Beranda Warta Cerita Longsor di Kumel Nyaris Timbun Tim Faskel

Longsor di Kumel Nyaris Timbun Tim Faskel

Comments (0) View (1374)

S

Senin 13 Februari 2006, sore itu hujan deras mengguyur Kota Tomohon. Namun, hal itu bukan halangan bagi Tim 13 untuk tetap bertugas mendampingi masyarakat. Tanpa rasa waswas, tanpa firasat buruk, kami melanjutkan perjalanan ke Kelurahan Kumelambuai (Kumel). Semua berjalan lancar meski hujan tetap deras.

Kami sedang dalam perjalanan pulang dari Kumel, tiba-tiba saja tanah di depan mobil yang kami kendarai, longsor. Kami pun memutuskan untuk kembali ke Kumel. Tapi, di luar dugaan, tebing di belakang mobil kami juga turut longsong. Kami pun terjebak di tengah-tengah longsoran tanah. Di tengah kebingungan itu, dua personel dari Tim Faskel, Fajar dan Dani, berinisiatif segera berlari ke kampung terdekat menerobos runtuhan tanah untuk meminta pertolongan masyarakat. Sementara, Faskel lainnya, Sam dan Paula, menunggu di dalam mobil, karena hujan deras.

Sekitar 15 menit kemudian, Fajar dan Dani kembali ke lokasi kejadian, bersama sejumlah masyarakat sekitar, sambil membawa cangkul dan parang. Berkat usaha keras dan kerjasama masyarakat Kumel, akhirnya kendaraan kami dapat melewati longsoran tanah di depan kami. Kendaraan segera dipacu, bergegas pulang. Tapi, belum semenit kami melaju, di depan kami terjadi lagi longsoran yang jauh lebih besar dan tak bisa kami lewati. Satu-satunya cara, kami segera mencari tempat yang aman guna menghindari longsoran tanah.

Kami bertahan di dalam mobil, karena di luar masih hujan deras. Kecemasan akan adanya longsoran baru, menyelimuti kami. Ditambah, udara dingin menggigit di ketinggian (gunung), apalagi pakaian kami basah akibat kehujanan tadi. Beberapa masyarakat yang melintas di dekat mobil kami mengatakan, ada empat orang yang jatuh ke jurang. Mereka adalah Pala 1, Pala 4, Sekdes, dan Wakil Pala yang tadi membantu warga membersihkan longsoran agar dapat dilewati pejalan kaki. Masyarakat sekitar sudah berkumpul dan menangisi mereka. Namun, syukurlah, keempat orang itu selamat meski badan mereka dipenuhi luka gores dan memar akibat benturan.

Detik jam terus berjalan. Kami yang berada di dalam mobil dan tengah menggigil kedinginan, justru tak merasa waktu bergerak. Dalam hati, kami terus berdoa. Kami juga berupaya mencari bantuan melalui telepon genggam (HP). Kami mencoba menghubungi TL, Korkot, dan masyarakat Kumel serta Rurukan. Tapi, bantuan mereka terhalang oleh longsoran berat itu.

Sekitar pukul 22.30 WITA, sejumlah masyarakat Kumel akhirnya tiba di tempat kami, hampir bersamaan dengan datangnya teman-teman dari Rurukan. Kami sempat berdiskusi di bawah rintik hujan dan udara dingin menusuk tulang. Kami memutuskan untuk kembali ke Kumel dan bermalam. Karena, bila kami melanjutkan ke Rurukan, rute yang akan ditempuh jauh lebih berat. Dengan diiringi puluhan masyarakat Kumel, kami berjalan di tengah gelapnya malam, menyusuri jalan yang tertimbun longsor tadi. Dengan rasa suka cita, kami akhirnya tiba di Kumel dan bermalam di sana.

Keesokan paginya, kami dan masyarakat beramai-ramai membersihkan jalan dari longsoran tanah dan reruntuhan batu dengan semangat mapalus (gotong royong). Kemudian, kami meninggalkan Kelurahan Kumelembuai sekitar pukul 11.00 WITA, menuju Rurukan, berjalan kaki, karena jalan masih berbahaya untuk dilalui kendaraan. Maka, mobil pun dititipkan sementara kepada masyarakat setempat.

Tiba di Rurukan, kami dijemput oleh Korkot yang selanjutnya mengantar kami ke kantor Korkot. Kami diliputi keharuan akan kepedulian rekan-rekan atas kejadian semalam di Kumel. Kejadian itu pun tinggal kenangan, karena tugas selanjutnya sudah menanti. (Fajar, SF Korkot 3 Kota Tomohon, KMW V Sulut, P2KP 2/1; nina)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.