Beranda Praktik Baik PB-PPM Bak Penghasil Rupiah

Bak Penghasil Rupiah

Comments (0) View (3503)
Oleh:
TF 15 Kota Bau-bau   
OSP 8 Sulawesi Tenggara  
PNPM Mandiri Perkotaan

Kolese merupakan salah satu kelurahan lokasi PNPM Mandiri Perkotaan yang ada di Kecamatan Lea-Lea, Kota Bau-bau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan jumlah penduduk sebanyak 274 KK atau 936 jiwa, dan 126 KK di antaranya adalah warga miskin.

Seiring putaran siklus yang telah masuk siklus tahun ke-3 pada tahun 2012, Kelurahan Kolese melalui Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri, sudah memanfaatkan dana BLM APBN di tahun 2012 yakni Tahap I T.A 2012 sebesar Rp90 juta, dengan menitikberatkan kegiatan sarana dan prasarana infrastruktur yang dikelola oleh tiga Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).

Bak Pencucian dan Pemupukan Rumput Laut yang menghasilkan rupiah

Salah satu kegiatan yang sangat menyentuh masyarakat miskin adalah pembuatan dua unit Bak Pencuci Rumput Laut dengan volume 3 meter (panjang) x 2 meter (lebar) x 1,5 meter (tinggi). Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh KSM Tawo Molagi dengan total anggaran sebesar Rp12.552.000, terdiri atas anggaran BLM sebesar Rp9 juta dan swadaya masyarakat sebesar Rp3.552.000. Jumlah penerima manfaat langsung dari kegiatan tersebut adalah 25 KK.

Besarnya biaya pembuatan Bak Pencucian Rumput Laut itu disebabkan oleh lokasi bak yang berada di pesisir pantai dengan akses jalan cukup sulit, melalui ratusan anak tangga yang cukup curam. Sementara itu, bahan material pembuatan bak diangkut ke lokasi kegiatan dengan tenaga manusia, sehingga ada biaya tambahan untuk jasa pengangkutan material. Hal ini mengingat biaya pengangkutan tidak sepenuhnya dibebankan kepada swadaya masyarakat.

Kegiatan KSM Tawo Molagi itu terlahir berdasar usulan masyarakat yang ada dalam PJM Pronangkis dan masuk sebagai usulan kegiatan prioritas masyarakat. Masyarakat sangat membutuhkan Bak Pencucian Rumput Laut karena mata pencaharian utama dari masyarakat Kelurahan Kolese memang petani rumput laut. Jadi, keberadaan bak tersebut menunjang kegiatan sarana dan prasarana petani rumput laut, bahkan memudahkan dan mempercepat proses pemupukan dan pencucian rumput laut serta meningkatkan pendapatan hasil panen rumput laut.

Proses pengikatan bibit rumput laut sebelum dicuci dalam bak

Masyarakat mengusulkan kegiatan tersebut karena mereka merasa kesulitan dalam melakukan pencucian dan pemupukan rumput laut. Menurut Nuriani, seorang warga RT 02 RW 02 yang juga pemanfaat kegiatan, sebelum adanya bak, masyarakat mencuci dan memupuk rumput laut menggunakan tenda yang dibuat segi empat dan sisinya ditopang dengan kayu dan papan berukuran 1 meter x1 meter, kemudian diisi air.

“Itupun dalam satu tenda hanya mampu menampung 50 ikat tali rumput laut. Padahal dalam sekali ikat petani rumput laut bisa mengikat 200 ikat tali rumput laut. Jadi harus empat kali pencucian dan pemupukan, barulah bisa dibawa ke laut. Proses pencucian dan pemupukan sendiri biasanya dilakukan selama satu malam dalam sekali pupuk. Artinya, waktu yang diperlukan untuk membawa rumput laut ke tempat pengembangbiakan cukup panjang,” urainya.

Banyak masyarkat yang terlambat mengembangbiakkan rumput laut karena keterlambatan dalam pencucian dan pemupukan. Kesulitan petani rumput laut dalam melakukan pencucian maupun pemupukan disebabkan tiadanya sarana dan prasarana memadai, seperti bak pencuci rumput laut.

“Jadi, dengan bak ini, prosesnya bisa lebih singkat dan menghemat waktu. Masyarakat merasa senang, tidak capek lagi mencuci dan memupuk rumput laut. Memprosesnya juga cepat. Kami yakin pendapatan masyarakat akan rumput laut akan bertambah karena masyarakat bisa melakukan pembibitan sampai dua kali lipat dari biasanya. Dengan begitu hasil panen akan meningkat,” kata Nuriani.

Aktivitas para petani rumput laut dalam mengikat bibit rumput laut

Hal senada dituturkan La Ane, seorang masyarakat Kolese yang juga pemanfaat kegiatan. “Rumput laut yang dicuci dan dipupuk dengan menggunakan tenda ini artinya ada tambahan biaya untuk membeli tenda dan papan. Itupun hanya digunakan untuk empat kali pencucian dan pemupukan. Karena, setelah itu tendanya sudah rusak atau robek. Tapi kalau menggunakan bak, masyarakat merasa terbantu. Selain mengurangi beban biaya, masyarakat juga dimudahkan dan mampu mempercepat proses pemupukan dan pencucian, mengingat dalam setiap bak bisa menampung 150 - 200 ikat tali rumput laut. Bahkan bisa digunakan selama bertahun-tahun. Serta pembibitan rumput laut akan bertambah dan pendapatan petani rumput laut juga akan bertambah karena hasil panen bisa bertambah daripada biasanya,” jelas dia.

Masyarakat merasa sangat puas dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh KSM Tawo Molagi, karena selama proses pengerjaan masyarakat dilibatkan dan pengerjaan kegiatan dilakukan secara gotong royong, sehingga volume maupun kualitas kegiatan bisa tercapai.

Satu lagi yang unik, kegiatan ini dilaksanakan di pesisir laut Kolese, dimana suplai material sangat sulit, karena jalan menuju lokasi kegiatan sangat sulit dan tidak bisa diakses dengan menggunakan kendaraan roda dua apalagi roda empat. Jadi suplai bahan dan material yang dilakukan oleh KSM menggunakan tenaga manual, bergotong-royong bersama masyarakat mengangkat pasir, semen, dan batu ke lokasi kegiatan.

Proses pengerjaannya juga dipengaruhi oleh cuaca yang tak menentu, sehingga kegiatan pembuatan bak pencuci rumput laut baru bisa rampung setelah dua minggu. Adapun volume dan kualitas sesuai dengan yang dicantumkan dalam proposal. Berkat antusiasme warga dalam menyukseskan kegiatan tersebut, KSM tidak menemukan kesulitan dalam menyelesaikan kegiatan pembuatan bak pencucian agar-agar.

Papan informasi kegiatan Pembuatan Bak Pencucian Rumput Laut

Bak pencucian rumput laut secara langsung dikelola dan dimanfaatkan oleh seluruh petani rumput laut. Mereka sekaligus bertindak sebagai penanggung jawab jika suatu waktu bak pencucinya rusak atau bocor. Bentuk pengelolaan yang dilakukan oleh para pemanfaat dari segi pemakaian dilakukan dengan memberikan informasi kepada para petani rumput laut lain melalui pesan langsung.

Ketua KSM Tawo Molagi Ramli Passi mengatakan, sebagai pemanfaat, khususnya para petani rumput laut bersedia melakukan perawatan dan perbaikan. “Jika suatu waktu terjadi kerusakan maka kami sudah sepakat untuk memperbaikinya dengan meminta iuran kepada seluruh pemanfaat bak pencucian rumput laut untuk memperbaiki kerusakannya. Jadi kami akan memperbaikinya secara bersama-sama pula. Walau secara adminstrasi pemanfaat dan pengelolaannya tidak terstruktur secara sistematis, dalam pelaksanaan di lapangan dengan sendirinya berjalan tanpa menimbulkan rasa kecemburuan sosial,” tegasnya.

Menurut pemanfaat lainnya bernama La Anga, untuk penggunaannya para petani rumput laut hanya menyampaikan pesan secara lisan kepada satu sama lain jika ada yang akan melakukan pemupukan di bak tersebut. “Sistem ini sejak lama sudah terbangun. Para petani rumput laut sudah terkenal saling menghargai sesama. Lagipula seorang petani menggunakan bak sekali dalam dua minggu, karena para petani hanya menggunakan bak ketika akan melakukan pembibitan rumput laut. Jadi tidak mempengaruhi para petani lain dalam melakukan pencucian dan pemupukan rumput laut. Tetapi kami sebagai pemanfaat tetap melakukan komunikasi yang baik kepada sesama petani rumput laut agar tetap terbangun rasa kekeluargaan,” katanya.

Lebih lanjut, Pimpinan Kolektif BKM Mandiri Syarifuddin berharap kelompok pemanfaat kegiatan tersebut senantiasa menjaga sarana dan prasarana yang mereka bangun, bisa digunakan sampai bertahun-tahun. “Karena kegiatan ini menjadi awal bangkitnya pendapatan masyarakat petani rumput laut. Tidak salah lagi kalau kegiatan ini diidentikkan dengan nama Bak Penghasil Rupiah,” tegasnya. [Sultra]

Informasi lebih lanjut silakan hubungi contact person:

  • Ramli Passi (Ketua KSM Tawo Molagi
    RT 02 RW 02 Kelurahan Kolese
  • Syarifuddin (Koordinator BKM Mandiri), HP: 085230447497
  • Juharni (Fasilitator Teknik), HP: 085241823883

Editor: Nina Firstavina

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Praktik Baik