Beranda Praktik Baik PB-PPM Merenda Sebuah Keterkaitan

Merenda Sebuah Keterkaitan

Comments (0) View (4675)
Oleh: 
Raditya Kurniawan 
Fasilitator Sosial Tim Kota 3  
Yogyakarta 
OSP 5 DIY 
PNPM Mandiri Perkotaan 

BKM Ngudi Mulyo berada di Kelurahan Bausasran yang mempunyai potensi perekonomian tinggi, karena di wilayah tersebut terdapat Stasiun Kereta Api Ekonomi Lempuyangan. Stasiun Lempuyangan setiap hari dipadati penumpang, sehingga memunculkan potensi kuliner. Di sekitar stasiun muncul warung-warung makan yang menyajikan hidangan yang beraneka ragam makanan, salah satunya adalah masakan dari ikan (pecel lele, nila goreng, dan lain-lain).

Di sekitar stasiun terdapat lebih dari tiga warung makan yang menjual produk olahan ikan. Harga lauk olahan ikan relatif lebih murah dibandingkan dengan harga lauk daging. Pelanggan yang datang untuk makan pun banyak, bahkan hingga malam. Dan, masih banyak potensi lain yang bisa dikembangkan, seperti adanya lahan yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Lahan tersebut terletak di RW 03, RW 04 dan RW 05. Lahan adalah milik warga, tapi boleh digunakan untuk keperluan warga setempat.

Potensi lainnya adalah keberadaan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang mewadahi beberapa Kelompok Tani (Poktan) bernama Gapoktan Gemah Ripah (RW 09), Amanah (Pimpinan Ranting Aisyiyah Bausasran), dan Sekar Arum (RW 06 Macanan). Ketiga kelompok ini merupakan dampingan Dinas Pertanian Kota Yogyakarta dan sudah berumur lebih dari setahun, sehingga sudah dikenal dan mengakar di masyarakat Kelurahan Bausasran.

Penaburan bibit lele oleh Camat Danurejan, Lurah Bausasran dan KSM Gubug Bambu Lestari

Gapoktan ini sudah didampingi oleh Dinas Pertanian Kota Yogyakarta serta sudah mendapatkan bantuan kendaraan operasional untuk memasarkan hasil olahan dari para Poktan. Alasan melibatkan gapoktan dampingan Dinas Pertanian karena sejalan dengan program dinas pertanian untuk meningkatkan konsumsi ikan masyarakat, sehingga dibutuhkan jejaring yang lebih luas untuk mencapai tujuan tersebut. Disamping itu perlu diversifikasi produk olahan ikan, semisal abon, nugget, crispy, dan lain-lain, sehingga masyarakat tertarik untuk mengonsumsi ikan.

Berangkat dari potensi-potensi yang ada , muncul gagasan pelatihan budidaya lele dan pelatihan olahan berbahan dasar ikan. Kedua jenis pelatihan tersebut menjadi prioritas kegiatan sosial BKM Ngudi Mulyo pada tahun 2012 yang didanai dari PNPM BLM tahun 2012. Pelatihan budidaya lele diwadahi dalam sebuah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Gubug Bambu Lestari yang dikoordinir oleh Gery Mona.

KSM Gubug Bambu Lestari sebagian besar anggotanya adalah 16 orang pemuda, sekitar 2% dari total penduduk miskin di Kelurahan Bausasran, dengan total warga miskin 755 jiwa (265 KK), yang belum mempunyai pekerjaan tetap. Para pemuda ini sebagian besar belum mempunyai pekerjaan yang tetap, sehingga membutuhkan pendapatan tambahan. Pemuda memilih budidaya lele karena tidak membutuhkan waktu yang banyak serta dapat dijadikan pekerjaan sampingan yang bisa menambah pendapatan. Para pemuda ini sudah pernah melakukan budidaya lele pada tahun 2008, tapi gagal, sehingga melalui program pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam hal budidaya ikan lele yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan keluarga.

Pelatihan Budidaya Lele ini mendapatkan dukungan dari Lurah Bausasran serta Camat Danurejan. Bahkan, menurut keduanya setiap penduduk di Kelurahan Bausaran dapat memanfaatkan lahan sempit emperan (tritisan) di depan maupun samping rumahnya masing-masing untuk budidaya lele untuk konsumsi keluarga, sehingga kebutuhan gizi keluarga dapat tercukupi dari ikan lele mereka sendiri.

Pelatihan Budidaya Lele telah dilakukan pada hari Minggu, 17 Juni 2012, di RW 04 Kelurahan Bausaran dengan dana dari PNPM Mandiri Perkotaan sebesar Rp6.625.000, dengan swadaya sebesar Rp3.450.000. Swadaya sebesar 50% ini salah satunya berasal dari dua kolam permanen yang sudah ada. Kolam permanen tersebut coba dinilai dengan rupiah sebagai salah satu bentuk swadaya masyarakat.

Dana PNPM digunakan untuk pengadaan bibit, pakan dan kolam terpal. Rencana pembuatan kolam awalnya hanya sebanyak tiga buah. Namun, dalam realisasinya menjadi 6 kolam, yang terdiri dari 4 kolam terpal dan 2 kolam permanen yang tersebar di ketiga RW. Bahkan, rencananya masih akan bertambah 2 kolam terpal lagi.

Pembuatan kolam permanen oleh
masyarakat secara swadaya
Pelatihan Budidaya Lele mendapatkan
dukungan dari lurah dan camat

Bibit lele

Kolam terpal

Pelatihan tersebut mendatangkan narasumber Agus Suteja dan Bambang dari Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislautkan) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Provinsi DIY mempunyai empat komoditas unggulan di bidang perikanan, yaitu ikan lele, ikan mas/nila, ikan gurami dan ikan hias.

Menurut narasumber pelatihan ini cocok dengan komoditas unggulan di Provinsi DIY, sedangkan untuk kolam sebaiknya ketinggian air ditambah agar terpal lebih awet. Dalam pelatihan tersebut narasumber juga menyarankan untuk menjamin keberlanjutan budidaya lele agar KSM Gubug Bambu Lestari ini dengan didaftarkan di Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Yogyakarta agar mendapatkan fasilitas program dan pendampingan dari dinas-dinas terkait di Provinsi DIY.

Untuk kegiatan pelatihan memasak olahan ikan rencananya akan didanai dari PNPM Mandiri Perkotaan BLM tahun 2012 tahap kedua sebesar Rp2.317.000 dengan swadaya sebesar Rp700.000. Pelatihan ini dilakukan oleh KSM Surya Gemilang, yang sebagian besar anggotanya adalah ibu rumah tangga. Berdasarkan komunikasi dengan para pengurus Gapoktan di Kelurahan Bausasran bahwa olahan makanan berbahan dasar ikan yang laku adalah filet ikan (ikan tuna, gurami dan kakap), abon lele, nugget ikan (ikan kakap, lele dan nila), crispy ikan (ikan nila, wader, dan lain-lain).

Di samping itu Gapoktan bersedia memasarkan produk olahan ikan yang sesuai dengan standar kualitas yang telah ada. Akhirnya diputuskan pelatihan olahan ikan akan diisi dengan materi cara pembuatan abon lele, nugget ikan (ikan lele dan nila) serta crispy ikan nila. Ini tidak lepas dari komunikasi intensif yang dilakukan oleh BKM, lurah dan pengurus Gapoktan yang difasilitasi oleh Tim Fasilitator 3 PNPM Mandiri Perkotaan Kota Yogyakarta. Meski kerjasama yang dirintis belum diperkuat dengan hitam di atas putih, masing-masing sudah berkomitmen untuk bekerjasama yang saling menguntungkan dalam hal pengelolaan, pengolahan dan pemasaran produksi ikan lele baik segar maupun dalam bentuk olahan.

Kolam budidaya (terpal) Kolam budidaya (permanen)

Dengan adanya dua kegiatan pelatihan tersebut di atas diharapkan akan muncul sinergi dari sisi produsen ikan (KSM Gubug Bambu Lestari) produsen olahan ikan (KSM Surya Gemilang) serta bidang pemasaran (Gapoktan). Diharapkan dengan adanya sinergi maka hasil yang didapatkan akan lebih maksimal. Dengan adanya pembagian peran antara kelompok budidaya lele, kelompok pengolahan lele dan pemasaran (Gapoktan) maka akan lebih fokus pada bidangnya, serta terjamin keberlanjutan dari program ini.

KSM Gubug Bambu Lestari memproduksi lele yang bisa dipasarkan ke warung-warung pecel lele di sekitar Kelurahan Bausarsan dan bisa juga dijadikan bahan baku olahan oleh KSM Surya Gemilang menjadi abon, nugget, crispy ikan yang lebih awet dan bisa dipasarkan melalui Gapoktan. Keterkaitan dari tiga bidang tersebut diharapkan dapat menggerakan kegiatan perekonomian dan meningkatkan pendapatan warga miskin serta program jangka panjangnya bisa menjadi program unggulan di Kelurahan Bausaran. [DIY]

Analisis Usaha Budidaya Lele Terpal per 1000 ekor selama 2 bulan:

A. Biaya Investasi    
    Terpal untuk 4 kali panen: Rp120.000/4 panen Rp30.000
B. Biaya Tetap    
    Penyusutan Terpal per panen   Rp30.000
C. Biaya Variabel    
    1. Pakan 40 kg x Rp7.000       Rp280.000
    2. Benih lele uk. 7/9 1000 ekor x Rp300 Rp300.000
    3. Obat/prebiotik 1 botol x Rp35.000 Rp35.000
    4. Tenaga kerja (anggota KSM)     1 periode x Rp200.000 Rp200.000
 Total Biaya Variabel    Rp845.000
     
 Total Biaya = Biaya Tetap + Biaya Variabel = Rp30.000 + Rp845.000 = Rp875.000

Pendapatan 

Asumsi kematian 5% (50 ekor) dengan berat panen 125 – 130 gr per ekor lele (catatan: 1 kg isi 7 – 8 ekor lele), harga lele dari kolam Rp 10.000 per kilogram.

Pendapatan = (950 ekor x 125 gr) x Rp10.000
=  123,5 kg x Rp10.000
= Rp1.235.000

Laba

Laba = Pendapatan - Biaya
=   Rp1.235.000 - Rp875.000
= Rp390.000

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini silakan hubungi Contact Person: 

Estri Utami (UPS BKM Ngudi Mulyo) 
RW 06 Macanan Kel. Bausasran
Kec. Danurejan, DI Yogyakarta

Raditya Kurniawan (Fasos Tim Kota 3 Yogyakarta), HP. 085643575851

Editor: Nina Firstavina

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Praktik Baik