Cerita

Beranda Warta Cerita Masyarakat Salomenraleng: Banjir adalah Anugerah

Masyarakat Salomenraleng: Banjir adalah Anugerah

Cerita Sulawesi Selatan Wajo Infrastruktur Nelayan Comments (0) View (1016)

Salomenraleng adalah kelurahan yang berada di wiring tappareng, atau tepi (wiring) danau (tappareng), pada Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Kelurahan Salomenraleng sendiri berasal dari bahasa lokal, “Salo” yang artinya sungai, dan “Menraleng” yang artinya dalam. Kelurahan berpenduduk 1.892 jiwa dengan luas kawasan kumuh 2,26 Ha ini dikenal sebagai salah satu lokasi yang sering kena banjir se-Kabupaten Wajo.

Jika di luar Kabupaten Wajo banjir dianggap sebagai musibah, tidak halnya bagi warga Salomenraleng yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan ini. Banjir yang terjadi setiap tahun justru meningkatkan penghasilan para nelayan Salomenraleng, karena mendapatkan ikan jadi lebih mudah. Tidak perlu jauh mencari ikan hingga ke tengah danau. Cukup mencari ikan di sekitar rumah, atau memancing dari atas rumah saja. Jumlah ikan yang didapatkan dan layak dijual juga banyak.

“Banjir bukan penghambat aktivitas kami dalam mencari nafkah,” kata salah seorang nelayan Salomenraleng bernama Ambo Enre.

Hal ini dibenarkan oleh Lurah Salomenraleng Marzam Pallawagau. “Banjir bukan merupakan musibah melainkan suatu anugerah dari Allah, SWT,” ujar Marzam.

Program P2KP, PNPM Mandiri Perkotaan, dan P2KKP sempat mampir di Kelurahan Salomenraleng dan berlalu seiring waktu. Namun bagi masyarakat, ketiga program tersebut masih terngiang jelas di benak. Jika awalnya program bernuansa penanggulangan kemiskinan, berkembang menjadi pemberdayaan murni, di tahun 2017 muncul Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) yang fokus pada penataan infrastruktur skala lingkungan dan kawasan.

Masyarakat Salomenraleng menilai kehadiran KOTAKU sangat membantu mereka melakukan pendataan secara lebih rinci. Dengan menggali dan mengkaji 7 indikator kekumuhan, sebagaimana diamanahkan UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, masyarakat dan pemerintah setempat semakin memahami permasalahan permukiman di wilayah Salomenraleng.

Lurah Salomenraleng Marzam Pallawagau juga optimis target yang hendak dicapai lewat Program KOTAKU akan sukses. “Oleh karena itu kami mengerahkan tenaga, pikiran, bahkan materi sekalipun. Setiap tahapan proses Program KOTAKU ini akan kami lakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Target 100-0-100 akan terwujud nantinya, in syaa Allah. Karena kegiatan ini adalah untuk kepentingan kita bersama, kita semua harus betul-betul berkomitmen dalam hati, dan juga dalam implementasinya, bukan hanya hanya sekadar diucap di mulut. Dengan begitu masyarakat dapat merasakan langsung manfaatnya,” urai Marzam Pallawagau.

Pihak Pemerintah Kelurahan Salomenraleng bersama staf lainnya, menyatakan akan terus mendampingi proses dan tahapan program. Mulai dari tahap sosialisasi tingkat kabupaten, terlebih di tingkat kelurahan. Juga akan memfasilitasi pembetukan TIPP, pelatihan/OJT, dan selanjutnya berbagai proses FGD, wawancara baik tingkat kelurahan maupun tingkat basis/RT. Bahkan pihaknya tak segan akan turun melakukan transek lapangan guna memastikan kebenaran dan akurasi data. “Kami terus bersama-sama melakukannya demi mendapatkan keakuratan data. Ini merupakan bentuk wujud kepedulian Pemerintah Kelurahan Salomenraleng,” tegas Marzam.

Menurutnya, untuk tahun 2017 Kelurahan Salomenraleng mendapatkan alokasi Bantuan dana Investasi (BDI) dari Program KOTAKU sebesar Rp500 juta. Anggaran tersebut dialokasikan untuk kegiatan pembangunan jalan beton, talud, dan pembangunan drainase, yang pusat kegiatannya berada di RT 3 RW 2 Lingkungan Bakke Alau (sesuai dengan SK Kumuh).

Dalam implementasi kegiatan KOTAKU ini gotong royong di antara masyarakat berhasil tumbuh kembali. Kebersihan lingkungan meningkat pesat, khususnya di daerah kawasan yang menerima BDI. Kebersamaan dan kekompakan antara masyarakat dengan pemerintah terlihat jelas. Hampir setiap hari, tanpa kenal waktu, tampak pihak kelurahan keliling dari lorong ke lorong, memberi semangat dan motivasi kepada warga agar selalu turut serta membangun kekompakan, kebersamaan dan kegotong-royongan dalam menata kampung sendiri. “Menuju daerah yang kehidupan masyarakatnya selalu bersih aman dan damai,” kata Marzam.

Dengan tumbuhnya kembali semangat gotong-royong di wilayah ini, diharapkan semua pihak bisa belajar saling menghormati, menghargai pendapat orang lain, bersikap obyektif, tidak berburuk sangka dan tidak melecehkan satu dengan yang lainnya. Justru saling berbagi ilmu, saling menolong, dan bantu membantu yang merupakan cerminan sikap kekeluargaan tinggi, terbangun lewat gotong-royong.

“Ini sangat kami rasakan. Pekerjaan jadi ringan dan cepat selesai. Semua pekerjaan di kawasan ini jadi mudah,” kata Koordinator LKM Makkaratte, Kelurahan Salomenraleng Arifin.

Meski secara keseluruhan wilayah ini belum terbebas dari kekumuhan, perubahan positif yang signifikan setelah adanya BDI sangat terasa. Namun, di balik semua itu, pihak kelurahan menyadari kemungkinan timbulnya kecemburuan sosial, terutama di wilayah yang tidak termasuk kawasan kumuh. Terkait hal tersebut, pihak kelurahan tetap memberikan pengertian terkait hal-hal yang menyangkut dana BDI. Pemerintah Kelurahan Salomenraleng harus selalu jadi yang terdepan memberikan contoh bagi warga. Karena kadang masyarakat enggan berbuat apa-apa jika tidak melihat langsung hasilnya. Oleh karena itu kita harus mampu memberikan gerakan sosial masyarakat setempat, dengan satu tekad bahwa kampung ini harus berubah menjadi asri, aman, dan damai.

Banyak hal yang tidak mampu diungkapkan selain bersyukur kepada Allah, SWT, dan berusaha memfungsikan secara maksimal KPP yang telah dibentuk dengan berbagai aturan yang telah ditetapkan bersama. Demikian pula ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Tim KOTAKU dan semua pihak yang telah memfasilitasi sehingga dana BDI bisa terealisasi di Kelurahan Salomenraleng.

Selebihnya, pihak Kelurahan Salomenraleng berharap tahun-tahun selanjutnya masih ada alokasi dana BDI dari Program KOTAKU, agar wilayah ini benar-benar terbebas dari kekumuhan. Di sisi lain, Salomenraleng akan selalu berusaha menjalin kolaborasi dengan semua pihak, antara pemerintah, swasta, dan pihak-pihak lain dalam rangka mendukung penanganan kawasan kumuh di Kelurahan Salomenraleng khususnya, dan Kabupaten Wajo pada umumnya. [Sulsel]

Dokumentasi lainnya:

 

 

Penulis: Hasnawati, Askot Mandiri Kabupaten Wajo, KMW/OSP 8 KOTAKU Provinsi Sulawesi Selatan

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.