Beranda Praktik Baik PB-PPM Water Boom Vs Kolam Pekat

Water Boom Vs Kolam Pekat

Comments (0) View (2632)

Jika mau dimasukan ke dalam kategori The Best, sesungguhnya apa yang saya uraikan lewat paparan dan gambaran ini tidaklah istimewa ataupun eksklusif, selaras aturan dan persyaratan the best umumnya. Melainkan sebuah gambaran yang sangat ironis dan “jomplang“—bahasa kerennya; menghantarkan niat saya memasukkan pelaksanaan kegiatan air bersih di Desa Cibatu ke dalam kategori The Best.

Nun jauh di Kabupaten Bekasi, ada sebuah wisata air yang sangat terkenal seantero Indonesia: “Water Boom”. Gambaran kolam air melimpah, indah, bersih, dan teratur ada di sini. Yang mendatangi area wisata ini pun sudah bisa dipastikan membludak, pun tidak sedikit penggede yang koceknya tebal. Dari sisi pemasukan, yes! Pasti banyak, apalagi didukung kondisi tatanan kolam renang yang memang sangat indah. Namun, siapa nyana, di balik gambaran keeksotikan pemandangan tadi ada sebuah realita kehidupan masyarakat yang akan membuat kita mengelus dada—siapapun itu. Barangkali keadaan ini tidak aneh jika wilayah ini berada jauh terpencil di luar pulau atau jauh dari pusat ibukota.

Ternyata di balik berlimpahnya air di kolam renang, juga perusahaan-perusahaan hebat yang berbaris rapi di Jababeka (Jakarta, Banten, Bekasi—Red) dan sekitarnya, serta perumahan elit Cibiru Lippo Cikarang yang sangat elegan karena keteraturannya, ada sekelompok masyarakat di RT 11 Desa Cibatu yang harus menggunakan air limbah rumah tangga guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hampir 12 tahun masyarakat RT 11 Desa Cibatu, yang secara geografis wilayahnya berada di antara perusahaan hebat dan daerah wisata serta perumahan elit itu, menderita kesulitan air bersih. Guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di awal tahun masa sulit itu, setiap sore dan malam hari kaum laki-laki menyisakan tenaga untuk mendaki perbukitan dan melintasi area sawah demi mencari air bersih.

Empat tahun belakangan, seiring tembok perumahan dan perusahaan raksasa yang terus menerus dibangun, air di balik perbukitan itu bukan hanya semakin jauh, tapi juga semakin kecil, bahkan akhirnya kerontang. Sudah berulang kali warga menggali air tanah di sekitar permukiman mereka. Namun, apa lacur, satu tetes pun air bersih tidak muncul. Kalaupun ada air, kondisinya berlendir dan berminyak.

Masyarakat di RT 11 sesungguhnya ingin memaksakan dan memperbanyak galian sumber air tanah, tapi keterbatasan ekonomi—yang secara mayoritas melatar belakangi kehidupan masyarakatnya—mengakibatkan penggalian air tanah tidak bisa dilaksanakan. Jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang bisa mereka lakukan ada tiga hal, yaitu membuat kolam-kolam penampungan air hujan, membuat kubangan di sawah yang digunakan bergantian dengan sapi dan kerbau. Paling miris adalah menampung air limbah rumah tangga dari got saluran air perumahan.

Air kolam ini akan mereka pakai sedikit demi sedikit supaya cukup sampai musim kemarau. Tapi, karena tidak ada pembuangan dan tidak mengalir, lama-kelamaan warnanya menghijau lekat karena bercampur lumut. Yang sangat fantastis, gara-gara kekurangan air itu mereka bahu-membahu menampung air kotoran parit dan gorong-gorong pembuangan limbah rumah tangga dari perumahan Cibiru Lippo Cikarang ke dalam sebuah kolam. Area penampungannya mereka bikin di antara sawah dan ujung gorong-gorong. Soal kotor, jangan ditanya. Selain warnanya agak kehitaman, air itu sudah bercampur dengan beraneka sampah, mulai dari bangkai ayam hingga pembalut wanita.

Yang menarik dan lucu dari kondisi ini adalah ketika saya dan teman-teman berkunjung melakukan sosial mapping. Dengan semangat '45 sambil tertawa, kaum ibu bercerita banyak. Beberapa di antara kaum ibu-ibu itu berprofesi menjadi pembantu rumah tangga paruh waktu di komplek perumahan. Demi air yang dibutuhkan, mereka melakukan kecurangan. Setiap mencuci piring ataupun pakaian, air yang dikucurkan dari kran akan mereka biarkan dan buang lebih banyak. Dalam kata lain, mereka menghambur-hamburkan air. Tujuannya adalah agar air yang masuk ke parit dan got jauh lebih banyak, sehingga kolam penampungan mereka bisa penuh.

“Kalau saya mah, si air keran teh kadang dibiarkan dulu. Atau, kalau nyuci baju sampai empat kali, supaya air yang keluar banyak. Biarin, da mereka mah orang kaya. Kalaupun mereka nanya kenapa bayar air mahal, saya jawab saja tidak tahu,” tutur para ibu itu, dengan logat sunda yang kental, diselingi derai tawa.

“Kecurangan”, itu bahasa mereka. “Lucu” itu pun kata mereka. Sesaat mereka bisa tertawa lepas membayangkan upaya mereka menyiasati air di tempat mereka bekerja. Sangat sederhana dan polos saat mereka mengaku berlaku curang. Dan sesaat pula mereka merasa terhibur dari kepenatan memikirkan kebutuhan hidup. Kami, saya dan teman-teman disini banyak belajar tentang hidup. Ada sesuatu yang terasa sesak di dada kami begitu melihat air penampungan yang mereka buat. Selain terasa berlendir di tangan, air itu pun sudah bercampur lumut tebal dan berbau.

Tapi, lagi-lagi mereka berkomentar. ”Bu, kalau mau mandi di sini enak, nggak usah pakai sabun. Kan di kulit sudah berbusa. Atau kalau mau mandi di tempat yang satunya, harus adu cepat sama kerbau,” mereka kembali tertawa. Kepenatan hidup ternyata tidak menumpulkan syaraf tawa kaum yang termarginalkan ini.

Dan, hasil dialog warga dengan kami, mulai dari mandi, cuci beras, baju dan lainnya mereka lakukan di sini. Di kolam yang hitam dan berlendir ini. Menurut mereka, agar menghemat air, setelah cuci beras dan mandi, airnya mereka tampung di kolam yang sama. Berdasarkan diskusi dua arah ini, akhirnya disimpulkan akan dibangun sarana air  bersih.

Dengan semangat, warga menyanggupi swadaya yang akan disiapkan. Masih antara percaya dan tidak jika di wilayah mereka akan dibangun sarana air bersih, ada seberkas harapan yang tergambar di wajah-wajah pengemban kemiskinan itu. Sorot mata mereka berbinar. Tangan-tangan legam dan keriput pun langsung mereka tengadahkan untuk berdoa. 

Kini, air bersih itu telah menjulang. Tingginya sekitar 4,5 meter, dengan biaya Rp14 juta dari PNPM dan sekitar Rp6 juta swadaya. Air pun menghambur banyak. Tak bisa lagi kami lukiskan betapa senang dan bahagianya masyarakat RT 11 Wilayah Cibatu saat itu. Meski kondisi air belum sempurna, setidaknya kolam pekat dan berlendir itu telah ditinggalkan. Kubangan air tempat berlomba dengan kerbau pun tak ditoleh lagi. Yang tersisa hanyalah bukti otentik bekas kolam-kolam itu dulu.

Demikian selaksa kisah yang bisa kami paparkan. Sebagian gambaran cerita dapat dilihat dari foto pendukung cerita. Pembangunan sarana ini masih terus dibenahi dan mau disempurnakan. Saat ini, bambu penahan beton belum dibuka. Ada yang lebih penting, kami, selaku fasilitator yang mengawal, saat ini tengah disibukkan dengan sistem pengaturan air ke setiap individu masyarakat RT 11 Desa  Cibatu.

Kini, senyum mengembang lebih lebar lagi, meski belum sempurna. Tak ada lagi lendir limbah deterjen di tubuh warga. Semoga air yang telah keluar tak surut lagi, agar kepenatan hidup bisa berkurang dari beban mereka. Meski kiprah pembuatan air bersih bukan sesuatu yang eksklusif, namun di antara gegap-gempita bangunan megah nan indah, tak ada lagi tawa getir karena air. Masih setitik jarum memang. Namun, inilah oase terindah yang bisa kami persembahkan untuk masyarakat RT 11 Desa Cibatu, yang jumlahnya sekitar 30 KK itu. (Tim Faskel Kabupaten Bekasi, OC-4 Jawa Barat, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Praktik Baik