Beranda Praktik Baik PB-PPM Terbangunnya Jembatan Penantian

Terbangunnya Jembatan Penantian

Comments (0) View (3052)
Oleh: 
La Ode Iskandar
BKM Fookuni
Kabupaten Muna  
Sulawesi Tenggara     

Proses dalam PNPM Mandiri Perkotaan diharapkan adanya partisipasi masyarakat yang sangat tinggi dalam memanfaatkan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). Dengan kata lain, swadaya dan kepedulian sangat dibutuhkan agar proses kerjasama dalam pembangunan dapat lebih bermanfaat baik dari segi pelaksanaan kegiatan, monitoring, dan pemeliharaan. Sekaligus diharapkan muncul rasa kepemilikan masyarakat terhadap hasil pembangunan. Kondisi ini terlihat dalam pembangunan infrastruktur di Kabupaten Muna melalui kegiatan Dana BLM Tahun 2012. Khususnya BKM Fookuni, Kelurahan Mangga Kuning.

Salah satu kegiatan infrastruktur di Kelurahan Mangga Kuning yang memberikan manfaat sangat besar bagi masyarakat miskin adalah pembangunan jembatan kayu. Pengerjaannya dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Kali Indah, di RW 03 RT 02, dengan Ketua KSM Muhamad Hadjar, beranggotakan 4 laki-laki dan 3 perempuan.

Kegiatan tersebut mampu menjawab harapan kebutuhan masyarakat yang  telah lama dituangkan dalam PJM Pronangkis Kelurahan, yang selama ini sangat dinantikan realisasinya, baik dari dana APBD maupun lainnya.

Kondisi awal jembatan sebelum dibangun

Jembatan kayu yang ada waktu itu kondisinya mengkhawatirkan. Selain kayunya sudah rapuh dan sempit (sekira 60cm), tanggul penahan jembatan titian juga telah roboh. Kesimpulannya, jembatan yang terbangun sejak masa penjajahan Belanda ini dinilai berbahaya untuk dilalui, terutama di malam hari. Tak satupun warga yang berani melewati jembatan tersebut di malam hari. Maka, masyarakat menilai sudah selayaknya mereka mengajukan perbaikan jembatan dengan memanfaatkan dana BLM PNPM Mandiri Perkotaan Tahap I tahun 2012.

Melalui rembug masyarakat Kelurahan Mangga Kuning, yang dihadiri unsur BKM, pemerintah kelurahan , lembaga/organisasi kelurahan serta masyarakat pada Mei 2012, akhirnya disepakati pengusulan kegiatan pembuatan jembatan kayu dan jalan setapak rabat beton sepanjang 22 meter. Anggaran yang diserap untuk kegiatan tersebut berasal dari APBN Rp16.298.000, swadaya Rp9.563.000.

Proses pengerjaan jembatan oleh KSM bersama warga

Kegiatan pembangunan jembatan dimulai sejak 3 Juli 2012, menggunakan dana APBN dan swadaya. Masyarakat menyelesaikan kegiatan pembangunan jembatan sepanjang 8 meter dan lebar 1,5 meter, dengan kondisi  sangat baik.

Namun, masyarakat menginginkan volume pembangunan diperbesar. Partisipasi masyarakatpun meningkat. Begitu juga swadaya masyarakat yang ditingkatkan melaui rembug untuk membuka akses lebih jauh agar jalanan dapat dilalui oleh kendaraan. Dengan demikian, pembangunan jembatan ini dapat membantu masyarakat mempersingkat waktu tempuh.

Uniknya, walau Kabupaten Muna terkenal sebagai penghasil kayu jati, tidak sedikitpun terbesit di benak KSM untuk merambah hutan. Padahal jika dilihat secara geografis, letak pekerjaan jembatan ini tidak jauh dari lokasi hutan jati Warangga, yakni sekira 300 meter saja. Makanya, untuk kebutuhan kayu gelagar jembatan, masyarakat memanfatkan kembali kayu bekas jembatan lama, ditambah kayu yang dibeli dari supplier yang memiliki SK-SHK. Sebagian kayu bahkan diperoleh dari lahan masyarakat setempat, seperti yang diungkapkan oleh Ketua RW 03 L. Alik.

Warga sudah bisa melewati jembatan dengan naik motor

Hasil kegiatan ini memberikan kontribusi langsung terhadap masyarakat Kelurahan Mangga Kuning, khususnya 134 KK miskin yang berdomisili  di RT 02/RW 03, sebagai lokasi sasaran. Kini mereka dapat lebih mudah mengakses jalan.

Bagian bawah jembatan

“Pembangunan Jembatan ini sudah selalu kami usulkan. Sejak adanya dana BLM di Kelurahan Mangga Kuning dan Musrenbang, tapi belum langsung teralisasi, karena masih banyak kegiatan yang lebih prioritas. Jadi, Alhamdulillah, tahun 2012 ini dana BLM dapat menjawab penantian warga. Salah satunya, kami tidak lagi harus memutar jalan sampai melintasi kelurahan lain, Kelurahan Watonea, untuk ke rumah warga RW 03 RT 02,” ujar Alik.

Sedangkan kualitas jembatan, menurutnya, masyarakat berharap usia jembatan bisa mencapai usia puluhan tahun. Untuk itulah swadaya masyarakat untuk pengerjaan jembatan ini melebihi target. “Apalagi kayu yang digunakan untuk gelagar jembatan adalah balok jati 30/30, agar struktur jembatan bertahan sampai puluhan tahun,” tutur dia.

Sebagai upaya pemeliharaan, telah dibentuk OPP, sehingga jika ada kerusakan, bisa diperbaiki secara bergotong royong, tanpa mengalokasikan lagi dana BLM. “Kegiatan ini sudah dilakukan sertifikasi pada tanggal 2 Agustus 2012,” kata Koordinator BKM Fookuni La Ode Iskandar. [PL – Sultra]

Informasi lebih lanjut silakan hubungi:

BKM Fookuni
Kelurahan Mangga Kuning, Kecamatan Katobu
Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara

Contact Person: 
La Ode Iskandar (Koordinator BKM), HP. 081341505001

Editor: Nina Firstavina

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Praktik Baik