Beranda Praktik Baik PB-PPM Akhirnya Antar Jaya Nikmati Air Bersih

Akhirnya Antar Jaya Nikmati Air Bersih

Comments (0) View (3383)
Oleh:
Tim Fasilitator VII
Kab. Barito Kuala
OSP 6 Prov. Kalimantan Selatan     
PNPM Mandiri Perkotaan

Meski Desa Antar Jaya, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tergolong dataran rendah dan berawa, yang notebene wilayah kaya akan sumberdaya air, ternyata tidak terlepas dari persoalan kekurangan air. Kenapa demikian? Sebab, Desa Antar Jaya dan beberapa desa di wilayah ini termasuk penghasil kayu galam, yang sering digunakan sebagai bahan bangunan. Terutama untuk bahan pondasi dan kerangka sebuah bangunan.

Biasanya, untuk mengeluarkan kayu dari lokasi menuju Sungai Barito, masyarakat membuat sebuah kanal. Demikian banyaknya kanal, memengaruhi ketersediaan air. Terutama pada musim kemarau. Perubahan volume air dapat terjadi secara signifikan akibat terlalu banyaknya kanal buatan tersebut. Akibatnya, air cepat masuk dan keluar secara drastis, sehingga sungai-sungai buatan acapkali mengering.

Sungai Anjir Talaran Batola, yang selama ini dimanfaatkan sebagai pemenuhan kebutuhan air masyarakat

Di saat musim penghujanpun, air sungai seringkali tak layak digunakan oleh masyarakat di beberapa desa di area Sungai Talaran, yang umumnya bermata pencaharian sebagai petani itu. Terlebih untuk dikonsumsi. Karena, kadar asam dalam air cukup tinggi dan cenderung kotor. Sarana air bersih milik pemerintah (PDAM) yang berkapasitas sangat terbatas, hingga kini belum juga bisa dinikmati masyarakat, karena letak desa cukup jauh, sekira 20 kilometer, dari Kota Marabahan.

Kondisi alam demikian membuat masyarakat Antar Jaya sejak lama memimpikan adanya sarana pengolah air bersih sendiri. Harapannya, dengan adanya sarana tersebut maka persoalan air bersih bisa diatasi. Masuknya kegiatan penanggulangan kemiskinan melalui PNPM Mandiri Perkotaan menjadi angin segar bagi masyarakat untuk mewujudkan impian mereka yang lama tertunda.

Mulanya masyarakat Antar Jaya melakukan penggalian usulan tiap RT, yang dibantu oleh relawan. Kemudian usulan itu akan menjadi PJM Pronangkis Desa Antar Jaya. Setiap usulan akan diprioritaskan melalui rembug warga menjadi Rencana Tahunan (Renta), dengan salah satu hasil keputusannya berupa kegiatan penyediaan sarana air bersih, yang terdiri atas pengadaan alat penyaringan air bersih dan pembuatan sumur bor. Kegiatan pembangunan Sarana Air Bersih tersebut mulai dikerjakan pada Desember 2012, dan diselesaikan pada Februari 2012.

Sumur Bor lengkap dengan penampungan air dan instalasi pipa ke rumah warga

Sumber dana untuk kegiatan penyediaan Sarana Air Bersih ini dibedakan menjadi dua sumber: untuk pembangunan penyaringan air bersih, 1 paket, bersumber dari APBD Kabupaten Barito Kuala dengan total anggaran sebesar Rp25 juta. Sedangkan untuk pembuatan sumur bor, berjumlah 4 paket, dana bersumber dari APBN sebesar Rp75 juta dan APBD sebesar Rp75 juta, atau total dana Rp150 juta. Swadaya masyarakat diperkirakan berjumlah Rp52.725.000 dalam kegiatan ini berbentuk tenang kerja, alat, konsumsi dan lahan.

Guna memperoleh kualitas air agar layak konsumsi, secara teknis, air dari sumur bor dialirkan melalui tiga tahapan proses penyaringan—3 tandon. Dari tahap 1 ke tahap 2 merupakan penampungan air dari sumur bor yang di dalamnya diberi bebatuan/kerikil dan pasir. Kemudian dari tahap 2 ke tahap 3, air dialirkan melalui penyaringan dengan sebuah alat yang di dalamnya terdapat material-material yang berfungsi untuk menjernihkan air, sehingga layak untuk dikonsumsi.

Sarana Air Bersih ini laksana obat kerinduan yang sudah lama diidam-idamkan oleh masyarakat Desa Antar Jaya. Dengan adanya sarana  air bersih tersebut, masyarakat tidak lagi bersusah payah mengambil air di sungai dan berhari-hari menunggu hingga air dapat dikonsumsi.

“Alhamdulillah, akhirnya kita sudah bisa menikmati air bersih seperti orang Marabahan,” ujar Sekdes Antar Jaya Samsuri kepada Tim Faskel Barito Kuala, yang sedang melakukan monitoring kegiatan awal Agustus 2012 lalu.

Sumber air untuk sarana pengolahan air bersih ini diperoleh dari sumur bor. Menurut hasil Tes Laboratorium dari Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan & Pengendalian Penyakit (BBTKL & PP) Banjarbaru menyatakan, bahwa air air yang diperoleh layak dan bersih. Sedangkan untuk konsumsi, air tentunya perlu dimasak terlebih dahulu, barulah layak minum.

Penyaringan Air Bersih yang dibangun oleh masyarakat

Pemanfaat dari sarana air bersih ini adalah warga miskin berjumlah 50 KK dengan sistem pengelolaannya memberlakukan setiap KK membayar Rp5.000 per bulan untuk distribusi air bersih, bersumber dari penyaringan. Masyarakat pemanfaat mengambil langsung ke tempat penampungan, karena kapasitas tampung air masih sangat kecil. Sedangkan air yang bersumber dari sumur bor dialirkan melalui pipa-pipa yang disediakan secara swadaya ke rumah-rumah masyarakat.

Selain dapat mengatasi persoalan ketersediaan air bersih di desa, yang sebagian besar adalah masyarakat Suku Bakumpai itu, hasil pengelolaan usaha pengolahan air bersih diharapkan  juga dapat dikumpulkan untuk memberi santunan kepada masyarakat miskin di desa ini. Hal tersebut sebagai salah satu perwujudan kesepakatan dalam pelaksanaan kegiatan ini.

“Dengan adanya sarana pengolahan air bersih ini, masyarakat kami menjadi jauh lebih mudah memenuhi kebutuhan air bersih untuk sehari-hari, seperti memasak dan keperluan rumah tangga lainnya,” ujar Samsuri, KSM pengelola Sarana Air Bersih ini.

Semoga sarana pengolahan air bersih dapat dikelola secara berkelanjutan dan dikembangkan untuk meningkatkan usaha (ekonomi) dalam rangka penanggulangan kemiskinan masyarakat. Selamat berjuang dan selamat menikamati buah karya masyarakat. [Kalsel]

Informasi lebih lanjut silakan hubungi:
LKM Jaya Mandiri
Jalan Anjir Talaran Km 12

Contact Person:

  1. Saudah (Koordinator LKM), HP. 085248170495
  2. Tim Fasilitator VII Barito Kuala: Muhammad Ripay, SE (Askot Mandiri), Sahrudin, S.Pd (Senior Faskel), Rahmawati, SE (Fasilitator Ekonomi), Yudha Karnabie, ST (Fasilitator Teknik), Muhammad Radi, ST (Fasilitator Teknik), Mahyudi (Fasilitator Sosial)

Editor: Nina Firstavina

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Praktik Baik