Beranda Warta Kliping & Newsletter Inspirasi Inovasi dan Komitmen Pemkot Bitung

Inspirasi Inovasi dan Komitmen Pemkot Bitung

Comments (0) View (1539)
Oleh:
Feidy J. Kemur
Koordinator Kota Bitung 
OSP 8 Provinsi Sulawesi Utara 
Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh)

Keberadaan Program KOTAKU mendapat perhatian khusus dari Pemerintahan Kota Bitung saat ini. Bagaimana tidak, para pemimpin kota ini adalah orang-orang yang peduli dengan pemberdayaan masyarakat dan sudah terlibat aktif saat program ini masih bernama PNPM Mandiri Perkotaan. Wali kota dan wakil wali kota sebagai nakhoda di kota yang memiliki 69 kelurahan dan 8 kecamatan ini menberi perhatian khusus terkait keberadaan Program KOTAKU.

Hal baik tersebut menjalar sampai ke SKPD di bawahnya, bahkan hingga ke tingkat kelurahan. Walau disadari, transisi kepemimpinan dari SKPD sampai ke perangkat kelurahan saat ini jadi tantangan tersendiri dari segi bagaimana memberikan pemahaman yang sama terkait dengan Program KOTAKU.

Berikut akan kami ceritakan Pemerintah Kota “Cakalang”—sebutan lain untuk Kota Bitung—dalam mendukung Program KOTAKU dan menelurkan inovasi kreatif terkait program ini menuju 0% kumuh di tahun 2019 nanti, sekaligus memberikan kenyamanan masyarakat yang tinggal di kota ini.

Sebuah Komitmen dari Pemimpin Daerah

Maximilian Jonas Lomban, Wali Kota Bitung terpilih saat ini, adalah seseorang yang sudah lama memahami Program KOTAKU. Tepatnya, sejak ia masih menjabat sebagai wakil wali kota pada periode sebelumnya. Perhatiannya telah begitu besar terhadap program ini.

Beberapa usaha yang dilakukan dalam rangka menyukseskan program berbasis masyarakat ini adalah dengan berangkat langsung, bertemu dengan pihak Kementerian PU dan Konsultan Manajemen Pusat (KMP) guna membicarakan minat dan keberlanjutan PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Bitung. Saat itu Maximilian sedang menjabat sebagai wakil wali kota sekaligus Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD).

Saat itu ia berkoordinasi dengan pimpinan DPRD, yang juga Ketua Komunitas Belajar Perkotaan (KBP) Maurits Mantiri—yang kini menjabat sebagai Wakil Wali Kota Bitung. Turut mendampingi pula Tim Korkot Kota Bitung, KBP, LSM, pers serta relawan pemerhati kota.

Hasil dari pertemuan tersebut, wakil wali kota meyakinkan Kementerian PU bahwa Pemerintahan Kota Bitung akan menyelesaikan segala kekurangan alokasi dana pendamping program melalui APBD, dan mendukung secara penuh Program PNPM mandiri Perkotaan.

Hal tersebut memang bukan janji semata. Sepulang dari Kementerian PU, Pemerintah Kota Bitung langsung melakukan pengalokasian dana sharing dari APBD. Segala kekurangan diselesaikan secara in-cash dan terus dialokasikan dana sharing setiap tahun hingga saat PNPM Mandiri Perkotaan berubah menjadi Program KOTAKU.

Program PLPBK Lanjutan dan Percepatan Penanganan Kumuh

Dalam perjalanan program Nasional ini, dengan didukung penuh Pemda, Kota Bitung juga telah mendapat reward dengan terpilihnya 3 kelurahan di Kota Bitung, yaitu Kelurahan Paudean, Wangurer Barat, dan Sagerat sebagai lokasi Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) di tahun 2013.

Di penghujung tahun 2015, Kota Bitung juga mendapatkan reward yang dinamakan dengan PLPBK Lanjutan. Dua lokasi dampingan yaitu Kelurahan Paudean dan Kelurahan Wangurer Barat terpilih sebagai kelurahan yang mendapatkan dana PLPBK Lanjutan sebesar Rp1 miliar per kelurahan.

Tidak hanya itu, di penghujung tahun 2015 dan tahun 2016, Kota Bitung ketambahan dana Rp3 miliar untuk program Percepatan Penanganan Kumuh (Kolaborasi). Kota Bitung menjadi satu-satunya kota di Sulawesi Utara yang mendapatkan dana Kolaborasi ini. Peruntukannya, diberikan kepada 10 kelurahan yang terdata sebagai kelurahan kumuh, yang dilihat dari hasil data baseline, yang saat itu bernama Program Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman (P2KKP) Kota Bitung.

Semuanya tak lepas dari peran Pemerintah Kota yang terus mendukung dan men-support kegiatan-kegiatan Program KOTAKU.

Dari 3 kelurahan yang mendapatkan reward Program PLPBK, PLP-BK Lanjutan dan 10 kelurahan yang mendapatkan program percepatan penanganan kumuh saat ini terlihat perubahan signifikan. Baik dari sarana infrastrukturnya maupun masyarakat yang tinggal di dalamnya. Jika dahulu kelurahan-kelurahan tersebut terlihat kumuh, kini beberapa lokasi bahkan menjadi ikon pembangunan kota dan menyumbang angka penurunan kumuh di Kota Bitung.

Jika melihat rencana investasi, dari hasil kegiatan PLPBK Lanjutan dan program percepatan penanganan kumuh memang belum selesai. Masih butuh kolaborasi dari berbagai stakeholder untuk penanganan kumuh. Namun, komitmen pemerintah kota berlanjut. Beberapa program infrastruktur skala kota maupun provinsi dialokasikan ke kelurahan-kelurahan yang mendapat prioritas penanganan kumuh.

Hasil kolaborasi tersebut di beberapa kelurahan yang teridentifikasi kumuh dan sedang ditangani oleh Program KOTAKU, mendapat bantuan dari Dinas PU Provinsi melalui Direktorat Bangkim di Tahun 2016. Tak tanggung-tanggung, miliaran rupiah masuk dalam lokasi-lokasi Kumuh di Kota Bitung dalam perbaikan dan peningkatan infrastruktur kota.

Reward Pemerintah Kota Untuk Pelaku Program KOTAKU

Perhatian Pemerintah Kota Bitung tidak hanya kepada kegiatan Program KOTAKU semata, para pelaku program pun diperhatikan. Beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2013 Koordinator BKM/LKM yang kelurahannya berkinerja baik dan berprestasi dalam pengelolaan kegiatan dan pembukuan diberikan reward jalan-jalan ke Bali. Hal ini semata tak hanya untuk memberi penghargaan kepada relawan-relawan yang bekerja dengan baik dan amanah tetapi juga memberikan rangsangan kepada kelurahan-kelurahan lain untuk menjalankan Program KOTAKU dengan baik.

Setahun kemudian, tepatnya di tahun 2014 pemerintah kota memberikan juga kesempatan kepada Tim Pemerhati Kota, SKPD dan pelaku Program KOTAKU, baik Tim Korkot maupun Team Leader OSP 8 Sulawesi Utara untuk studi banding ke Pulau Batam untuk belajar hal baik dari kota tersebut. Tidak sampai di situ, pemerintah kota juga memberikan kesempatan kepada tim untuk mengunjungi Negeri Singa, Singapura, sebagai reward atas prestasi masyarakat dan pelaku Program KOTAKU.

Pemerintah Kota berjanji, akan terus memberikan reward kepada pelaku pemberdayaan dan pegiat Program KOTAKU, yang dengan sungguh-sungguh mendampingi masyarakat dan berkomitmen untuk menurunkan angka kumuh di Kota Bitung.

Inovasi dan Mimpi Untuk Penataan Permukiman Kumuh

Di akhir tahun 2016, Tim Korkot Program KOTAKU Kota Bitung mengadakan rapat evaluasi dan koordinasi bersama Wakil Wali Kota Bitung Maurits Mantiri. Banyak hal yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Terkait dengan pencapaian program, target penurunan angka kumuh menjadi 0% di tahun 2019 nanti dan berbagai rencana.

Banyak hal diangkat oleh pejabat yang terkenal dekat dengan masyarakat ini terkait dengan penanganan kumuh. Ia sering mengatakan, “Belajarlah dari keberhasilan, amati dan modifikasi untuk kebaikan dan kesejahteraan kota kita.

“Kita mudah saja memperbaiki sarana infrastruktur di Kawasan-kawasan kumuh, namun jika mindset masyarakatnya masih belum berubah. Perilaku hidup masih nyaman dengan Kumuh maka sarana tersebut tidak akan terpelihara dengan baik dan tidak akan bertahan lama,” demikian ditekankan wakil wali kota saat itu.

Perkebunan Kota

Salah satu yang ingin dikembangkan oleh wakil wali kota, yang senafas dengan wali kota, adalah menata kawasan kumuh agar tidak terlihat kumuh, tetapi juga mengembangkan jiwa kewirausahaan masyarakat melalui sistem perkebunan kota.

Hidroponik adalah salah yang ingin dikembangkan. Harapannya sudut-sudut dan gang warga di kawasan kumuh dibudidayakan usaha hidroponik. Bisa ditanam berbagai macan sayuran sehat, cabai, tomat dan tanaman lainnya, sehingga kawasan kumuh tidak saja menjadi hijau dan indah tetapi masyarakatnya juga bisa bertambah pendapatan dari hasil bududaya hidroponik tersebut. Bisa dimanfaatkan sendiri tetapi juga bisa berkembang menjadi usaha warga. Pengelolaanya melalui Kelompok UPK binaan Program KOTAKU.

Untuk pelatihannya, pemerintah kota siap melibatkan unit teknis terkait untuk berkolaborasi dengan Program KOTAKU dan terkait dengan pembibitan, alat pengembangan tanaman hidroponik akan di-support sepenuhnya oleh pemerintah kota. “Jangan khawatir.” Begitu tegas wakil wali kota

Ruang Terbuka Publik Ramah Anak

Perkembangan anak juga menjadi perhatian khusus dari Pemerintah Kota Bitung, sebagai kota industri, kota multidimensi, dan juga diharapkan tetap menjadi kota ramah anak.

Untuk itu, melalui Bappeda, Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman (Dinas Perkim) Kota Bitung, berkolaborasi dengan Program KOTAKU dan Kota Sehat, pemerintah kota ingin mengembangkan Pembangunan Ruang Terbuka Publik yang ramah anak.

Program KOTAKU dilibatkan dalam perencanaan tersebut. Intinya, di setiap permukiman kumuh ataupun di lokasi-lokasi strategis akan dibangun RTPRA yang diperuntukkan bagi warga kota. Dengan aktivitas kota industry, hak bermain anak tetap bisa dinikmati. Itupun tetap akan disandingkan dengan perkebunan kota dengan membudidayakan tanaman hidroponik di seputaran RTPRA.

Kolaborasi Perencanaan Kota

Ini adalah project pemerintah kota dalam menata kota, tetapi juga yang berhubungan erat dengan permukiman kumuh. Untuk diketahui, di pusat Kota Bitung ada beberapa kelurahan yang terindikasi kumuh dan beririsan di tengah kota. Ada rencana akan dibangun taman rakyat Kota Bitung seputaran tempat tersebut, dan di dalamnya adalah taman tematik.

Tujuannya adalah untuk menata dan memberi warna baru di beberapa titik kota yang terindikasi kumuh. Harapannya, dengan dibangunnya taman kota yang akan menjadi destinasi rekreasi Kota bitung, perilaku masyarakat di sekitar tempat itu bisa berubah. Perilaku hidup bersih dan sehat serta mindset masyarakat diharapkan bisa berubah ketika melihat sekelilingnya menjadi lingkungan yang asri dan membuka ekonomi baru sebagai daerah destinasi wisata kota.

Dari beberapa hal yang dibahas, semoga bisa sedikit menggambarkan semangat yang luar biasa dari pemimpin daerah Kota Bitung untuk menanggulangi kemiskinan dan komitmen untuk menurunkan angka kumuh serta menyejahterakan Kota Bitung.

Dari bibir Pasifik Indonesia, Kota Bitung—Kota Industri, Kota Cakalang, Kota Multidimensi—kami ucapkan “Somahe kae kehage. Sansihote sampate-pate. Pakatuan pakalawiren. Damai di hati.” [Sulut]

Klik tautan di bawah guna mengunduh file artikel Kota Bitung:

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.