Artikel

Beranda Warta Artikel Membangun Kreativitas dan Inovasi (Bagian 1)

Membangun Kreativitas dan Inovasi (Bagian 1)

Papua Barat Manokwari Etos Kerja Artikel Opini Peningkatan Kapasitas Comments (0) View (209)

Kreativitas merupakan potensi yang dimiliki setiap manusia dan bukan yang diterima dari luar diri individu. Kreativitas yang dimiliki manusia, lahir bersama lahirnya manusia itu sendiri. Sebagaimana disampaikan oleh Rogers (Utami Munandar, 1992:51) mendifiniskan kreativitas sebagai proses munculnya hasil-hasil baru ke dalam tindakan. Hasil-hasil baru itu muncul dari sifat-sifat individu yang unik yang berinteraksi dengan individu lain, pengalaman, maupun keadaan hidupnya. kreatif adalah sifat yang selalu mencari hal-hal baru sedangkan inovatif adalah sifat yang menerapkan solusi kreatif. Jadi Kreatif tapi tidak inovatif adalah hal yang mubazir karena ide hanya sebatas pemikiran tanpa ada realisasi, alias Nol Besar atau Omdo—Omong Doang.

Ide baru selalu datangnya dari individu, namun semua itu dapat menjadikan sesuatu dan berguna bilamana ditunjang oleh Tim serta kecerdasan dari tiap-tiap personal yang ada. Individu-individu yang mempunya ide baru biasanya disebut “Kreatif” sementara kelompok atau organisasi maka ide itu akan disebut sebagai “Inovatif”, Ide sesorang biasanya dibawa setengah matang yang merupakan hasil dari diskusi-diskusi dengan koleganya, yang selanjutnya ide-ide setengah matang secara kreatif dikembangkan oleh tim. Proses ini disebut “Kreativitas Tim”.

Dalam Konteks membangun kreativitas, bangsa Jepang sedikit mengecilkan kreativitas individu, karena itu adalah budaya bangsa Jepang, sebagaimana pepatah Jepang “Jika paku berdiri, paku akan dipalu ke bawah” pepatah Jepang pada semangatnya tidak banyak mengembangkan kreativitas individu,tetapi pada kelompok atau Tim. Kalau kita lihat Bangsa Barat itu berbanding terbalik dari bangsa Jepang, dimana Bangsa Barat sangat menekankan pada ide-ide individu dalam konteks kreativitas, misalnya penemu, pengarang dan seniman.

Sebagai contoh dalam laga pertandingan antara Indonesia usia 19 Kontra Myanmar (pada 17 September 2017), kerja sama tim menjadi sangat penting dan instruksi pelatih bertangan dingin Indra Safri, mereka itu sangat diagung-agungkan dengan segala pencapaian golnya di setiap pertandingan. Hasil Kemenangan Indonesia vs Myanmar 7:1. Ini contoh bagaimana kerja sama tim sangat ditekankan, terutama lini depan sebagai pencipta gol antara Egi, Witan Saghara, serta Raffli, yang membuat barisan pertahanan Myanmar tidak dapat berbuat banyak dalam menghadapi serangan yang bertubi-tubi, dimotori oleh Aung Soe dan kawan-kawan. Pencapaian Tim Indonesia Usia 19 di Piala AFF 2017 sangat ditentukan oleh kerja sama tim, sehingga juara III menjadikan Indonesia diperhitungan di dunia sepak bola.

Kunci untuk meningkatkan kinerja organisasi adalah dengan memastikan aktivitas Sumber Daya Manusia terfokus pada produktivitas, pelayanan dan kualitas (Mathis Jackson: 2004). Masyarakat dan bangsa apapun mempunyai etika; ini merupakan nilai-nilai universal. Nilai nilai etika yang dikaitkan dengan etos kerja seperti rajin, bekerja, keras, berdisplin tinggi, menahan diri, ulet, tekun dan nilai-nilai etika lainnya bisa juga ditemukan pada masyarakat dan bangsa lain. Kerajinan, gotong royong, saling membantu, bersikap sopan misalnya masih ditemukan dalam masyarakat kita. Perbedaannya adalah bahwa pada bangsa tertentu nilai-nilai etis tertentu menonjol sedangkan pada bangsa lain tidak.

Dalam perjalanan waktu, nilai-nilai etis tertentu, yang tadinya tidak menonjol atau biasa-biasa saja bisa menjadi karakter yang menonjol pada masyarakat atau bangsa tertentu. Muncullah etos kerja Miyamoto Musashi, etos kerja Jerman, etos kerja Barat, etos kerja Korea Selatan dan etos kerja bangsa-bangsa maju lainnya. Bahkan prinsip yang sama bisa ditemukan pada pada etos kerja yang berbeda sekalipun pengertian etos kerja relatif sama.

Kamus Wikipedia menyebutkan bahwa etos berasal dari bahasa Yunani; akar katanya adalah ethikos, yang berarti moral atau menunjukkan karakter moral. Dalam bahasa Yunani kuno dan modern, etos punya arti sebagai keberadaan diri, jiwa, dan pikiran yang membentuk seseorang. Pada “Webster's New Word Dictionary, 3rd College Edition”, etos didefinisikan sebagai kecenderungan atau karakter; sikap, kebiasaan, keyakinan yang berbeda dari individu atau kelompok. Bahkan dapat dikatakan bahwa etos pada dasarnya adalah tentang etika.

Etos juga berarti adat istiadat atau kebiasaan, dan seperangkat perilaku kerja positif yang berakar pada kesadaran yang kental, keyakinan yang fundamental, disertai komitmen yang total pada paradigma yang integral.(Sinamo, JH, 2008). The Characteristic spirit of a culture, era ,or community as manifested in its attitudes and aspirations. (McKean, 2005) Bila ditelusuri lebih dalam, etos kerja adalah respon yang dilakukan oleh seseorang, kelompok, atau masyarakat terhadap kehidupan sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

Setiap keyakinan mempunyai sistem nilai dan setiap orang yang menerima keyakinan tertentu berusaha untuk bertindak sesuai dengan keyakinannya. Bila pengertian etos kerja diredefinisikan, etos kerja adalah respon yang unik dari seseorang atau kelompok atau masyarakat terhadap kehidupan; respon atau tindakan yang muncul dari keyakinan yang diterima dan respon itu menjadi kebiasaan atau karakter pada diri seseorang atau kelompok atau masyarakat. Dengan kata lain, etika kerja merupakan produk dari sistem kepercayaan yang diterima seseorang atau kelompok atau masyarakat (Sinamo, 2008). Sekalipun fakta-fakta di lapangan menunjukkan hasil yang berbeda, tidak dapat dimungkiri bahwa agama merupakan sumber benih yang bagus untuk menghadirkan etika kerja yang bagus.

Memiliki benih yang bagus tidak cukup. Benih yang bagus membutuhkan lahan yang bagus. Tetapi, benih dan lahan yang bagus pun juga tidak cukup; dibutuhkan pertumbuhan. Demikian juga untuk memunculkan etos kerja unggul. Beragama dan memiliki lingkungan yang bagus saja tidak cukup. Dua-duanya dibutuhkan, tetapi yang paling penting adalah pertumbuhan. Ketiga-tiganya harus ada. Benih yang bagus, lahan yang bagus dan pertumbuhan harus ada secara bersama-sama. Dalam hal ini, agama hanyalah salah satu elemen untuk menghadirkan etos (etika) kerja unggul.

Orang Jepang yang di dunia bisnis menganggap bisnis sebagai perang yang melawan dengan perusahaan lain. Orang Jepang suka membaca buku ajaran Sun Tzu untuk belajar strategis bisnis. Sun Tzu adalah sebuah buku ilmu militer Tiongkok kuno, pada abad 4 sebelum masehi. Sun Tzu itu suka dibaca oleh baik samurai dulu maupun orang bisinis sekarang. Untuk menang perang, perlu strategis dan pandangan jangka panjang. Budaya bisinis Jepang lebih mementingkan keuntungan jangka panjang. Menurut Ann Wang Seng dalam bukunya Rahasia Bisnis Orang Jepang: Langkah Raksasa Sang Nippon Menguasai Dunia, kunci kebangkitan Jepang terletak pada spirit Bushido atau Samurai yang telah dibudayakan secara turun temurun dalam masyarakat Jepang dan diwujudkan dalam sikap sebagai berikut: (1) Tepat waktu/disiplin tinggi, (2) Semangat mengabdi, (3) Semangat kebersamaan, (4) Kecepatan dan fleksibilitas, (5) Inovatif, (6) Menghargai budaya dan tradisi bangsa sendiri, (7) Suka berhemat dan menabung.

Meski sudah menjadi negara industri dan mempunyai teknologi tinggi, bangsa Jepang tetap mempertahankan budaya tradisionalnya. Semua ini dilandaskan pada sikap patriotik masyarakat Jepang yang adalah salah satu faktor yang membantu keberhasilan perekonomian negaranya. Bangsa Jepang bangga dengan produk buatan negeri sendiri. Melalui pengamatan terhadap karakteristik masyarakat di bangsa-bangsa yang mereka pandang unggul, para peneliti menyusun daftar tentang ciri-ciri etos kerja yang penting. Misalnya, etos kerja Bushido dinilai sebagai faktor penting dibalik kesuksesan ekonomi Jepang di kancah dunia.

Etos kerja bushido ini mencuatkan tujuh prinsip, yakni, (a) Gi: keputusan yang benar diambil dengan sikap yang benar berdasarkan kebenaran. (b) Yu: berani dan bersikap ksatria. (c) Jin: murah hati, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama. (d) Re: bersikap santun, bertindak benar. (e) Makoto: bersikap tulus yang setulus-tulusnya, bersikap sungguh dengan sesungguh-sungguhnya dan tanpa pamrih. (f) Melyo: menjaga kehormatan, martabat dan kemuliaan. (g) Chugo: mengabdi dan loyal.

Bagaimana etos kerja bagi bangsa Indonesia? Bersambung.. [Pabar]

 

Penulis: Muhammad Rusli, MSi., Training Specialist, OSP 9 KOTAKU Provinsi Papua Barat

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.