Beranda Warta Kliping & Newsletter Jalan Sunyi Pengelola Sampah

Jalan Sunyi Pengelola Sampah

Comments (0) View (1209)

Diinformasikan oleh:
Kurniawan Zulkarnain
Team Leader 
KMP wilayah 2
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Judul: Jalan Sunyi Pengelola Sampah

Sumber: Kompas

Edisi: 5 April 2017 | Oleh: Runik Sri Astuti

Lima tahun lalu, warga Desa Cemandi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, resah karena sampah berserakan di pinggir jalan, sungai, dan permukiman. Namun, berkat kepedulian dan kerelaan Suminah (50), tumpukan sampah itu kini sirna.

Hujan deras baru saja reda saat Suminah bersepeda menuju tempat penampungan sementara (TPS) sampah rumah tangga di Desa Cemandi, Kecamatan Sedati, Rabu (1/2). Sesampai di sana, dia bertemu Ghofur (27) dan Yanto (35) yang tengah membakar sampah di dalam tungku pembakaran tanpa cerobong. Bergegas Suminah membantu menggaruk dan membalik tumpukan sampah yang sedang dibakar. Dia menyisihkan sampah kering seperti tisu dan kertas. Sampah kering nantinya digunakan untuk bahan pembakaran sampah.

Saat ia sedang sibuk mengurus sampah, tiba-tiba Kepala Desa Cemandi Ayub Sa’i datang. Ini bukan kunjungannya yang pertama. Ayub kerap mampir ke TPS untuk memastikan kelancaran proses pengolahan sampah. ”Jumlah warga Desa Cemandi mencapai 6.524 jiwa, yang terbagi dalam 1.700 keluarga. Setiap hari mereka menghasilkan sampah 16 ton atau setara dengan dua truk. Apabila tidak dikelola dengan baik, dampaknya pasti luar biasa,” tutur Ayub.

Lima Tahun Lalu

Dia masih ingat peristiwa lima tahun lalu saat sampah belum terkelola. Warga membuang sampah di sembarang tempat. Bagi yang punya sisa tanah pekarangan, mereka menggali tanah untuk mengubur sampah. Namun, bagi yang tak punya pekarangan, sampahnya dibuang di tepi jalan, sungai, atau selokan.  Akibatnya, lingkungan menjadi kumuh dan aliran air sungai terhambat. Bau busuk sampah juga meruap dan mengundang lalat penyebar penyakit.

Saat itu, Suminah masih menjadi juragan bakso yang mempekerjakan delapan karyawan. Namun, Suminah kesulitan mempertahankan bisnisnya lantaran ketatnya persaingan. Di tengah kegalauannya mencari usaha baru, Suminah ditawari oleh perangkat desa untuk mengelola sampah. Dia menerima tawaran itu karena tidak ada satu warga pun yang mau menjadi relawan dengan alasan beragam.

Selain tidak ada upah, persoalan yang dihadapi sangat kompleks. Pengelola mesti mencari solusi mengatasi gunungan sampah setinggi 4 meter di lahan kosong di tepi sungai. Mereka mesti mencari sumber dana, merekrut relawan atau pekerja yang mau mengurus sampah, dan membangun TPS swakelola. Suminah bersyukur saat itu ada dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan tahun 2012 sebesar Rp 50 juta. Namun, dia tak menyangka uang itu cepat habis. ”Ternyata mengelola sampah itu butuh modal besar,” ucapnya. Uang Rp 50 juta dia gunakan untuk membangun instalasi TPS berukuran 6 meter x 24 meter dan membuat dua tungku pembakaran sampah tanpa cerobong.

Sebelumnya, dia harus membersihkan gunungan sampah setinggi 4 meter yang menutup lahan untuk TPS. Di luar dugaan, biaya angkut sampah ke tempat pemrosesan sampah terpadu (TPST) menghabiskan Rp 12 juta. Beruntung saat itu desa membantu dengan dana kas. Setelah itu, untuk membiayai kegiatan operasional TPS, dia terpaksa memungut iuran dari warga sebesar Rp 10.000 per rumah per bulan.

Pengelolaan sampah yang dilakukan Suminah meliputi kegiatan pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, daur ulang, pembuangan, atau pembakaran. Di TPS sampah diproses, yakni dipilah guna diambil yang bernilai ekonomi dan bisa didaur ulang. Dalam proses pemilahan ini, Suminah dibantu mertuanya, Mbok Yem (70).

Sempat ada lima pemilah, tetapi mereka mundur satu per satu karena beralih kerja di pabrik. Penghasilan buruh pabrik lebih menggiurkan karena upah minimum Kabupaten Sidoarjo mencapai Rp3.290.000 per orang per bulan. Adapun penghasilan memilah sampah tak menentu. Apabila rajin dan tidak takut kotor, bisa dapat Rp 600.000 per minggu, tetapi hal itu jarang terjadi.

Setelah dipilah, sisa sampah kemudian dimasukkan ke tungku pembakaran. Ghofur bertugas menangani pembakaran. Dulu ada dua orang yang menangani pembakaran. Namun, seperti para pemilah sampah, rekan Ghofur pun mundur karena upahnya rendah, Rp 1,3 juta per bulan. Selain mertuanya, suami Suminah juga kerap membantu mengurus sampah di sela-sela kesibukannya bekerja.

Agar hemat biaya, Suminah menggunakan bahan bakar sampah dari Bandar Udara Juanda karena isinya kebanyakan kertas tisu, gelas berbahan kertas, dan tempat makan sekali pakai. Harga sampah ini lebih murah dibandingkan dengan bahan bakar minyak. Dia harus berpikir keras untuk menghemat. ”Untuk bayar upah Yanto dan Ghofur serta biaya operasional harian seperti bahan bakar minyak kendaraan pengangkut sampah, listrik, dan perbaikan kecil seperti tungku rusak, dananya kerap kurang,” ujar Suminah.

Otodidak

Istri karyawan operator alat berat ini punya pengalaman pahit dalam menangani popok bayi sekali pakai. Karena butuh waktu lama, minimal dua hari pembakaran tanpa henti untuk membuat popok menjadi abu, Suminah pun bereksperimen. Dia mengumpulkan semua popok bayi dan menguburnya di dalam kubangan. Namun, tak disangka, beberapa hari kemudian, popok itu meledak dan mengeluarkan suara keras seperti bom.

Suminah benar-benar secara otodidak mengelola sampah karena tak punya pengetahuan dan pengalaman. Namun, dia pernah belajar pengolahan sampah di Desa Siwalanpanji dan melakukan studi banding ke Surabaya untuk mengetahui jenis sampah yang bernilai ekonomi.

Selain peduli, ikhlas, dan banyak belajar, Suminah juga dituntut sabar. Sebab, dia kerap menerima protes dari warga hanya karena telat mengambil sampah. Atas kepedulian dan kerelaannya mengelola sampah, Suminah mendapat penghargaan dari Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kabupaten Sidoarjo pada 2016.

Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kabupaten Sidoarjo Bahrul Amig mengatakan, kendati masih banyak kekurangan, kepedulian Suminah untuk mengelola sampah dan mencegah bencana lingkungan patut diapresiasi. Apabila di Indonesia banyak Suminah, setiap kota atau kabupaten mungkin tak perlu membangun tempat pembuangan sampah akhir karena pengelolaan sampah tuntas di TPS masing-masing.

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.