Beranda Warta Cerita Pohon Kutebang, Jalan Kujelang

Pohon Kutebang, Jalan Kujelang

Comments (0) View (1906)

A

Anggapan P2KP luar Jawa sama dengan konsep perkotaan seperti yang ada di tahap 1/1, 1/2 atau 2/2 tampaknya keliru. Tapi, di manapun berada, P2KP memang mampu melibatkan banyak orang meski dari segi dana relatif tidak lebih besar dari dana program sejenis sebelumnya. Ini terbukti di Kota Ngabang, ada relawan yang bersedia mengeluarkan ongkos ojek Rp 30.000 sekali jalan, demi mengikuti rapat di pusat desa. Sejumlah relawan lain malah berjalan kaki, karena memang tidak ada alternatif lain.

Desa Amboyo Utara, sebagai salah satu desa di Kecamatan Ngabang, memang terletak di jalur sutra yang jaraknya hanya sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Tapi, jangan tanya di mana ujung dusunnya. Maklum, sebagian besar wilayah Desa Amboyo Utara merupakan area perkebunan sawit. Bahkan, TA Sosialisasi KMW 1 pernah tersesat ketika memandu pelatihan di desa tersebut. Semua itu karena belum adanya akses jalan dari dan ke desa. Berjalan kakipun agak sulit, apalagi bila sebelumnya wilayah Desa Amboyo Utara diguyur hujan.

Hadirnya P2KP membuat tokoh masyarakat setempat, Pak Sela, bersemangat. Pak Sela bersama dengan beberapa teman dari dusun lain tampak aktif sejak pelatihan relawan, hingga terpilih menjadi pengurus BKM. Dalam Pemetaan Swadaya (PS) sudah jelas, ketiadaan jalan yang layak merupakan sebuah masalah. Maka, Pak Sela dan kawan-kawan berupaya mengubah keadaan dengan memperjuangkan pendapat, jalan harus dibuat. Meski dalam benak, Pak Sela tahu, jalanan tersebut tidak akan mungkin terbangun hanya dengan dana Rp 10juta sumbangan dari P2KP.  Tapi, terbayang olehnya, sulitnya mengawal warga yang sakit keluar dari dusun itu. Dia berpikir, kapan lagi program jalan tersentuh?

Betapa senangnya Pak Sela, ketika usulannya lolos dalam perencanaan. Pembangunan jalan pun dilaksanakan secara gotong royong. Pak Sela sendiri turun tangan dan menegur warganya yang mangkir dari kerja bakti, karena kebanyakan warga lain bersemangat mewujudkan jalan ke desa mereka itu. Meski demikian, air matanya meleleh juga ketika sejumlah pohon durian, pohon karet, dan pohon tengkawang harus ditebang demi jalan tersebut. Apalagi, keluarga si pemilik pohon-pohon tersebut merengek agar jangan sampai perkebunan yang menopang hidup mereka itu dibabat. “Perjuangan perlu pengorbanan,” kata Pak Sela kepada mereka. Belum lagi, warga yang mesti berkorban tanah—tanpa ganti rugi—sepanjang 6 km dengan lebar 4 meter itu.

Menyaksikan semangat rela berkorban ini, Robi Gunawan (Senior Faskel Tim 6) pun nyaris menitikan air mata. Kini, kerja gorong-gorong dan jembatan memang belum rampung. Masyarakat hanya berharap ada lagi pihak yang peduli keadaan itu. Siapa tahu, pemerintah mau peduli. Seperti dikisahkan Pak Sela kepada Robi. (Korkot 2 Landak, KMW 1 Kalbar; nina)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.