sedang tidak punya uang untuk membayarnya. Terpaksa Mbak Tiroh menghindar dan memberi alasan yang—tentu saja—tidak bisa diterima oleh Mbok Minah. Suatu pagi, ketika ayam tetangga Mbak Tiroh baru saja berkokok, Mbok Minah datang menagih utang. Rupanya hari itu Mbok Minah sudah habis kesabaran. Terjadilah pertengkaran antara kedua wanita itu.

“Peno iku yok opo sih, Roh? Wis wayahe mbayar, gak gelem mbayar-mbayar?” Mbok Minah tampak begitu emosi. (Artinya: “Kamu itu bagaimana sih, Roh? Sudah waktunya bayar, kok tidak mau bayar juga?”) “Sepuntene Mbok, bojoku wis suwe gak kerjo. Bojoku sik durung ndhuwe dhuwik, Mbok,” jawab Mbak Tiroh, lirih. (“Mohon maaf, Mbok. Suami saya sudah lama tidak bekerja. Suami saya belum punya uang, Mbok”)

“Peno iku isone janji-janji thok. Tapi, gak tau gelem bayar. Kapan? Kapan? Kapan, Roh mbayarmuuuuuuuuu?” Mbok Minah mencak-mencak. (“Kamu ini bisanya cuma janji-janji saja. Tapi, tidak pernah mau bayar. Kapan? Kapan? Kapan kamu mau membayarnya, Roh?) “Iyo, yo, Mbok. Tak bayar. Tak bayar. Tapi, sampeyan ojok mbentak-mbentak ngono lek nagih, iki sik isuk, Mbok?” Mbak Tiroh berusaha kalem. (“Iya, ya, Mbok. Saya bayar. Saya bayar. Tapi, anda jangan bentak-bentak seperti ini kalau menagih, ini kan masih pagi, Mbok?”)

Dikatakan begitu, Mbok Minah meradang. Dia malah makin kalap dan melontarkan umpatan dengan kata-kata kotor. “Wis, ojok kakean ngomong peno iku, Roh! Cepetan bayaren utangmu sak iki,” seru Mbok Minah. (“Sudahlah, jangan kebanyakan ngomong kamu itu, Roh! Cepat bayar utangmu sekarang.”)

Pertengkaran Mbak Tiroh dengan Mbok Minah membuat tetangga keluar dari rumah mereka masing-masing. Walau sudah berusaha dilerai, keduanya tetap saling ngotot. Akhirnya, karena merasa dirinya dihina dan diumpat, Mbak Tiroh menyerang dan menubruk Mbok Minah sekuat tenaga. Keduanya pun bergulingan di tanah sambil saling menjambak, mencakar, menarik baju, dan berdebat. Melihat keduanya makin menjadi-jadi, para tetangga semakin repot melerai. Sampai-sampai Pak RT turun tangan. Saat itulah, secara tak sengaja tangan Pak RT menarik jarik (kain batik) yang dikenakan Mbok Minah. Akibatnya, jarik Mbok Minah melorot ke tanah, tanpa dia sadari. Tak ayal, (maaf) aurat Mbok Minah pun terlihat.

Masih tak sadar, Mbok Minah memelototi Mbak Tiroh dengan gaya angkuh dan nafas ngos-ngosan. Dipelototi, Mbak Tiroh malah senyum simpul. “Lha opo, peno ngguyu? Cepet bayaren utangmu!” kata Mbok Minah lantang. (“Ngapain kamu senyum-senyum? Cepat bayar utangmu”)

“Iku lho, deloken awake sampean, jarike sampean melorot,” Mbak Tiroh mengingatkan. (“Itu lho, liat dirimu. Kainmu melorot.”) Mendengar itu, Mbok Minah tersentak kaget. Dia baru sadar, keadaannya setengah polos dengan aurat terlihat. Muka Mbok Minah merah padam, apalagi orang-orang di sekitarnya “menonton” dirinya sambil tertawa.

Secepat kilat Mbok Minah memakai kembali jariknya dan lari pulang, menahan malu. “Ealaah, Mbok, Mbok. Mangkane, lek nagih utang iku ojok isuk-isuk temen.” (“Makanya, Mbok. Kalau nagih utang jangan pagi-pagi buta.”)

Cerita ini memang kisah nyata. Meski kebetulan lakon dalam cerita ini adalah kaum hawa, namun jangan salah-artikan cerita ini sebagai bentuk pelecehan terhadap perempuan. Bukan itu maksudnya. Cerita ini justru berusaha menampilkan sisi kehidupan kaum miskin yang mesti berjuang melawan ketidakberdayaan. Terutama kaum miskin yang terjerat kekejaman rentenir. Jadi mohon maaf, bila isi cerita kurang berkenan di hati pembaca. (Haris Yuniarsyah, Faskel Srengat, Blitar, KMW XVI, Jawa Timur; nina)

0 Komentar