Beranda Warta Cerita Kemiskinan Perenggut Kebahagiaan Keluarga

Kemiskinan Perenggut Kebahagiaan Keluarga

Comments (0) View (1294)

S

Sekitar setahun lalu, Pak Dullah tertangkap polisi karena menjadi pengecer togel. Hanya dua hari, dia mendekam di sel. Dengar-dengar, sang bos “menebus” Pak Dullah dengan uang jutaan rupiah. Belum sampai sebulan kemudian, Pak Dullah tertangkap lagi karena kasus yang sama. Kali ini, sang bos tidak mau menebus. Dia curiga, penangkapan yang kedua ini merupakan skenario yang sengaja dibuat antara Pak Dullah dengan pihak kepolisian.

Mendengar sang bos menolak mengeluarkan suaminya, Bu Dullah bersedih dan kebingungan. Dia pun berusaha mencari hutangan kesana-sini agar suami tercinta keluar dari penjara. Melalui perjuangan panjang dan tak kenal lelah, akhirnya Bu Dullah berhasil mendapatkan uang pinjaman dari para tetangga dan saudara-saudaranya. Usai menghitung-hitung jumlah rupiah yang nantinya akan diberikan kepada polisi, Bu Dullah bergegas ke kantor polisi. Rasa malu pun dikesampingkan.

Ternyata, kemiskinan yang menghimpit keluarga Pak Dullah membuat dua anak laki-lakinya mengikuti jejak si bapak. Agus, putra pertama mereka yang masih berusia 18 tahun, dua bulan lalu juga tertangkap polisi karena ketahuan mencuri sepeda pancal. Akibatnya, Agus mendekam di penjara. Masa depannya pun tampak suram. Padahal, menurut teman-teman sekolah, sebetulnya Agus sangat ingin sekolah hingga lulus SMU. Agus berharap, setelah lulus SMU nanti, dia akan bekerja agar bisa membantu perekonomian keluarganya. Tapi, biaya pendidikan yang tinggi tidak mampu dijangkau oleh penghasilan kedua orangtuanya. Maka, Agus hanya puas sebagai tamatan SMP.

Agus, si anak pendiam itu pun berangsur berubah menjadi anak liar. Agus mulai bergaul dengan orang-orang yang “miskin perilaku”. Akhirnya, Agus tumbuh jadi pemuda yang gemar berjudi, adu merpati, minum-minuman keras, nyabu, dan mencuri. Seharusnya sosok pemuda seperti Agus masih mempunyai hak menikmati masa mudanya dengan penuh kebahagiaan. Namun, kemiskinan menghadapkan pemuda ini pada pilihan yang tersulit. Sayang, Agus memilih menjadi orang jahat. Mungkin dia pikir, dengan menjadi orang jahat, uang akan didapat dengan mudah. Dia tak ingin lagi jadi orang miskin. Karena, kemiskinan membuat dirinya, dan keluarga, menderita.

Sebelumnya, adik Agus, Pa’i, juga pernah mendekam di penjara karena kedapatan mencuri barang dagangan salah seorang Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang Jalan Tugu Pahlawan, Surabaya. Tapi, sejak menikah dan punya momongan, Pa’i bertobat. Apalagi, istri Pa’i memintanya menjauhi kejahatan, demi anak mereka.

Sungguh malang nasib Pak Dullah. Hanya dalam kurun waktu setahun, tiga anggota keluarganya harus merasakan hidup dalam penjara. Jika saja kemiskinan tidak menghimpit, Pak Dullah dan anak-anaknya mungkin bisa hidup dalam kebahagiaan. Tapi, kini keluarga itu harus menanggung malu di hadapan tetangga sekitar. Menahan perasaan akibat cibiran dan sindiran yang terus berkumandang tiada henti. 

Begitulah, betapa kemiskinan merenggut kebahagiaan suatu keluarga jika tidak disikapi dengan bijak. Menyikapi kemiskinan dengan penuh syukur atas nikmat yang dikaruniakan Sang Maha Pencipta, disertai keimanan yang kuat, akan membuat keluarga menjadi harmonis, penuh cinta, dan kasih sayang. Hanya “miskin perilaku”-lah yang membuat kita terjerumus dalam lembah nista dan penuh duka, bahkan mendekam di penjara.

Ini hanya segelintir gambaran kemiskinan yang terjadi di pojok kampung pinggiran Kota Surabaya. Ada satu kerinduan yang singgah di hati ini. Yakni, kerinduan akan sirnanya kemiskinan, terutama di pinggiran kampung Kota Surabaya. Semoga lekas datang kebahagiaan yang mampu mengganti kesedihan keluarga yang didera kemiskinan. ‘Hanya Allah Yang Maha Tahu’. (Haris Yuniarsyah, Faskel Srengat, Blitar, KMW XVI – Jawa Timur; nina)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.