Beranda Warta Cerita Kemiskinan dan Kejahatan

Kemiskinan dan Kejahatan

Comments (0) View (2203)

S

Salah seorang teman saya bercerita tentang kejadian luar biasa yang menimpa seorang penghuni perkampungan kumuh, di pinggiran Kota Surabaya. “Pak Fulan tertangkap polisi untuk kesekian kalinya, saat sedang melakukan aksi kejahatan. Kaki dia ditembak agar jera dan tak mengulangi lagi aksinya,” kata teman saya mengawali cerita.

Sebenarnya, Pak Fulan sudah masuk target “mati” polisi. Tapi, karena polisi masih punya belas kasih, Pak Fulan pun diberi kesempatan untuk hidup. Sudah berulang kali Pak Fulan melakukan kejahatan. Berkali-kali pula dia masuk tahanan. Tapi anehnya, setiap kali Pak Fulan masuk penjara, tidak lama kemudian dia bebas. Aneh kan? “Dengar-dengar, Pak Fulan dan keluarganya melakukan penyogokan kepada aparat hukum,” bisik-bisik warga. Luar biasa!

Pak Fulan mempunyai seorang istri dan anak perempuan yang masih kecil. Sehari-harinya, Pak Fulan hanya bermain judi kartu, togel, atau adu merpati. Kalau menang, lumayan, bisa menyambung hidup. Kalau kalah, dia dan komplotannya melakukan aksi kejahatan agar mendapat uang. Tentunya, sebelum beraksi, Pak Fulan dan komplotannya sudah memperhitungkan resiko. Jika berhasil, uang berlimpah akan diperolehnya. Tapi, kalau gagal, hanya dua kemungkinan, tertangkap polisi atau dikeroyok massa. Nyawa taruhannya.

Namun, Pak Fulan tidak sendiri. Di kampung pinggiran Kota Surabaya masih banyak orang bernasib seperti dia. Kemiskinan yang menggelayuti warga pinggiran Surabaya, sangat memprihatinkan. Betapa hati ini miris, melihat seorang anak berusia 10 – 12 tahun berani bermain judi dan ikut-ikutan adu merpati. Mereka “belajar” mencuri, bicara kotor di tempat umum, tidak punya sopan santun dengan yang lebih tua, bahkan sudah berani main perempuan! Anak-anak ini berpotensi menjadi penjahat kelas teri, atau bahkan kelas kakap. Demikian pula dengan pemuda-pemudanya. Mereka hidup dalam ketidakpastian. Perilaku malas, judi, mabok-mabokan, atau pergi ke tempat “kupu-kupu malam” menjadi hal biasa bagi mereka. Pagi, siang, dan malam, hanya judilah yang mereka kerjakan.

Kemiskinan di kampung pinggiran Surabaya ini tak pernah habis. Generasi tua boleh mati termakan usia, namun generasi baru pasti muncul dan harus hidup dalam kemiskinan. Pekerjaan susah didapat, karena tingkat pendidikan mereka hanya sampai SD, bahkan banyak yang buta huruf.  Kehidupan yang kejam dan persaingan hidup membuat mereka menghalalkan segala cara.  “Yang penting bisa memberi makan anak istri. Tak peduli uang itu dari hasil kejahatan,” begitulah kata mereka.

Kemiskinan ini, tanggung jawab siapa? Minim lapangan kerja, tanggungjawab siapa? Bila moral tidak segera dibenahi, generasi muda ini bisa menjadi penjahat setiap saat. Jika tidak segera ditangani, cepat atau lambat, kita hanya bisa puas menyaksikan wajah mereka di acara Buser, Sergap, Patroli, Bidik, Borgol, dan lain-lain. Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat bertindak menyelamatkan generasi penerus. Jangan biarkan masa depan mereka terenggut, akibat kemiskinan menggelayut.

Kemiskinan di kampung pinggiran Surabaya menjadi sebuah perenungan, apa kita benar-benar peduli terhadap generasi penerus? Tidak pernah ada orang di dunia ini yang ingin menjadi penjahat, karena pada dasarnya manusia itu baik. Dalam hati yang terdalam, manusia pasti merindukan kejujuran, kebaikan, dan kemuliaan. Banyak sekali penjahat yang ingin kembali menjadi orang baik. Namun, karena sejarah kejahatan yang dilakukannya, masyarakat terus memandangnya sebagai orang jahat. Menyelamatkan satu generasi dari kehancuran adalah tanggung jawab kita semua.

Kemiskinan di kampung pinggiran Surabaya, adalah sebuah realita tentang perilaku manusia akibat kemiskinan yang menghimpit. Mungkin sebutan “Miskin Perilaku” pantas untuk melukiskan kemiskinan di sana. “Miskin Perilaku” ini—bisa jadi—ada pada diri kita sendiri, yakni karena kurangnya kepedulian terhadap sekitarnya.

Tulisan ini dipersembahkan untuk sang penjahat yang mungkin sekaligus pahlawan bagi keluarganya. Jika engkau membaca tulisan ini, semoga engkau sadar betapa pentingnya perilaku luhur. Masyarakat iba akan nasibmu, apalagi melihat anak-anakmu yang masih kecil. Tak selamanya kemiskinan membuat orang menjadi jahat. Banyak orang miskin yang hidupnya lebih mulia daripada mereka yang bergelimang harta. Justru, orang miskin ini bangga dengan satu-satunya harta yang dia miliki, yaitu kejujuran. Hanya dengan kejujuranlah yang bisa membuat kita lebih mulia, di hadapan manusia ataupun dihadapan Sang Maha Pencipta. (Haris Yuniarsyah, Faskel Srengat, Blitar, KMW XVI, Jawa Timur; nina)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.