Beranda Praktik Baik PB-PPM Pindahkan Bebatuan Besar Guna Luruskan Drainase

Pindahkan Bebatuan Besar Guna Luruskan Drainase

Comments (0) View (2812)

Diawali kecemasan warga Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, yang setiap musim penghujan selalu menderita banjir di sekitar Jalan Sumur Yuga Rukun Warga (RW) 2. Air hujan dari pegunungan Gawalise itu meluap menggerus mata jalan, membuat tiang listrik nyaris roboh, dan mengalir sampai ke rumah-rumah warga.

Sebagian kawasan Kelurahan Balaroa terletak di kaki Gunung Gawalise, daerahnya berbukit dan penuh bebatuan besar. Jalan Sumur Yuga sendiri merupakan salah satu jalan utama masyarakat yang bermukim di pegunungan Gawalise menuju Kota Palu. Sebagian warga yang menggunakan jalan tersebut adalah warga Kabupaten Donggala, yang tersebar di beberapa desa di Gunung Gawalise. Umumnya, masyarakat Balaroa yang bermukim di kaki Gunung  Gawalise berkategori masyarakat miskin. Mereka masih sangat homogen dan  tergolong indigeneous people dari masyarakat  Kota Palu.

Berdasar hasil musyawarah, yang tertuang dalam Perencanaan Jangka Menengah Program Penanggulangan Kemiskinan (PJM Pronangkis) warga menetapkan akan membangun drainase di sepanjang jalan Sumur Yoga agar luapan air hujan tidak mencapai ke rumah warga. Namun, masalahnya dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PNPM Mandiri Perkotaan tidak cukup untuk membiayai pembangunan drainase tersebut.

Beruntung Program Penanggulangan Kemiskinan Terpadu (PAKET), salah satu rangkaian PNPM Mandiri Perkotaan, bisa memfasilitasi pembangunan drainase itu. Singkat cerita dibentuklah Panitia Kemitraan (Pakem) yang dinamai Pakem Buvuyuga, yang artinya sumur dalam. Sebagai Ketua Pakem adalah Muh. Gazali Lapute, seorang pegawai pada Dinas Kimpraswil Kota Palu.

Koordinator BKM Kelurahan Balaroa Erfandi menjelaskan, selama ini usulan warga untuk pembangunan drainase telah disampaikan berkali-kali dalam setiap Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kelurahan, tapi tidak pernah mendapat respon, padahal sebagian jalan yang dimaksud telah tergerus luapan air.

Proposal pun dirancang, pihak kelompok kerja (Pokja) PAKET melihat ke lapangan dan akhirnya di proposal disetujui. Drainase sepanjang 800 meter di kiri dan kanan jalan siap dibangun dengan dana sebesar Rp97,5 juta dari dana Paket dan Rp18 juta swadaya masyarakat. Pekerjaan saluran dengan penampang lebar atas 50 cm, lebar bawah 30 cm, tinggi 50 cm dengan menggunakan plester mata sapi.

Kegiatan dimulai sejak April 2008, namun saat pembangunan akan dimulai, harga semen yang awalnya Rp38.000 per sak, tiba-tiba melonjak menjadi Rp65.000 per sak. Di saat yang bersamaan, semen ”menghilang” di pasaran di Kota Palu. Akhirnya, Pakem memutar otak. Panjang drainase yang semula ditargetkan 800 meter, berubah menjadi 600 meter.

Demikian halnya dengan pekerjaan penimbunan bahu jalan, yang awalnya tidak tidak direncanakan, akhirnya dilaksanakan dengan panjang 600 meter mengikuti alur drainase. Lebar rata-rata timbunan adalah 1,1 meter dengan ketebalan rata-rata 15 cm.

Partisipasi warga selama pelaksanaan pekerjaan terbilang cukup tinggi. Apalagi pengawasan pekerjaan dikomandani langsung oleh FF. Polo, mantan petinggi di Polda Sulawesi Tengah yang kini telah purnawirawan. FF. Polo, yang akrab disapa dengan Om Polo ini menyatakan, kualitas pekerjaan warga bisa dibandingkan dengan proyek lain. ”Karena saluran air dibuat lurus dengan badan jalan yang ada,” tegas Polo, seperti dikutip oleh Buletin Nosarara terbitan Forum BKM Kota Palu.

Bahkan, dalam uji petik hasil pekerjaan pembangunan drainase, Tenaga Ahli (TA) Infrastruktur KMW VI P2KP-2 Sulteng Ir. Muh. Gazali memperkirakan, kualitas pekerjaan bisa bertahan di atas lima tahun.

Demikian halnya dengan Ketua Pakem Buvuyuga Gazali Lapute mengatakan, dalam pelaksanaan PAKET di Kelurahan Balaroa sempat mengalami banyak hambatan. Antara lain, karena banyaknya bebatuan besar yang sangat sulit digali. ”Kami menggunakan tackel untuk mengangkat batu besar. Jika batunya tidak disingkirkan, pembangunan drainase akan berkelok-kelok dan biayanya  akan membengkak,” jelas Gazali.

Koordinator BKM Balaroa Erfandi menggambarkan, besar bebatuan yang dipindahkan warga secara gotong royong itu nyaris seukuran mobil kijang. Untuk pengangkatannya, sekitar 60 warga dilibatkan.

Kini, warga di sekitar kaki Gunung Gawalise boleh bernapas lega. Tak akan ada lagi gerusan air di sepanjang Jalan Sumur Yuga. Lalu-lalang ojek, maupun mikrolet, bebas hilir-mudik mengantar warga dari Pasar Induk Manonda—yang masih dalam bilangan Kelurahan Balaroa, ke beberapa kampung yang melewati Jalan Sumur Yuga.

Melihat hasil pekerjaan yang sangat memuaskan, pemerintah Kota Palu, lewat Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) melanjutkan pekerjaan pembangunan drainase sepanjang 874 meter dengan dana sebesar Rp285.229.000, dengan volume dan dimensi yang sama dikerjakan oleh Pokja Paket. (Tasrief Siara, TA Monev KMW VI Sulteng, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Praktik Baik