Beranda Warta Cerita Ketika Pacitan Terdampak Bencana Banjir dan Longsor

Ketika Pacitan Terdampak Bencana Banjir dan Longsor

Jawa Timur Pacitan Bencana Alam Banjir Longsor Posko Bencana Comments (0) View (2135)

Pacitan adalah salah satu kabupaten termiskin di wilayah Jawa Timur hingga tahun 2000-an. Daerah ini terletak di sepanjang barisan Gunung Sewu yang menghampar hingga Kota Yogyakarta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.389, 87 km2 dengan jumlah penduduk 728.049 jiwa, terdiri atas 12 kecamatan dan 159 kelurahan. Menurut Unesco, Pacitan berada di peringkat ketiga dunia sebagai kawasan Geokarst yang dilindungi setelah Nevada dan Brazil. Keberadaan karst sudah diteliti sejak zaman purba hingga saat ini dan peninggalan prasejarah yang ditemukan, antara lain, pithecanthropus javanicus, perhiasaan tempo dulu, serta perlengkapan memasak zaman purba. Benda bersejarah ini sudah tersimpan di museum setempat.

Pacitan juga merupakan salah satu jalur perjalanan Jenderal Soedirman. Di wilayah tumpak rinjing berdiri kokoh patung Jenderal Soedirman dengan petilasan yang ada. Kabupaten Pacitan juga dikenal dengan nama “Kota 1001 Goa”. Beberapa goa yang teridentifikasi dan sudah dibuka untuk umum karena memiliki keunikan tersendiri, salah satunya adalah Goa Tabuhan. Keunikan goa ini ada di dindingnya, yang apabila ditabuh bisa mengeluarkan bunyi tabuh khas gending Jawa.

Ada juga Goa Gong, yang terkenal sebagai salah satu goa terindah di Asia Tenggara, karena keindahan stalaktit dan stalakmit yang tiada duanya. Selain itu, ada Goa Kalak, yang memiliki tingkat kedalam vertikal terdalam di dunia, dan menjadi objek wisata petualang pencinta alam yang datang dari penjuru dunia. Bahkan belum lama ini, goa itu digunakan sebagai lokasi pengibaran bendera merah putih sewaktu peringatan 17 Agustus.

Selain goa, potensi alam yang dimiliki pacitan cukup banyak. Semisal, flying fox terpanjang di Asia Tenggara yakni di Pantai Penyu. Dengan pemadangan pantai di pesisir, flying fox diletakkan di sekitar bibir pantai. Ada lagi Pantai Pancer Dor, yang sekitar pantainya berdiri bumi perkemahan yang menyatu dengan kawasan wisata pantai. Kemudian, Pantai Pidakan, yang pesisir pantainya dipenuhi oleh bebatuan bukan pasir, sehingga pantai ini unik dan lain dari pantai biasa. Berikutnya, Pantai Soge yang memiliki keindahan seperti wisata pantai Bali, dengan tebing curam mengapit kedua sisi menuju akses pintu masuk.

Selain itu, ada Pantai Teleng Ria, yang diminati wisatawan kerena letaknya cukup strategis, terdapat pelelangan ikan segar dan resto ikan laut yang cukup menjanjikan. Terakhir, di sekitar Kecamatan Pringkuku, yang terdapat pantai yang disebut sebagai Raja Ampat-nya Pacitan. Pantai ini menjadi salah satu tujuan wisata yang memacu adrenalin pengunjungnya, karena berada di ketinggian yang cukup terjal.

Pacitan sediri memiliki tipologi kawasan dengan karakteristik pesisir dan kawasan lereng perbukitan dengan tingkat topografi 15-40 persen di beberapa titik kawasan hunian masyarakatnya. Ibu kota Kabupaten Pacitan berada di lembah pengunungan. Untuk mengakses lokasi ibu kota melewati dua jalur utama yang berada di lereng bukit, dengan pemandangan jurang dan akses jalan berkelok, dan rawan longsor mulai dari jalur ponorogo hingga menuju Yogyakarta.

Karena kondisi inilah, Pacitan dikenal rawan longsor di beberapa titik menuju ibu kota. Longsor sering terjadi jika curah hujan cukup tinggi. Akibatnya, beberapa kali jalur Ponorogo harus dialihkan dengan rekayasa lalulintas melalui beberapa ruas jalan kampung lainnya. Longsor juga menjadi pemandangan harian warga setempat yang melalui area ini, sehingga kadang Pemda setempat sengaja memarkir eskavator di beberapa titik guna mengantisipasi longsor tersebut.

Banjir dan Longsor di Kabupaten Pacitan

Beberapa waktu lalu Badai Cempaka dan Dahlia melintas di semenanjung Indonesia. Kedatangannya di Pulau Jawa ditandai dengan siklus hujan deras dan angin kencang, terutama di Yogyakarta dan Pacitan. Badai ini membawa dampak yang cukup besar terhadap Kabupaten Pacitan pada umumnya.

Kilas balik bencana di Pacitan, pada tahun 1965 terjadi banjir cukup besar, tetapi tidak diiringi oleh longsor, ditambah angin puting beliung. Lalu pada tahun 1983, terjadi bencana yang sama. Hanya saja tahun ini, 2017, longsor mulai terjadi. Mungkin akibat banyak akses jalan baru dibuka membelah bukit dan mengambil lahan perbukitan. Bencana terparah terjadi di akhir tahun ini; tujuh tanggul utama jebol, karena sudah tidak bisa lagi menampung air limpahan akibat hujan deras selama dua hari berturut-turut. Akibatnya, banjir meluas, merendam 34 kelurahan di 6 kecamatan.

Selain banjir akibat tanggul jebol, kondisi diperparah dengan longsor di beberapa titik kawasan hunian. Ada lokasi-lokasi yang didiami oleh masyarakat merupakan wilayah rawan longsor. Tak ayal, banyak titik hunian yang terputus dari akses jalan, akibat banjir disertai lumpur. Longsor tersebut juga menelan banyak korban.

Data terakhir menunjukkan sebanyak 6.603 unit rumah rusak, 126 unit sekolah rusak. Kejadian berlangsung bertepatan musim ujian anak sekolah. Akhirnya sekolah melaksanakan ujian sebagian dengan menggunakan baju bebas. Bahkan, ada ujian sekolah yang dialihkan ke masjid, karena kondisi sekolah mereka menghawatirkan. Akhirnya siswa ujian dengan sarana terbatas, termasuk buku dan alat tulis.

Sepanjang 19,5 km jalanan rusak di 76 ruas jalan yang ada, dan 23 titik tanggul dalam kondisi rusak parah, 462 meter irigasi terkendala, serta 832 meter pasokan air bersih rusak termasuk lahan pertanian dan hewan ternak yang mencapai ribuan ekor.

Dari semua lokasi banjir, hanya ada dua tempat di sekitar kota kabupaten yang tidak terkena banjir. Yakni Lingkungan Gantung dan Bangun Sari. Sisanya terendam, terkena dampak banjir, dan longsor. Akhirnya Lingkungan Gantung diputuskan menjadi titik evakuasi segala jenis kebutuhan sandang, pangan, hingga dapur umum dan medis, yang didirikan oleh Pemda, relawan setempat termasuk Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM), dan pelaku Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Secara bersama-sama mereka membantu lokasi terdampak lainnya.

Kepedulian LKM terhadap Bencana di Wilayahnya

LKM Pace Jaya Makmur Kelurahan Pacitan memiliki pengurus LKM yang dikenal dengan nama Heru (Sulianto). Ketika bencana terjadi, LKM segera mendirikan Posko darurat secara mandiri, yang kebetulan letaknya persis di depan rumah penulis. Dengan begitu, kami dapat melihat segala aktivitas lalu lalang pemberian bantuan yang dilakukan LKM, dengan bantuan fasilitas RT setempat yang besarnya cukup luas untuk menampung segala bentuk donasi untuk bakti sosial “Peduli Pacitan”.

Prioritas support diberikan kepada warga yang belum mendapat akses dari pihak manapun dikarenakan kondisi lokasi masih berlumpur akibat banjir campur longsor. Bentuk bantuan yang dilakukan, antara lain Dapur Umum, aneka sembako dan tabung gas Elpiji dari Yamaha Vixion Club, indomi dan air minum dari LSM Peduli Warga Pacitan (PWP), dan uang tunai dari Fopeddas Solo. Segala jenis bantuan ini dikirim dengan menggunakan truk kecil, mobil MPV, hingga motor besar untuk menjangkau areal permukiman yang tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Pakaian bekas juga menjadi salah satu bantuan penting yang dibawa langsung ke lokasi bencana.

Satu hal yang menjadi renungan adalah ternyata LKM menjadi lembaga yang dipercaya untuk membantu penggalangan dan pendistribusian bantuan saat bencana. Pengurus LKM yang tidak terdampak bencana dengan sigap membantu sesama, meringkan beban korban ketika bantuan dari luar belum mampu tiba ke lokasi yang terisolasi. Mereka sigap bergerak dari pagi hingga sore, meski masih terkendala datanganya banjir susulan ringan yang memperparah jalan masuk ke lokasi.

Dapur umum masih siaga selama bencana, terutama kaum ibu setempat. Begitu terasa suasana bernuansa kepedulian. Pengurus LKM tetaplah manusia biasa yang memiliki banyak kelebihan dan kekurangan. Hanya saja satu hal yang patut diapresiasi, pengurus LKM tak saja peduli dengan sekitarnya, melainkan juga memikirkan warga lintas kelurahan, kecamatan, bahkan desa yang terdampak paling berat. Nilai-nilai kemanusian teruji ketika sekitar kita terkena masalah yang berat. Dengan langkah ringan, hati, dan inovasi. Mereka menggalang donasi bahkan hingga ke perkumpulan di grup Whatsapp semasa sekolah dan juga club motor yang diikuti.

Menggalang bantuan secara mandiri tidaklah mudah, karena dibutuhkan sosok penggerak nan amanah yang sudah memiliki rekam jejak baik selama ini. Paling tidak mereka sudah berbuat dan bekerja sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan. Bentuk bantuan juga diterima dengan besar hati, apapun itu bentuknya. Mereka mampu memetakan kondisi faktual di lapangan, sehingga bantuan yang diberikan tidak sia-sia. “Seadanya dan Semampunya” menjadi salah satu iktikad baik dalam upaya membantu sesama.

Jika semua LKM memiliki penggerak yang baik dan penuh inovasi maka bukan mustahil jika BNPB dan Basarnas menggandeng LKM untuk terjun langsung di lapangan guna meringankan tugas Tim Rescue di lapangan. Posko LKM menjadi titik penggalangan donasi bagi yang terkena musibah bencana apapun. Dan, alangkah baiknya lagi jika proses evakuasi yang dilakukan bersama manjadi latihan. Sehingga, jika ada kejadian yang sama menimpa wilayah, mereka sudah paham apa yang harus disiapkan dan dikerjakan, sehingga mampu meminimalisir dampak bencana, semisal membuat jalur evakuasi, titik evakuasi, bahkan menyiapkan lokasi aman bagi kaum renta, perempuan dan anak-anak.

Kunjungan penulis kali ini ke kampung halaman memang cukup luar biasa. Selain melihat keluarga secara langsung, juga membantu menggalang bantuan bersama keluarga. Penulis menemukan banyak hal terkait aktivitas KOTAKU di Kota Pacitan ini, seperti Posko di depan rumah.

Terima kasih kepada mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, putra Pacitan yang masih peduli dengan kampungnya yang cukup parah terdampak bencana. Begitu juga dengan Presiden RI saat ini, Joko Widodo, yang tangkas menginstruksikan perbaikan sarana vital, yakni tanggul dan akses jembatan dan jalan yang rusak. Juga, terima kasih kepada niat tulus semua kalangan untuk Peduli Pacitan.

Lekaslah pulih Pacitanku. Kota sejuta atraksi wisata alam yang luar biasa. Kota yang melahirkan pemimpin bangsa. Kota yang memiliki keanekaragaman kesenian, dan kota kuliner yang diminati pengunjung luar daerah. Kota yang indah, ramah dan semua serba murah. Berada di sini merupakan suatu hal yang dirindukan. Melalui bencana, semua keluarga peduli, silaturahmi dan kembali memiliki ikatan untuk bisa membantu kota ini pulih kembali. Semoga Allah meridhoi. Ini adalah sebuah catatan kecil dari kampung tercinta. [Jatim]

Peta fakta bencana alam di Pacitan, update 8 Desember 2017:

 

Penulis: Yuli Eka, Urban Planner Specialist, KMW/OSP 8 KOTAKU Provinsi Sulawesi Tenggara

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.