Beranda Praktik Baik PB-Lingkungan Karangwaru Go International: Dari Bangun Kampung Jadi Bangun Dunia

Karangwaru Go International: Dari Bangun Kampung Jadi Bangun Dunia

Comments (0) View (1795)

Karangwaru adalah sebuah kelurahan di sudut Kota Yogyakarta yang dilintasi oleh Sungai Buntung. Nama kelurahan ini mulai dikenal meluas di Indonesia, berkat kekompakan masyarakat dan aparat pemerintah kelurahan menata kampung serta mengelola sungai, mengubah lingkungan yang tadinya kumuh menjadi kelurahan percontohan. Mereka juga membentuk lembaga dan komunitas, serta melakukan sosialisasi, baik offline maupun online secara masif sejak tahun 2000. Memasuki tahun 2018, tepatnya 10 Februari, nama Karangwaru mulai dikenal internasional melalui side event World Urban Forum 9 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Adalah Gatot Suprihadi, anggota Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Tridaya Waru Mandiri, Kelurahan Karangwaru, dampingan Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), yang memaparkan prestasi Karangwaru di hadapan lebih dari 100 orang peserta dari berbagai negara anggota UN-Habitat. Gatot menjelaskan, kesuksesan BKM Karangwaru, antara lain, adalah karena pelaksana kegiatan program adalah masyarakat setempat. BKM dibangun sebagai pengawas pelaksanaan pengurangan kumuh di tingkat kelurahan, serta memastikan berjalannya pemberdayaan di tingkat masyarakat, didampingi oleh fasilitator KOTAKU.

Gatot menjabarkan perjalanan Karangwaru sejak tahun awal pembentukkan BKM di tahun 2000. Mulai dari visi pengentasan kemiskinan dengan melaksanakan pemetaan swadaya oleh kelompok masyarakat, hingga penanganan kumuh mulai tahun 2014. Keistimewaan Karangwaru adalah pemerintah kelurahan yang sangat suportif mendukung kegiatan masyarakatnya. Maka, ketika memulai perencanaan, mereka menyadari harus melakukan penyamaan visi dan misi.

Untuk itu, BKM dan Pemerintah Kelurahan Karangwaru menggelar lomba menggambar yang diikuti oleh anak-anak setempat, bertema peduli sungai. Tujuannya adalah menangkap impian anak-anak terhadap lingkungannya. Berangkat dari aspirasi tersebut, BKM dan Pemerintahan Kelurahan Karangwaru berupaya keras mewujudkan lingkungan yang lebih baik. Masyarakat juga merespon sangat positif, antara lain dengan merelakan tanah mereka untuk menjadi ruang publik.

Dalam hal ini, Karangwaru fokus pada penataan kawasan Sungai Buntung, yang merupakan anak Sungai Winongo. Berdasarkan penilaian menurut bobot nilai yang telah ditetapkan dan disepakati Bersama, didapatkan prioritas-prioritas pekerjaan untuk jangka panjang maupun pendek. Prioritas pekerjaan tersebut meliputi: prioritas pertama penataan Sungai Buntung, prioritas kedua pengembangan wisata, prioritas ketiga penataan permukiman, prioritas keempat penataan infrastruktur, dan prioritas kelima pengembangan UKM.

Pemilihan skala prioritas penanganan kawasan Sungai Buntung ini tepat karena di kawasan inilah semua permasalahan permukiman ada, mulai dari kemiskinan, kesehatan, sanitasi, dan kumuh miskin. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya kebiasaan buruk warga sekitar yang membuang sampah, limbah rumah tangga dan limbah manusia (sampah, limbah dapur, deterjen) di sungai. Jika tidak segera ditata akan muncul permasalahan-permasalahan baru lainnya di masa mendatang.

Secara umum program penataan lingkungan berbasis komunitas di bantaran Sungai Buntung di Kelurahan Karangwaru terbagi menjadi 6 Segmen, berdasar skala prioritas yang sudah ditentukan. Mulai 2009 hingga 2016, Karangwaru telah menyelesaikan 2,5 segmen yang ada yaitu Segmen 1 (tahun 2010), Segmen 4 (tahun 2012), Segmen 2-1 (tahun 2014), segmen 2-2 (tahun 2016); dan Segmen 4-2 (tahun 2017) Dari keseluruhan kawasan bantaran, tersisa segmen 3 yang masih belum ditata.

Penataan bantaran Sungai Buntung ini rupanya mendorong partisipasi warga dan komunitas Karangwaru, baik laki-laki, perempuan, tua, muda, karang taruna, komunitas penggiat seni, dan lain-lain. Partisipasi komunitas juga muncul dari sekitar wilayah Karangwaru, seperti komunitas pecinta alam perguruan tinggi di sekitar Karangwaru, bahkan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Berbagai komunitas yang berpartisipasi dalam kegiatan Karangawaru saat ini bergabung dalam Komunitas Karangwaru Riverside dan Karangwaru Bergerak. Komunitas ini menciptakan berbagai event guna memanfaatkan dan memelihara bantaran Sungai Buntung. Karangwaru juga kerap menerima kunjungan studi banding dari kota, bahkan negeri lain.

Kiprah Karangwaru ini mendapat apresiasi peserta dari berbagai negara, yang menghadiri Side Event World Urban Forum 9 di Room 306 KLCC ini. Berbagai pertanyaan dan ungkapan kekaguman dilontarkan oleh peserta, termasuk Claudio Acioly dari UN Habitat, lewat sesi tanya-jawab.

Adapun side event dengan format talkshow bertema “The Power of Community: Transformation and Movement for Slum Upgrading Program in Indonesia” ini dihadiri pula oleh sejumlah narasumber lain. Mereka adalah Kasubdit Perumahan, Permukiman dan Perkotaan Bappenas Nurul Wajah Mujahid, Kepala Satker Permukiman Pengembangan Kawasan Permukiman Berbasis Masyarakat (PKPBM) Mita Dwi Aprini, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy, anggota BKM Kelurahan Karangwaru Gatot Suprihadi, dengan moderator Chair of Executive Board Kemitraan Habitat Wicaksono Sarosa.

Oleh: Tim Komunikasi KMP Kotaku wil.2

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Praktik Baik