Beranda Warta Berita Faskel, Peran Pemda, PJM Pronangkis, Image dalam P2KP

Faskel, Peran Pemda, PJM Pronangkis, Image dalam P2KP

Comments (0) View (1055)

Eksistensi faskel terjun ke masyarakat untuk membawa visi dan misi proyek menjadi ujung tombak. Masalahnya, tak sedikit faskel yang terjun ke masyarakat ini belum memenuhi standar kualitas. Masalah ini tampaknya dima’fumi oleh Bank Dunia (World Bank), tak heran kalau si “pendana” ini kemudian melempar gagasan: membekali peralatan komunikasi kepada faskel agar kinerjanya lebih meningkat. Namun gagasannya ditepis Project Management Unit (PMU) Dany Sutjiono. Apa masalahnya?

 

Fenomena itu diungkapkan sendiri oleh Dany ketika memberikan sambutan pada acara rapat koordinasi (Rakor) Konsultan Manajemen Pusat (KMP) yang digelar di Hotel Atlet Century Park Jakarta, 29 hingga 31 Juli.

 

Menurut Dany, alasan ketidaksetujuan untuk melengkapi peralatan komunikasi bagi faskel dalam menjalankan tugasnya kerana dirasakan tidak perlu. Lebih baik membekali ilmu sesuai dengan tujuan dan arah yang ingin dicapai dalam proyek ini. “Untuk apa melengkapi peralatan faskel, lebih baik kita berikan ilmu sesuai dengan tugas dan fungsinya dengan sebaik-baiknya agar tujuan proyek ini berhasil,” tegas Dany jelas.

 

Menyoroti Beberapa Masalah

Lebih jauh Dany menyoroti beberapa masalah penting dalam menjalankan arah kebijakan proyek. Masalah tersebut salah satunya mengenai eksistensi PMU dan Pimpro P2KP. “Komandonya ada pada kedua ini (PMU dan Pimrpo. Red), bukan dari pihak lain,” jelasnya.

 

Ia berharap pelaku P2KP harus memiliki prinsip dan sikap yang tegas agar jangan sampai terjadi dualisme panutan. Untuk itu bagi setiap Regional Manager (RM) kalau akan menerima kegiatan dari pihak luar seharusnya melewati lebih dulu kepada PMU dan Pimpro. “Karena kami di sini sebagai komandonya,” tegasnya lagi.

 

Meningkatkan kapasitas peran Pemda juga menjadi tema hangat dalam Rakor tersebut. Selama ini, lanjut Dany, selaku PMU pihaknya telah memikirkan bagaimana memberdayakan aparat Pemda. Sementara Pimpro juga memikirkan meningkatkan pemberdayaan kepada masyarakat. “Nah dari kedua sisi ini nantinya akan tercipta keseimbangan antara Pemda dan masyarakat. Kita tahu selama ini memang titik beratnya kepada pemberdayaan masyarakat saja. Untuk itu saya ingin menitipkan “pe-er” kepada Advisory untuk merumuskan bagaimana meningkatkan kapasitas aparat Pemda dan juga masyarakat,” pintanya.

 

Bagaimana untuk memberi jalan pemerintah dalam memfasilitasi Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). “Ini yang harus kita ke depankan dalam  menjalankan P2KP 2 ini. Untuk itu, sambil berjalan kita menggandeng Pemda seperti lurah, PJOK dan sebagainya. Kita juga meningkatkan komunitas belajar kelurahan dengan cara mempertemukan lurah dan masyarakatnya atau bisa juga merangkul pegawai negeri untuk menunjang belajar komunitas kelurahan,” paparnya.

 

“Kita juga harus melihat bagaimana peran Pemda menyusun Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD). Kalau Pemda sudah bisa menyusun SPKD itu artinya kan Pemda sudah mempedulikan dengan kemiskinan. Hampir semua Pemda mempunyai dana untuk masyarakat, tapi Pemda tidak mempunyai program yang jelas. Kalau kita bisa memberikan program kita maka Pemda lah yang akan meneruskan ke masyarakat terhadap program kita ini,” kata Dany.

 

Sementara untuk meningkatkan komunitas belajar perkotaan, setidaknya harus melibatkan masyarakat, Pemda dan kelompok peduli. Dengan keterlibatan mereka itu diharapkan bisa meningkatkan komunias sosial yang lebih baik.

 

 

PJM Perlu Perbaikan

Menyoal PJM Pronangkis sampai pada P2KP 1 Tahap 2 ini tampak masih minim sekali karena itu perlu diperbaiki. Dany minta bagi KMW untuk memperbaiki PJM Pronangkisnya agar lebih komprehensif. Ia berharap PJM bukan hanya sebagai petunjuk operasional pemanfaatan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) saja. “Nuansa yang kita lihat, BKM terbentuk hanya untuk mewujudkan PJM saja. Tolong perbaiki PJM ini sebaik-baiknya. Untuk semua RM P2KP 1 Tahap 2, saya minta memperhatikan dalam menyusun PJM, karena kalau melihat pengalaman pada P2KP 1 Tahap 1 kita sudah kecolongan makanya PJM-nya gagal.”

 

Selain itu Dany juga menyinggung masalah image P2KP kepada masyarakat. Menurutnya nama P2KP belum merakyat karena sosialisasinya masih kurang. Nuansa semacam ini berdasarkan pengalaman Dany ketika berkunjung ke daerah Sidoarjo Jawa Tengah. Pada kesempatan itu ia menanyakan kepada salah seorang penerima dana pinjaman. Ketika ditanya dari mana asal dana pinjaman, seseorang itu tidak tahu siapa pendananya. “Saya tanyakan: pak dapat pinjaman dari mana? Nggak tahu, saya terima dari bapak itu…,” papar Dany menirukan penerima dana pinjaman di Desa Sedoarjo itu. Untuk meningkatkan kesadaran dan image P2KP kepada masyarakat, Dany minta kepada semua RM hingga pada KMW agar memperhatikan masalah tersebut. (ww)

 

 

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.