Beranda Praktik Baik PB-PPM Perubahan itu Karena Selaras

Perubahan itu Karena Selaras

Comments (0) View (2409)
Oleh:
Ika Astuti
Asisten Kota CD
Kab. Aceh Besar
OSP 10 Provinsi Aceh
PNPM Mandiri Perkotaan   

Judul di atas terkesan provokatif dan lebay. Tapi, siapapun yang melihat langsung fakta di lapangan, khususnya Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, yang menjadi pilot project program Selaras PNPM Mandiri Perkotaan Aceh Besar, akan langsung tersenyum dan bilang, “Wow! Kok bisa ya?” Apalagi setelah berbicara atau berinteraksi dengan relawan gampong yang dijadikan relawan program Selaras.

Program Selaras menjadi tren tersendiri di antara isu hot lain, seperti isu Pilpres dahulu, rencana kenaikan tarif dasar listrik, kenaikan harga BBM, dan wali nanggroe di Aceh Besar. Selaras menjadi magnet yang cukup kuat yang menarik semua pelaku pemberdayaan di Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, baik pendamping maupun masyarakat, untuk menjalankan program sesuai dengan siklus, mekanisme dan capaian program. Hal ini wajar, karena masyarakat menilai ada sesuatu yang beda dari program ini dibanding program lain yang mereka rasakan.

Di antaranya: pertama, setiap kegiatan rapat, yang diundang seimbang antara laki-laki dan perempuan. Padahal sebelumnya, kalau ada acara rapat maupun pertemuan lainnya, dalam program apapun, selalu laki-laki yang mendominasi suara.

Kedua, suara kaum perempuan juga sangat diperhatikan, bahkan diangkat ke permukaan oleh Tim Fasilitator, dan bisa menjadi sebuah keputusan ketika pendapat tersebut memang penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat miskin di gampongnya. Hal ini tidak terjadi sebelumnya di Kecamatan Krueng Barona Jaya. Dulu, perempuan tidak berani bicara di forum rapat gampong, karena itu dianggap “wilayahnya” kaum laki-laki.

Ketiga, perempuan dilibatkan sebagai subyek pembangunan, karena diperhatikan pendapatnya, serta dimotivasi untuk berbicara dan mengeluarkan idenya untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Keempat, dalam program selaras ini, orang yang paling miskin, cacat bahkan yang dianggap orang tidak penting diGampong itupun dilibatkan dan dimintai pandapatnya dalam prosesperencanaan dan pembangunan Gampong.

Kelima, perempuan sudah mulai berani beradu argumen dengan laki-laki ketika merasa bahwa pendapatnya lebih baik dan untuk kepentingan yang lebih luas. Ini juga pengaruh dari jumlah perempuan yang ikut pertemuan jumlahnya seimbang dengan laki-laki.

Kondisi tersebut di atas bisa tercapai tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu perjuangan dan komitmen yang tinggi dari Tim Fasilitator untuk merubah mindset masyarakat yang sudah punya paradigma tersendiri dari program-program lain yang sudah pernah ada. Tentu ada kendala tentang perbedaan pendekatan dari program ini, tapi fasilitator berhasil meyakinkan masyarakat bahwa setiap program punya ciri khas tersendiri. Begitu juga dengan program Selaras.

Dimulai dengan sosialisasi program yang menjelaskan tentang arah, capaian dan ciri khas Selaras, agar semua elemen masyarakat paham terhadap program Selaras. Kemudian perekrutan relawan Selaras yang menjadi dinamisator di lapangan. Lalu dilakukan pertemuan di tingkat basis—perempuan, kelompok rentan miskin, dan lain-lain. Pertemuan ini bertujuan penyampaian informasi mengenai program (ciri khas 1 dari program Selaras). Ternyata hasilnya cukup memuaskan. Masyarakat mau berkumpul dan banyak menanyakan seputaran perbedaan program PNPM yang sebelumnya dengan program Selaras. Pertanyaan ini jadi senjata yang ampuh untuk meyakinkan perempuan ikut berperan aktif dalam setiap proses, sehingga perencanaan gampong akan menampung aspirasi dari setiap kebutuhan masyarakat.

Setelah dilakukan sosialisasi, dilanjutkan dengan FGD kemiskinan dan FGD keselarasan dalam hal pembangunan. Yang unik dari FGD ini, peserta tidak merasa bahwa dalam banyak hal selama ini ternyata perempuan selalu tertinggal karena kemiskinannya. Kepentingan dan kebutuhan perempuan tidak menjadi prioritas dalam perencanaan. Padahal sesekali perempuan juga diundang dalam program lain, tapi tidak berani bersuara. Mereka menyatakan, selama ini ada kalanya beberapa perempuan memang ikut dalam perencanaan, tetapi tidak mampu mempertahankan argumentasinya menjadi skala prioritas untuk pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan gampong.

Dari hasil diskusi ini barulah peserta FGD sadar bahwa mereka terhitung secara kuantitas, tetapi bukan kualitasnya. Dengan FGD yang sederhana ini menunjukkan dengan jelas bahwa kemiskinan yang masih tampak, tapi prioritas pembangunan masih kurang pro terhadap penyelesaian masalah masyarakat miskin. Dari hasil FGD tingkat basis, disepakatilah pada level gampong sampai teridentifikasinya kriteria kemiskinan, sehingga memudahkan Tim Relawan Selaras dalam melakukan Pemetaan Swadaya (PS).

Pada tahapan perencanaan inilah banyak hal yang menarik. Relawan dan masyarakat diajak untuk berpikir dan menggali potensi desanya, sehingga akan muncul kebutuhan paling mendasar untuk mengatasi masalah kemiskinan yang mereka hadapi . Dari penggalian masalah tersebut mereka mengunakan metode kajian sederhana dan membutuhkan banyak partisipasi, yaitu mengunakan kajian peta dusun. Dari kajian ini relawan mengambarkan rumah-rumah KK miskin berdasarkan kriteria FGD kemiskinan dari tingkat desa. Dari sebaran rumah KK miskin tersebut relawan menggali kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh setiap rumah KK miskin dari proses ini (memastikan ciri khas ke-2 dari Selaras terpenuhi).

Dari hasil berbagai masalah dan potensi, muncullah beberapa masalah yang harus segera diselesaikan, yaitu: (1) seringnya anak-anak terjatuh ke dalam saluran yang berada di depan PAUD Raudhatul Qudus dan tempat lainnya; (2) Ada 3 kk yang kesulitan dalam mengasuh putra-putranya (karena disabilitas) ketika anaknya mengakses MCK; (3) Mobiller paud yang sangat terbatas, sehingga memengaruhi proses belajar dan mengajar bagi anak-anak kk miskin di desa; (4) Masih adanya rumah KK miskin yang kurang layak huni; (5) Masih adanya jalan di dusun yang sulit dilalui; (6) Kurangnya keterampilan yang dimiliki untuk menambah penghasilan rumah tangga KK miskin; (7) Ketidakmampuan KK miskin untuk memperluas pasar bagi produknya; (8) Kurang terampilnya guru PAUD dalam belajar mengajar; (9) Masih adanya KK miskin yang produktif, tetapi tidak mendapatkan pekerjaan yang mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka; (10) Kurang memiliki manajeman organisasi baik bagi BKM maupun aparatur desa; (11) Sumber air masih kurang baik untuk dikonsumsi; dan lain-lain.

Dari permasalahan di atas muncul kepesimisan relawan, “Mana mungkin masalah kita di atas mau diprioritaskan di tingkat gampong?”  Kenapa? Karena sejak tahun 2008, PNPM ada di desa ini, masalah seperti itu kurang diperhatikan. Aparatur gampong lebih mengutamakan perbaikan jalan desa, balai pertemuan, kantor desa dan sejenisnya, daripada memperhatikan hal-hal yang seperti di atas.

Menjawab itu, Tim Fasilitator meyakinkan, “Teman- teman relawan jangan khawatir. Kita akan mengunakan berbagai strategi, sehingga masalah tersebut di atas bisa terpenuhi dan masuk dalam perencanaan gampong.” Oleh karena itu pastikan terlebih dahulu kebuthan apa yang bisa mengatasi masalah tersebut: (1) Tutup saluran; (2) MCK atau WC khusus bagi anak disabilitas; (3) Mobiler PAUD; (4) Rehab rumah; (5) Jalan; (6) Pelatihan, baik skill maupun menambah wawasan bagi pengajar PAUD; dan lain-lain.

“Karena ini adalah kebutuhan yang telah kita sepakati, mari kita buat strategi agar pada saat lokakarya PS dan dan penyusunan PJM ini menjadi prioritas dari pengambil keputusan (ciri khas ke-3 selaras),” lanjut Tim Fasilitator. Ada beberapa strategi yang akan digunakan adalah, pertama, sebelum kita mengadakan rapat formal pada level pengambilan skala prioritas maka kita terlebih dahulu menjumpai tokoh-tokoh yang berpengaruh guna menyampaikan bahwa ini merupakan kebutuhan untuk masuk ke dalam perencanaan. Kedua, mempersiapkan vocal point gender untuk menyampaikan aspirasi perencaan dengan menyiapkan argumen yang telah disiapkan pada saat rapat gampong. Ketiga, memastikan kehadiran perempuan ketika menentukan skala prioritas perencanaan. Keempat, memastikan relawan bahwa tujuan dan ciri khas program dipahami, sehingga mampu relawan dapat menyampaikan di forum-forum terbuka.

Ternyata strategi yang disusun tidak sia-sia, usulan perempuan miskin menjadi skala prioritas rencana tahunan 2014-2016. Hal ini sudah bisa diprediksi, karena relawan telah mengalami proses yang cukup panjang dengan melibatkan rasa, cita, cinta dan olah kesadaran rasionalitas yang cukup mendalam. [Aceh]

Editor: Nina Firstavina

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Praktik Baik