Beranda Praktik Baik PB-PPM Sepotong Cerita Uji Petik: Penghematan yang Menakjubkan

Sepotong Cerita Uji Petik: Penghematan yang Menakjubkan

Comments (0) View (3550)
Oleh: 
Eddy Iwantoro 
Korkot 25 
OSP 6 Provinsi Jawa Timur   
PNPM Mandiri Perkotaan

Kamis, 4 Oktober 2012 siang. Angin musim kemarau mendesau, perlahan membelai wajah, menyejukkan tim pendamping yang melaksanakan uji petik di Desa Nyalabu Daya, Kabupaten Pamekasan. Uji petik rutin yang dilaksanakan Tim Korkot 25 Jatim ke desa/kelurahan dampingan di setiap tahapan siklus.

Desa Nyalabu Daya merupakan lokasi sasaran PNPM Mandiri Perkotaan yang pada tahun 2005 dikenal dengan nama P2KP. Berdasarkan surat Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan, Desa Nyalabu Daya menjadi salah satu lokasi sasaran program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) 2012.

Dari bincang-bincang dengan PK BKM “Amanah” Desa Nyalabu Daya, terungkap bahwa kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan sangat bermanfaat bagi masyarakat dengan konsep tridaya. Terutama dalam upaya peningkatan daya lingkungan. Salah satu bangunan infrastruktur yang masih berfungsi saat ini adalah sumur bor dan tandon air di RT 3/RW 2 Dusun Tengah. Bangunan tandon air itu berdiri kokoh di atas tanah tegalan warga yang dihibahkan. Di dindingnya menempel pipa-pipa yang menyalurkan air sumur bor ke para warga pemanfaat. Bangunan tersebut masih berfungsi dengan baik.

Ketika uji petik di Sekretariat BKM “Amanah” Desa Nyalabu Daya

Sumur bor dan tandon air ini menggunakan dana PNPM P2KP tahun 2007 sesuai prioritas masyarakat Desa Nyalabu Daya, yang tertuang dalam PJM Pronangkis. Kegiatan dilaksanakan berdasarkan BAPPUK di tingkatan BKM, yang pada waktu itu dikoordinatori Drs. Suda’i.

Secara demografi, beberapa wilayah Nyalabu Daya termasuk daerah yang kekurangan air bersih, baik untuk minum maupun keperluan air sehari-hari lainnya. Salah satunya di wilayah RT 3/RW 2. Kedalaman pipa sumur bor saja sekitar 100 meter lebih untuk akuifer air layak. Guna memenuhi kebutuhan air minum dan keperluan lainnya yang berhubungan dengan air, warga terpaksa membeli air kepada warga desa lainnya. Biasanya di wilayah Laden.

Dengan adanya sumur bor dan bangunan tandon air ini, diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat miskin dalam pengadaan air minum dan untuk pemanfaatan lainnya, seperti untuk mandi, cuci, kakus, dan sebagainya. Bangunan sumur bor dan tandon air sangat dirasakan manfaatnya bagi warga sekitar.

Pelaksana kegiatannya adalah KSM “Semangka”, yang masih eksis hingga kini walau mungkin tidak terlalu formal lagi. Menurut anggota KSM “Semangka” Jailani dan Mudasit, KSM berupaya agar kemanfaatan bangunan ini tidak hanya bertahan sebentar dan berharap agar KSM ini tetap eksis di masyarakat. Ada beberapa hal yang menunjukkan KSM ini eksis dan berkiprah dalam pengelolaan sumber air, di antaranya:

  • Setiap 4-6 bulan diadakan pertemuan antara KSM dengan pemanfaat (sejumlah 40 KK) di sekitar lokasi
  • Penyepakatan iuran di antara pemanfaat sebesar Rp20.000 per bulan per KK digunakan untuk membayar petugas pembagi air sebesar Rp100.000 per bulan dan sebagai simpanan/tabungan serta biaya perawatan. Petugas air, Fudali, melaksanakan tugasnya dengan baik, sehingga tidak ada komplain dari warga pemanfaat, dengan pembagian air berdasarkan kesepakatan waktu (jam).
  • Ada pula kesadaran warga, apabila bak penampung air di rumah warga pemanfaat sudah penuh dan kebetulan Fudali sedang tidak ditempat, dengan sukarela warga menutup saluran kran menuju ke rumah mereka masing-masing.
  • Kalau boleh dibilang, kekayaan KSM hingga saat ini sudah bisa mempunyai 1 buah jet pump cadangan seharga kurang lebih Rp1.750.000 dan meteran air.
Lokasi Tandon Air 2007 

Dari beberapa hal di atas dapat disimpulkan bahwa dari sisi keorganisasian, KSM sudah memiliki tujuan yang jelas. Anggota melaksanakan hak dan kewajibannya, solidaritas tinggi, terdapat pertemuan rutin, pemanfaat miskin, dan lain-lain aspek keorganisasian. Dari sisi akseptansi juga cukup bagus, walaupun dari sisi administrasi perlu dilakukan penguatan-penguatan.

Di samping itu, ada manfaat luar biasa yang terekam dalam perjalanan uji petik ini dan melihat kembali bangunan ini di lokasi. Dibandingkan biaya pembangunan sumur bor dan tandon ini dari APBN dan swadaya di tahun 2007 sebesar Rp18.250.000 dan Rp4,8 juta, dapat dipastikan telah mengurangi beban pengeluaran masyarakat.

Sebelum adanya bangunan ini, sejumlah 40 KK harus mengeluarkan uang Rp150.000 untuk membeli dua tangki air per bulannya (dengan rata-rata kebutuhan 10.000 liter per bulan) untuk kebutuhan air minum dan keperluan lainnya (mandi, cuci, dan lain-lain). Sedangkan sekarang, warga cukup mengeluarkan Rp20.000 per bulan.

Dengan melihat waktu awal berfungsinya bangunan ini, yaitu Agustus 2008, berarti terjadi pengurangan pengeluaran masyarakat sebesar Rp130.000 x 40 KK x 50 bulan = Rp260 juta. Jika dikurangi biaya bangunan sebesar Rp23.050.000 maka masyarakat di RT 3/RW 2 Desa Nyalabu Daya telah menghemat pengeluaran sebesar Rp236.950.000 sejak Agustus 2008 hingga Oktober 2012. Sebuah angka yang fantastis!

Terbukti bahwa keberadaan PNPM Mandiri Perkotaan mampu mengurangi beban pengeluaran masyarakat, utamanya masyarakat miskin. Amazing! Itulah kenyataan. Ditambah pengalaman berharga bagi warga untuk berinteraksi dalam satu komunitas, saling memberi dan saling melengkapi. Sesuatu yang kadang tidak bisa dinilai dengan uang. Kepedulian, kerelawanan, dan komitmen. Satu hal yang pasti, untuk mendapatkan outcome dan output yang baik, pastilah input dan proses yang baik pula sebagai awalannya.

Saya jadi teringat Filsuf Pragmatis dan Psikolog berkebangsaan Amerika William James (1842 - 1910) mengatakan, "The greatest discovery of my generation is that a human being can alter his life by altering his attitudes of mind." Artinya, penemuan terbesar generasi saya adalah bahwa seorang manusia dapat mengubah kehidupannya dengan mengubah perilakunya.” Bisakah itu terjadi kepada kita semua? Semoga. [Jatim]

Editor: Nina Firstavina

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Praktik Baik