Beranda Praktik Baik PB-PPM Pelatihan Aksesori Tumbuhkan Kemandirian

Pelatihan Aksesori Tumbuhkan Kemandirian

Comments (0) View (3801)
Oleh:
Sri Windarsih
Fasilitator Sosial
Tim Kota 4
OC 5 Prov. D.I. Yogyakarta    .
PNPM Mandiri Perkotaan

Dunia perempuan tidak pernah terlepas dari namanya aksesori. Tak heran jika usaha kecil aksesori sangat digemari. Dari segi peluang usaha pun, bisnis aksesori merupakan usaha yang cukup potensial. Ini juga disadari oleh warga Kelurahan Gunungketur, terutama kaum perempuan.

Mereka menilai pembuatan aksesori ini akan membuka peluang untuk memberikan penghasilan sehingga dapat meningkatkan taraf hidup. Dengan adanya penilaian tersebut,  banyak warga yang berkeinginan untuk dapat lebih memberdayakan masyarakat ekonomi lemah (miskin) dengan mengusulkan diadakannya pelatihan aksesori sebagai salah satu kegiatan sosial yang dapat diangkat dalam PJM Pronangkis.

Melalui jejaring usulan kegiatan yang dilakukan oleh BKM Giri Makmur melalui Tim Review Programnya, kegiatan pelatihan aksesori ini diusulkan agar dapat masuk dalam PJM Pronangkis. Setelah mengkaji potensi yang ada dan melihat kebutuhan masyarakat akan perlunya pelatihan aksesori, maka melalui rembug warga di tingkat kelurahan dalam rangka prioritas kegiatan “Pelatihan Aksesori” ini diterima dan dimasukkan dalam PJM Pronangkis serta diprioritaskan dalam kegiatan sosial PNPM 2010.

Mengingat BKM Giri Makmur mendapatkan stimulan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan sebesar Rp150 juta, maka alokasi kegiatan pelatihan aksesori ini disepakati dengan memanfaatkan dua sumber pendanaan dari Tahap II APBD dan III APBN, masing-masing Rp2.850.000. Jadi totalnya Rp5,7 juta, dengan tujuan dapat berkelanjutan sesuai tujuan dari PNPM itu sendiri.

Proses Pelatihan aksesori di BKM Giri Makmur

Untuk pelaksanaan Pelatihan Aksesori di BKM Giri Makmur perlu dibentuk KSM, yang akan bertanggung jawab melaksanakan kegiatan sesuai dengan usulan dan aturan yang ada. BKM dan UPS melakukan pendampingan dan monitoring. KSM yang mengelola kegiatan pelatihan aksesori ini bernama KSM Jasmin, terdiri dari Ninik Rochani sebagai ketua serta Watik Lestari, Ida Dewi Pujiati, Yuli Aryani dan Widi Istanti sebagai anggota.

Melalui KSM Jasmin inilah disusun rencana anggaran biaya (RAB), baik RAB BLM PNPM maupun swadaya masyarakat. Jejaring peserta pelatihan dilakukan dengan bekerjasama dengan RW dan PKK dengan didampingi oleh BKM dan UPS.

Salah satu hasil pelatihan aksesori yang dikelola KSM Jasmin

Salah satu syarat peserta pelatihan aksesori adalah warga yang benar-benar membutuhkan dan merupakan warga miskin. Dibuktikan dengan kartu KMS atau surat keterangan tidak mampu melalui RT/RW. Melalui jejaring peserta inilah akhirnya sejumlah 20 orang mengikuti pelatihan. Seluruh peserta pelatihan adalah kaum perempuan dari keluarga miskin.

Kegiatan pelatihan ini dilakukan 3 metode yaitu teori, praktek dan pemberian motivasi kewirausahaan. Dalam kegiatan pelatihan ini, peserta diberi bahan praktek agar dapat berlatih secara langsung. Untuk tahap pertama melalui dana Tahap II APBD dilakukan 7 kali pertemuan dan membuat sandal kamar, korsase, sulam pita dan payet.

Kemudian dilanjutkan dengan dana kegiatan tahap III APBN, 5 kali pertemuan dan kerajinan yang dibuat adalah tas, sarung bantal dengan hiasan sulam pita dan payet. Hari terakhir, dilakukan evaluasi hasil pelatihan dan pelatihan kewirausahaan oleh motivator, dengan harapan peserta dapat termotivasi untuk mengembangkan usaha.

Dalam  pelatihan, peserta mengikuti dengan penuh  antusias. Mereka menyadari manfaat dari pelatihan tersebut dapat memberikan penghasilan dan meningkatkan taraf hidupnya. Dengan keseriusan peserta, hasil yang diperoleh pun tidak mengecewakan. Terbukti, beberapa peserta, yaitu Heksawati, Surtinah dan Sofiyati, mampu memproduksi tas yang dijual secara langsung di lingkungan dan pertemuan-pertemuan warga. Bahkan, hasil produknya sudah dipakai oleh beberapa pegawai bank dengan harga jual Rp75.000 per unit.

Pendapatan rata-rata per bulan dari ketiga peserta tersebut, masing-masing sekitar Rp400.000. Penghasilan tersebut dirasakan cukup membantu untuk menambah pendapatan keluarga.

Melihat tiga orang peserta yang telah sukses berproduksi, muncul ide KSM untuk mengelola peserta pelatihan agar dapat berproduksi seperti yang telah dilakukan Heksawati, Surtinah dan Sofiyati.

Ide tersebut ditindaklanjuti oleh Ninik (Ketua KSM), dengan mengadakan pertemuan  peserta pelatihan. Hal tersebut mendapat respon yang cukup bagus dari peserta dan disepakati untuk mengajukan dana pinjaman bergulir ke UPK BKM Giri Makmur sebagai modal usaha/produksi yang dikelola oleh KSM.

Mukena bordir, hasil pelatihan aksesori yang dikelola KSM Jasmin

Dengan beranggotakan 18 orang, yang dikoordinir oleh KSM Jasmin, mereka mendapat pinjaman modal usaha sebesar Rp9 juta. Dalam pengelolaan dana ini disepakati dibentuk tim pengelola. Sebagai tim pengelolanya adalah KSM Jasmin.

Melalui KSM inilah dana Rp9 juta itu dibelikan bahan produksi. KSM yang menjual produknya, peserta pelatihan yang memproduksi dan mendapat upah dari hasil pembuatan tas. Penghasilan peserta rata-rata mencapai Rp 400.000 per bulan dari pembuatan tasnya.

Tentu saja hasil produk peserta inipun perlu dipikirkan masalah pemasarannya. Gayung bersambut. Kebetulan salah satu anggota BKM yang bernama Rudi, telah lama menekuni bisnis serupa. Ia bersedia memasarkan hasil karya peserta. “Pelatihan tidak hanya sekadar pelatihan, tetapi sampai peserta itu bisa berproduksi. Dan untuk masalah penjualan, saya siap membantu,” kata Rudi.

Area pemasaran saat ini adalah Yogyakarta, Jakarta, dan Surabaya. Untuk sementara waktu, pemasaran ke Surabaya dilakukan oleh KSM melalui kolega. Sedangkan pemasaran ke Jakarta dilakukan oleh Rudi, dengan mengikuti pameran-pameran kerajinan. Kedua penjualannya masih bersifat tentatif, tergantung pada permintaan dan jadwal pameran.

Namun, untuk pemasaran di Yogyakarta, bisa dibilang, sudah lebih mapan. Di samping dijual secara langsung di lingkungannya, produk alumni peserta pelatihan juga sudah dipasarkan oleh PT. Mirota Batik dan Toko Assidiq. Omzet penjualan di toko tersebut sekira 40 tas per bulan.

Adanya kerjasama tersebut memberi dampak positif pada keberlanjutan produk tas ini. Hasil keuntungan penjualan produk tersebut sebagian untuk KSM, simpan-pinjam anggota, dan penambahan modal usaha.

Adanya pelatihan aksesori ternyata ini dapat membawa perubahan, kemandirian, keberlanjutan, bahkan membuka lapangan kerja baru. Untuk itu, kita sebagai generasi penerus, hendaknya senantiasa peduli untuk mandiri. (OC 5 DIY)

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini silakan hubungi:

BKM Giri Makmur
Kelurahan Gunungketur, Kecamatan Pakualaman 
Kota Yogyakarta 
Prov. D.I. Yogyakarta

Contact Person:

Rudy Supriyadi (BKM Giri Makmur), HP. 08122701746

Editor: Nina K. Wijaya

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Praktik Baik