Peran Strategis Pusinfo Dalam mendukung keberlanjutan P2KP

Comments (0) View (1238)
Kita semua tahu bahwa tujuan besar P2KP adalah melakukan perubahan pola pikir masyarakat tentang penanggulangan kemiskinan. Apapun juga bentuk tujuan dan sasaran yang ditetapkan, pada dasarnya P2KP adalah melakukan perubahan. Dan perubahan itu harus menukik sampai perubahan pola pikir karena disanalah sumber dari semua perubahan. Perubahan sendiri bersifat konstan. Artinya semua organisme hidup pasti mengalami perubahan. Dan perubahan adalah kodrati, artinya begitulah cara Allah memelihara kehidupan. Oleh karena itu, setiap organisme hidup yang tidak mampu berubah, pasti akan tenggelam dan punah ditelan perubahan itu sendiri. Barangkali, untuk bisa menggambarkan perubahan dengan tepat adalah dari peribahasa Arab: ¡§Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu¡¨. Artinya perubahan adalah kafilah, dan yang tidak mampu berubah (maaf) hanya bisa menggonggong¡K Tantangan Perubahan Banyak sekali orang berbicara tentang perubahan, tetapi banyak juga dari mereka yang tidak memahami tantangan perubahan. Melakukan perubahan bukan pekerjaan yang mudah, banyak sekali tantangan yang menghadang, dan jika kita tidak memahami tantangan-tantangn ini dengan baik, maka upaya melakukan perubahan hanya akan berhenti di tempat (stagnan). Apa saja tantangan perubahan? Pada prinsipnya, perubahan mengandung tiga tantangan; yaitu gagal di awal, tata ulang, dan keberlanjutan. Kondisi gagal di awal disebabkan tidak adanya lagi waktu untuk melakukan kegiatan perubahan, tidak tersedianya sumber belajar, tidak relevannya kegiatan yang dilakukan dengan tujuan perubahan, dan tidak kredibelnya pelaku perubahan. Ketika sebuah lembaga sudah berhasil melampaui tahapan gagal di awal, mereka akan menghadapi tantangan kedua, yaitu tata ulang. Pada tahap ini lembaga mulai mempertanyakan: apakah yang kita lakukan sudah benar? Apakah kita tidak perlu menata kembali sistem dan struktur yang ada? Tahap tata ulang sudah dilalui, semua sistem dan struktur di lembaga tersebut akan berjalan secara otomatis dan terdapat mekanisme memperbaiki diri sendiri (self renewing system), lembaga akan dihadapkan pada tantangan ke tiga: keberlanjutan. Apakah lembaga ini perlu diteruskan? Apakah lembaga masih diperlukan? Lesson learned P2KP-I tahap 1 Laporan evaluasi terhadap P2KP I tahap-1 menunjukkan bahwa hampir 87% BKM belum mandiri, artinya „odari sudut pandang perubahan„o BKM banyak yang belum bisa melampaui tahapan gagal di awal. PK-BKM banyak yang tidak punya waktu lagi untuk menjalankan amanat masyarakat, mereka tidak memiliki lagi sumber belajar untuk memperkaya kasanah nalar yang sangat diperlukan untuk melaksanakan kegiatan, mereka banyak yang terjebak ke arah pengelolaan kredit mikro sehingga tidak relevan lagi dengan pemberdayaan masyarakat, dan hal-hal tersebut membuat PK-BKM tidak lagi dipercaya masyarakat (tidak kredibel). Sedangkan BKM yang berhasil melampaui tahap gagal di awal, mulai bertanya kepada diri mereka sendiri: apakah praktik yang selama ini dilakukan sudah tepat? Apakah BKM tidak perlu menata ulang sistem dan struktur mereka supaya mereka tetap bisa tanggap terhadap dinamika perubahan yang terjadi di masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini pernah dilontarkan kepada KMW di beberapa tempat, dan kami menjawab: jika memang diperlukan tata ulang, mengapa tidak? BKM mendesakkan pertanyaan selanjutnya: bagaimana caranya melakukan tata ulang pak KMW? Dan „omeskipun dari pengamatan di KMW kami belum ada BKM yang mampu melalui tantangan ke dua„o BKM yang sudah melalui tantangan ke dua akan mulai bertanya: apakah lembaga BKM masih diperlukan? Bukankah masyarakat sudah memasuki tahap civil society yang sebenarnya? Oleh karenanya, mengapa masih harus ada BKM? Kesimpulannya, banyak BKM yang belum mandiri bukan karena P2KP tidak berhasil mentransformasikan prinsip dan nilai, tetapi kesalahannya justru terletak pada kurangnya pengetahuan dan keterampilan BKM untuk menghadapi tantangan perubahan! Dan hal ini disebabkan oleh tidak adanya bantuan berupa sumber belajar dan tidak tersedianya waktu untuk melanjutkan perubahan. Bagaimana cara menghadapi resiko gagal di awal? Cara yang paling bisa dilakukan adalah menyediakan bantuan sumber belajar dan menyediakan waktu, karena dua hal ini akan berpengaruh terhadap relevansi kegiatan dan kredibilitas BKM. Dua hal ini pula yang sering dikeluhkan BKM ketika konsultan sudah phasing-out. Pertanyaannya adalah: apakah dengan terus memberikan bantuan kepada BKM akan membuat BKM semakin manja dan tidak mandiri? Tentu tidak. Yang membuat BKM semakin manja adalah ketika konsultan tetap ada di lapang dan mendampingi secara terus-menerus. Dan hal ini juga tidak diinginkan oleh BKM. Yang diperlukan BKM dalam proses belajarnya adalah tersedianya bantuan atau referensi ketika mereka sedang membutuhkannya untuk belajar. Masyarakat belajar seperti orang dewasa, mereka akan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan dinamika belajar mereka sendiri. Atau „odalam istilah pembelajaran„o mereka hanya bisa belajar ketika mereka merasa tidak bisa menyelesaikan persoalan mereka „oatau ketika mereka menghadapi situasi yang disebut: the moment of truth. Ketika mereka menghadapi momen kebenaran (the moment of truth) ini, siapa yang akan memberikan bantuan pengalaman dan pengetahuan? Sedangkan konsultan dan faskel sudah tidak ada lagi? Apakah Pemda? Ataukah Forum Komunikasi BKM? Apakah mereka benar-benar bisa diandalkan untuk menjaga keberlanjutan proses belajar masyarakat? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dengan sangat segera! Jika tidak dijawab, maka P2KP I tahap-2 juga akan mengalami hal yang sama dengan tahap-1. Disinilah pentingnya Pusinfo! Yang dibutuhkan PK-BKM untuk menghadapi tantangan gagal di awal adalah tersedianya wahana (vihicle) untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. Dan, peran strategis ini „osaat sekarang„o hanya bisa dilakukan oleh Pusinfo bersama-sama Forum Komunikasi BKM. Pertanyaan yang kemudian relevan adalah: apakah bisa, dan bagaimana caranya? Pasti bisa, dengan syarat Pusinfo dan Forum BKM mau menambah fungsi mereka dengan fungsi pengelolaan pengetahuan dan pengalaman (knowledge management). Artinya, ketika BKM dan masyarakat menemui situasi momen kebenaran (the moment of truth), BKM dan masyarakat tahu harus mencari bantuan kemana dan kepada siapa. Jika fungsi manajemen pengetahuan dan pengalaman ini dijalankan dengan baik, maka proses belajar masyarakat dan BKM akan terus berlanjut. Dan keberlanjutan proses belajar masyarakat, berarti juga keberlanjutan program P2KP di masyarakat tersebut tetap terjaga. Apakah selama ini Forum BKM belum pernah melakukan sharing? Pasti sudah. Tetapi kebanyakan sharing yang terjadi adalah di lingkup data dan informasi, bukan di lingkup pengetahuan dan pengalaman. Akibatnya BKM kurang mendapatkan pengkayaan nalar dan inovasi yang sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan mereka sehari-hari. Secara perlahan tapi pasti, Forum BKM dianggap tidak memiliki kontribusi terhadap kegiatan BKM dan BKM semakin tidak memiliki ¡¥sense of belonging¡¦ terhadap Forum. Kondisi ini akan lain jika Forum „oyang didukung sepenuhnya oleh Pusinfo„o menambah fungsinya menjadi manajemen pengetahuan dan pengalaman . Sebagai wahana manajemen pengetahuan, Pusinfo tidak sekedar memberikan pemahaman tentang hubungan antar data, tetapi memberikan pemahaman tentang pola yang bisa dijadikan landasan BKM untuk menyelesaikan persoalan mereka sendiri. Apa yang dibutuhkan Pusinfo untuk menjalankan fungsi ini? Yang dibutuhkan hanya dua: membuat desain dan praktik manajemen pengetahuan, dan mempekerjakan pekerja pengetahuan (knowledge worker). Triyoga S KMW-XIII / P2KP I-2

0 Komentar