Beranda Praktik Baik PB-PPM Meneguhkan Morisama, Menuai Sejahtera Bersama

Meneguhkan Morisama, Menuai Sejahtera Bersama

Comments (0) View (2533)

Morisama adalah kata dari bahasa asli suku Mbojo (Kota Bima), yang mengandung arti “Pentingnya Kebersamaan dalam hidup”. Kata ini diabadikan menjadi nama Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) oleh masyarakat Kelurahan Ntobo, Kecamatan Rasana’e Timur, Kota Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). BKM Morisama dibentuk pada 25 Maret 2005.

Relevan dengan slogan PNPM Mandiri Perkotaan: “Membangun Kebersamaan dan Kemandirian”, filosofi adiluhung itu diadopsi dari budaya luhur masyarakat Ntobo, yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan kebersamaan sebagai peninggalan paling berharga dari para leluhur mereka.

Menurut Koordinator BKM Morisama H. Jaharuddin (58 tahun), jika salah seorang warga menyelenggarakan acara pernikahan, maka semua bergotong-royong, secara sukarela memberikan bantuan berupa uang, bahan makanan pokok, kue dan kebutuhan bahan lainnya. Hal itu memperkuat kebersamaan dan kekeluargaan yang telah mereka lestarikan sebagai modal sosial yang telah dimiliki guna mencapai kemakmuran dan kesejahteraan secara bersama-sama. Modal sosial itu pula lah yang sedang digali dan hendak ditumbuhkembangkan dalam serangkaian pembelajaran PNPM Mandiri Perkotaan melalui tahapan (siklus) yang ditawarkan kepada masyarakat, dalam upaya penanggulangan kemiskinan secara mandiri dan berkelanjutan.

Kelurahan Ntobo tidak terlalu susah dijangkau. Secara geografis, letak kelurahan ini berada sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Bima, di bagian utara. Luas wilayahnya mencapai 220 Hektare dan terdiri atas tiga RW dan 18 RT. Kelurahan ini merupakan salah satu lokasi sasaran P2KP sejak tahun 2004, yang diteruskan dengan PNPM Mandiri Perkotaan.

Secara umum, penduduknya melakoni tani dan menenun sebagai mata pencaharian. Berdasar data demografi kelurahan, hingga akhir tahun 2009 warga miskin yang tinggal di Kelurahan Ntobo sekitar 55%. Artinya, separuh lebih penduduknya masih tergolong masyarakat kurang beruntung dan menjadi sasaran langsung PNPM Mandiri Perkotaan.

Dibandingkan dengan beberapa tahun silam, kondisi masyarakat sekarang mengalami kemajuan yang sangat signifikan. “Pelbagai upaya  peningkatan pendapatan warga telah digagas dan direalisasikan oleh BKM Morisama sejak tahun 2005, baik melalui penumbuhan usaha-usaha baru maupun pemantapan usaha yang telah berjalan dengan fasilitasi dana pinjaman bergulir yang tidak berbelit-belit dan jasa yang terjangkau,” ungkap H. Jaharuddin.

Mengingat mata pencaharian utama masyarakat Ntobo adalah bertani dan menenun, maka dengan bantuan modal tersebut mereka dapat berperan sebagai pengusaha sendiri dan terlepas dari tekanan para pemodal. Hal itu diamini oleh Sumarlah, salah seorang anggota KSM tenun.

Pengelolaan dana pinjaman bergulir sebagai salah satu pilar penanggulangan kemiskinan di Kelurahan Ntobo pernah mengalami pasang surut. Kinerja keuangan pada indikator Repayment Rate (RR) pada medio akhir 2008 hanya mencapai 40%.

Berkat kerja keras dan perjuangan tak kenal lelah yang dipelopori oleh H. Jaharuddin dan seluruh anggota BKM Morisama, serta didukung aparat pemerintah kelurahan melalui kunjungan langsung ke rumah-rumah anggota KSM guna penagihan, sekaligus memberikan pemahaman terkait tujuan program dalam memberikan bantuan tersebut. Hal ini dilakukan guna mengembalikan kesadaran masyarakat dan kembali melakukan pembayaran angsuran dana bergulir. Akhirnya, pada Mei 2009, RR di wilayah ini meningkat menjadi 93%. Capaian tersebut dapat dipertahankan secara konstan hingga September 2009.

Peristiwa turnover (pergantian) UPK lama Nurwahidah kepada UPK baru Harijah rupanya membawa dampak cukup signifikan terhadap kinerja keuangan UPK-BKM Morisama. “Saat itu saya butuh penyesuaian. Banyak anggota KSM yang belum saya kenal dan sebagian anggota KSM belum mengetahui perihal pergantian tersebut, sehingga mereka bingung harus membayar ke mana,” tutur Harijah. Kejadian ini sempat menurunkan kinerja RR. Pada bulan Oktober-November 2009, RR menjadi 79%.

Kemudian, H. Jaharuddin kembali berkiprah menjadi penyelamat BKM. Pria bersahaja yang disegani masyarakat ini mengambil inisiatif bersama anggota BKM lainnya, dengan disupport penuh Lurah Ntobo Ishaka dan para perangkatnya, serta difasilitasi secara optimal oleh Fasilitator Ekonomi Titin Nuryaningsih. Mereka melakukan musyawarah terbuka dengan mengundang seluruh anggota KSM dan membahas pinjaman bermasalah tersebut.

Dalam pengarahannya Lurah Ntobo menyampaikan, dana pinjaman bergulir adalah dana amanah. “Mengamankan dan melestarikannya adalah tanggung jawab kita bersama, agar kelak di kemudian hari kita tidak dianggap menyalahgunakan hak-hak anak-cucu kita ini,” tutur Ishaka.

Hal tersebut dipertegas oleh Titin. Menurutnya, capaian pelaksanaan kegiatan pinjaman bergulir adalah bagian dari penilaian paling dominan untuk mengukur seberapa besar tingkat kesadaran dan kebersamaan dalam upaya penanggulangan kemiskinan.

Tindak lanjut hasil musyawarah adalah membentuk tim penagihan dan pembinaan KSM yang melibatkan semua unsur masyarakat.

Dalam waktu yang relatif singkat, Tim Penagihan dan Pembinaan KSM menjalankan program kegiatannya. Hasilnya sangat menggembirakan. Angsuran KSM lancar. Tunggakan dilunasi secara bertahap dan seluruh pinjaman bermasalah telah ditertibkan secara administratif maupun teknis penyelesaiannya. Maka, pada Desember 2009 kinerja RR meningkat menjadi 91% dan dapat dipertahankan hingga Januari 2010.

Atas upaya dan kerja keras seluruh komponen masyarakat dalam mendukung kegiatan P2KP sampai dengan PNPM Mandiri Perkotaan seraya memegang teguh filosofi morisama, pada tahun 2009 Kelurahan Ntobo berhak mendapatkan program PAKET, sebagai intervensi lanjutan dari PNPM Mandiri Perkotaan. Saat itu BKM Morisama dinyatakan telah memenuhi kriteria berdaya menuju mandiri.

Pada Juni 2009, Kelurahan Ntobo kedatangan tamu dari provinsi. Yakni Tim verifikasi kelayakan lokasi sasaran Neighborhood Development (ND). Kelurahan Ntobo menjadi salah satu kriteria lokasi yang dicalonkan menjadi lokasi ND, sebagai wujud optimalisasi masyarakat mandiri menuju masyarakat madani.

Hanya saja, fakta berkata lain. Hasil penilaian terakhir Tim Verifikasi Kelayakan Lokasi ND menyatakan, pada tahun 2009 Kelurahan Ntobo belum termasuk lokasi yang menjadi sasaran program ND. Karena, salah satu indikator utama penilaian tidak mempu dipertahankan dengan posisi stabil beberapa bulan terkahir.

“Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda,” tegas H. Jaharuddin dengan nada optimis, meski terlihat raut agak kecewa saat merespon keputusan tersebut.

“Kami tetap akan berupaya menjaga kekompakan dan kebersamaan seluruh unsur masyarakat Ntobo guna mencapai kinerja dalam seluruh kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan, terutama capaian indikator kinerja UPK, Sekretariat dan Keuangan BKM,  meski kami tidak mendapat ND. Niat kami adalah membantu masyarakat Ntobo keluar dari masalah kemiskinan,” katanya.

Tidak ada keberhasilan yang lahir secara kebetulan, melainkan dari hasil usaha dan kerja keras. Semangat dan jiwa optimis BKM, mulai dari koordinator, anggota dan UP-UP, serta pemerintah kelurahan dan seluruh unsur masyarakat, menjadi jembatan menuju kehidupan masyarakat yang lebih baik. Semoga. (Nur Wahdaniah, Tim Faskel 3 Kota Bima, OC-7 NTB, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Praktik Baik