Beranda Warta Berita Menengok Sejenak Eksistensi KSM

Menengok Sejenak Eksistensi KSM

Comments (0) View (942)

Agaknya tidak berlebihan bila Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) menjadi pilar utama dalam menggelindingkan roda usahanya. KSM juga bisa disebut sebagai akar rumput yang menjadi sasaran utama sebagai motor penggerak guliran dana yang digelontorkan melalui program P2KP. Itu sebabnya, tak salah bila melalui kelompok usaha kecil itu lah sekaligus bisa menjadi cerminan apakah guliran dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang mereka terima dimanfaatkan tepat sasaran atau belum. Karena melalui kelompok usaha itu---Pemerintah dengan P2KP-nya---manaruh harapan besar agar mereka bisa mengangkat harkat dan martabatnya sendiri.

Eksistensi KSM tentu tak lepas dari seberapa jauh kiprah dan tanggungjawab Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) sebagai kelembagaan masyarakat yang penuh dengan orang-orang baik itu. Untuk itu kredibilitas dan sepak terjang setiap BKM dalam mengejawantahkan visi-misi serta nilai-nilai luhur dan prinsip yang diamanatkan dalam P2KP harus dijalankan dengan sebaik-baiknya pula. Agar, keinginan menuju masyarakat madani bisa segara terwujud.

Persoalannya bukan hanya tertumpu pada kredibilitas ataupun manuver BKM  dalam mengendalikan KSM saja, tapi ---sejauh ini yang “menyedihkan” lagi--- iklim yang rerjadi: KSM tak lebih sebagai kumpulan “kelompok” peminjam uang. Bahkan selama ini pula, “disinyalemen” KSM cenderung berorientasi pada usaha di bidang ekonomi semata. Tidak lebih dari itu. Kalau pun kencenderungan sinyalemen itu benar adanya, lalu siapa yang salah?

Inilah realita yang terjadi di lapangan: KSM tak lebih sebagai kumpulan peminjam
uang. Yang pasti, wacana semacam ini mengemuka dari para “pemikir” ketika  digelar Rapat Koordinasi (Rakor) Konsultan Manajemen Pusat (KMP) yang telah berlangsung di Hotel Atlet Century Park Jakarta akhir Juli silam. Kenapa dan bagaimana bisa terjadi?

Sekilas pertanyaan itu mudah untuk sekadar dijawab. Namun bila ingin menjawabnya, tentu dibutuhkan kearifan tersendiri agar bisa diterima oleh setiap orang dengan kearifan pula. Kearifan itu tampaknya sudah tercermin malalui kejujurannya ketika menjawab masalah yang mencul dalam Rakor itu. Sebenarnya di buku panduan umum dan teknis P2KP maupun di term of reference (TOR) tidak satu pun mencantumkan tentang pembinaan kegiatan KSM. “Saya tidak pernah melihat di buku panduan atau TOR yang menekankan tentang pembinaan KSM,” jelas Pimpro P2KP Arianto, ketika itu.

Esensi jawaban itu sebenarnya mengandung makna yang sudah jelas. Bahwa dalam mengemban tugas P2KP memang tidak sampai memberikan pembinaan kegiatan kepada akar rumputnya, yaitu KSM. Namun lebih menitikberatkan pada bagaimana bisa meningkatkan dayaguna BKM dalam menjalankan peran dan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Nah BKM inilah yang selanjutnya akan memenej KSM-KSM-nya.

Menyoal alasan kenapa tidak ada pembinaan kegiatan KSM? Bisa jadi jawaban yang paling mendekati adalah: bisa menjadi bumerang bagi Proyek P2KP. Pasalnya, kalau KSM masuk dalam cakupan tanggungjawab proyek P2KP, bisa dipastikan: tidak akan sanggup. Karena ribuan KSM tersebar di seluruh wilayah sasaran, belum lagi kalau P2KP 3 mulai berjalan. Ini berarti pembinaan kegiatan KSM di seluruh wilayah Indonesia harus memperoleh perhatian khusus dari Proyek P2KP. “Tenaga kita terbatas, pekerjaan luas sekali. Kita tidak sanggup,” tegas Arianto lagi.

Andaikata Proyek P2KP dibebani membina kegiatan KSM di lapangan, lalu apa yang perlu disiapkan oleh Proyek agar dalam pembinaannya nanti bisa berjalan sesuai yang diharapkan? Padahal kegiatan KSM itu sifatnya lebih ke masalah operasional, contohnya, bagaimana cara meminjam dana, bagaimana memanfaatkan dana. Belum lagi masalah keterampilan seperti bagaimana cara menganyam, mengukir, memasarkan hasil produksi dan sebagainya. Kegiatan itu semua melibatkan keahlian dan keterampilan khusus. “Mampukah kita menangani kegiatan KSM seperti itu? Apakah kita memiliki skill (keahlian—Red) di bidang pemasaran, kerajinan tangan, dan pemasaran dan lain sebagainya? Kita tidak punya skill. Kenapa? Karana kita memang tidak mempersiapkan sampai ke tahap itu (pembinaan kegiatan KSM—Red), makanya kita tidak membantu kegiatan sampai ke KSM. Jangan sampai tugas pokoknya terbengkalai karena terlalu banyak membina kegiatan KSM. Tugas Pokok kita sudah berat,” paparnya jelas.

Indikasi tidak dilibatkannya tugas dan tanggungjawab proyek P2KP sampai kepada pembinaan kegiatan KSM sebenarnya juga bisa melihat potensi yang dimiliki oleh para fasilitator. Itu sebabnya ketika merekrut fasilitator, menejemen tidak mencari fasilitator yang memiliki kecakapan keterampilan seperti keahlian-keahlian yang dimiliki personel pada anggota KSM tersebut.

Biarkalah KSM itu bergerak sesuai dengan usaha yang mereka geluti, selama KSM itu memiliki tanggungjawab dan memenuhi kewajibannya terhadap BKM. Biarlah pula BKM yang telah dipercaya sebagai kumpulan orang-orang baik itu mengatur sesuai “rule” yang benar dan jelas demi kelancaran KSM yang dibinanya. Harapan ke depan, terciptanya masyarakat madani dengan tetap menjunjung tinggi prinsip dan nilai-nilai luhur yang di “amanahkan” melalui Proyek P2KP ini. (Editor: Wahyudi Wibowo)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.