Beranda Warta Cerita Jeritan Hati Adin

Jeritan Hati Adin

Comments (0) View (1278)

<

Gadis cilik ini bernama Adin Kalimatus Sakdiyah. Adin, panggilan akrabnya. Bapak Adin, seorang petani yang penghasilannya belum tentu cukup untuk membuat Adin dan adiknya menikmati pendidikan yang lebih baik.

Pada suatu malam, ketika hujan baru saja berhenti, aku melihat Adin tengah membimbing adiknya belajar di ruang tamu yang hanya diterangi lampu tempel itu. Adin duduk rapat di samping si adik. Dia mengajari adiknya dengan penuh cinta, kesabaran, dan kasih sayang, agar si adik menjadi anak pintar. Adin tentunya juga berharap dan berdo’a agar si adik kelak bisa menikmati pendidikan yang lebih baik dibanding dirinya. Adin baru menamatkan pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah. Seharusnya tahun ini sudah bisa sekolah di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Tapi, sungguh malang. Karena ketidakmampuan orangtua Adin untuk membiayai sekolah, maka Adin pun hanya bisa diam di rumah.

Adin hanya bisa melihat teman-teman seusianya berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu, dengan tatapan sedih. Kerinduan akan indahnya dunia pendidikan hanya sebuah impian yang terus berkumandang di dalam hati gadis cilik ini. Adin hanya bisa pasrah menerima nasibnya. Dia tidak pernah tahu kapan kerinduan itu akan menjadi kenyataan.

Kasihan engkau, Adin, diusia semuda ini harus kehilangan kebahagiaan karena kemiskinan. Teman-teman seusiamu dari kalangan mampu, dengan mudah menggenggam kebahagiaan mengenyam pendidikan yang mereka inginkan. Mereka yang mampu tidak akan mempermasalahkan biaya SPP anak-anaknya yang mencapai jutaan rupiah per bulan. Anak-anak keluarga mampu bisa mendapat uang saku yang besar tiap bulannya, ditambah fasilitas telepon genggam, dan sopir pribadi. Begitu si anak pulang sekolah, tinggal telepon sopir, dan dalam sekejap, meluncurlah mobil mewah yang siap membawa si anak pulang ke rumah.

Lain halnya dengan Adin dan jutaan anak miskin lainnya. Mereka hanya bisa bermimpi tanpa pernah tahu kapankah impian buruk itu akan berakhir. Ironis. Kerinduan yang menggema dalam hati Adin dan jutaan anak miskin lainnya di bumi Indonesia tercinta ini, terungkap dalam sebuah harapan yang dinanti dan keluguan yang merintih.

“Lihatlah kami disini. Kami, bagian dari jutaan anak miskin yang punya cita-cita. Namun, cita-cita itu tak akan pernah terwujud jika engkau tak pernah mencintai kami. Kami ingin menggapai cita-cita itu, walau harus dengan perjuangan maha berat. Tak peduli orang tua kami miskin, kami akan siap meraih cita-cita itu. Tapi, apa karena miskin, maka kami tidak bisa menikmati pendidikan yang lebih baik? Dan, apakah karena miskin, maka kami harus kehilangan masa depan yang kami dambakan?

Tolong perhatikan nasib kami, perhatikan masa depan kami. Jangan biarkan kami tumbuh dewasa dengan bayangan hidup dirundung derita. Jangan biarkan ketika kelak kami dewasa, hanya bisa menjadi buruh tani saja. Jangan biarkan ketika kelak kami dewasa, hanya bisa hidup menjadi buruh cuci di negeri tetangga. Katanya Indonesia ini kaya raya? Gemah Ripah, Loh Jinawi pula? Ungkapan itu tak pernah terbukti. Karena saat ini kami, jutaan anak miskin di negeri ini, tak bisa menikmati pendidikan yang memadai.

Kembalikanlah cinta dan kepedulian yang kalian miliki kepada kami. Berikanlah cinta dan kepedulian itu. Kami, jutaan anak miskin di negeri ini menunggu dengan penuh harap. Jangan biarkan masa depan kami terenggut hanya karena kalian tak pernah peduli dan pura-pura tak tahu akan nasib kami. Indonesia memang negeri yang kaya, tapi kami lebih merindukan orang dengan hati yang kaya. Srengat, 14 Pebruari 2006. “Dipersembahkan buat Adin dan jutaan anak miskin lainnya. Semoga cepat atau lambat kalian segera menemukan kembali kebahagiaan untuk bisa menggapai cita-citamu”. (Haris Yuniarsyah, Faskel Srengat, Blitar, KMW XVI, Jatim; nina)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.