Artikel

Beranda Warta Artikel Budaya Buang Sampah Sembarangan Makin Marak

Budaya Buang Sampah Sembarangan Makin Marak

Comments (1) View (1149)

Perhelatan Piala Presiden 2018 berakhir sudah. Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta (Persija) unggul dengan skor 3-0 atas Bali United pada ajang adu kebolehan memainkan si kulit bundar di final bergengsi piala tahunan tersebut di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Sabtu (17/2) malam. Para pendukung Tim Macan Kemayoran, sang juara, tumpah ruah. Tak ayal, sebanyak 70.255 tiket—dari kapasitas penonton sebanyak 73.732 kursi—habis terjual. Tentu belum termasuk yang tidak mendapatkan tiket, atau yang sekadar berada di sekitar stadion.

Buntutnya bisa ditebak. GBK berubah mendadak menjadi kumuh, penuh sampah berserakan, khususnya di areal seputar stadion. Di berbagai sudut pelataran stadion didominasi sampah botol plastik, kantong plastik, styrofoam, atau bekas kemasan makanan lainnya. Sampah sejenis pun tampak berserakan di atas rumput taman, atau di antara pepohonan, plus di saluran air. Tak sedikit juga tanaman yang rusak diinjak-injak penonton.

Mungkin, bukan persoalan jumlah tenaga petugas kebersihan yang terbatas. Tapi memang, jumlah sampah mendadak dan yang dibuang di sembarang tempat membuat stadion bertaraf internasional tersebut menjadi kumuh. Para petugas kebersihan kerepotan luar biasa, hingga hari kedua pascapertandingan. Mereka tampak tersebar membersihkan areal GBK menggunakan sapu dan memungut dengan tangan. Menurut Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kota Madya Jakarta Pusat Marsigit, jumlah sampah pascaperhelatan Piala Presiden mencapai 70 juta ton lebih.

Galibnya gelar keramaian di areal publik di negeri ini, sampah acap menjadi bukti nyata ketidakpedulian para pengunjung perhelatan. Kendati tak semua, namun hampir sebagian besar penyelenggaraan acara yang menghadirkan kerumunan selalu menyisakan sampah berserakan di penghujung acara. Kendati, sekali lagi, tak kurang dari 300 orang petugas kebersihan berulang kali mengingatkan untuk selalu menjaga kebersihan dengan membuang sampah di tempat yang telah disediakan hadir di Final Piala Presiden 2018 itu.

Bila mencoba membandingkan jumlah penonton yang mencapai 70 ribu orang dengan angka hasil produksi ceceran sampah hanya dalam beberapa jam, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta semestinya menghitung ulang kerugian yang tak sedikit.

Jumlah penonton Final Piala Presiden yang sebanyak 70-an ribu orang ini nyaris setara dengan jumlah penduduk di Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, berdasarkan data Badan Pusat Statistik Jakarta periode 2016. Bayangkan, misal dengan angka yang sama penduduk di areal seluas 4,5 kilometer per segi itu bakal menghasilkan sekitar 70-an ton sampah tercecer selama enam jam. Bila berasumsi sehari semalam, angka sampahnya bisa mencapai empat kali lipat per 24 jam. Dalam satu bulan, jumlah sampah yang dihasilkan mampu mencapai 8.400-an ton, yang berserakan dan harus dibersihkan setiap hari pula. Bisa dibayangkan?

Rutinitas kegiatan yang selalu berujung sampah berserak sudah lazim di negeri ini. Budaya membuang sampah tidak di tempatnya cuma perilaku sebagian kecil masyarakat di Indonesia. Fakta kondisi itu sudah dipotret media massa sejak lama, dan tak juga berakhir. Buktinya, di acara Pengundian Nomor Urut Partai Peserta Pemilihan Umum 2019 di Gedung Komisi Pemilihan Umum Jakarta pada Senin (19/2). Usai acara politik tersebut, sampah bekas makanan dan minuman berserakan di jalanan, trotoar, dan taman di sekitar Gedung KPU hingga trotar di seberang jalan.

Produk hasil sampah dari masyarakat memang tak bakal terhindarkan kehadirannya. Kendati begitu, tata kelola sampah inilah yang harus menjadi perhatian utama dan mesti dimulai dari sekarang. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat. Dan itu tidak bisa ditunda lagi bila saja mau meminimalisir dampak sampah yang berserakan. Pemilahan tempat sampah berdasarkan material dasar organik, non-organik, dan beracun atau berbahaya diapresiasi dengan menempatkan sampah dimaksud pada tempatnya. Karena solusi tersebut mampu mereduksi waktu dan biaya tata kelola sampah yang mesti dilakukan.

Besarnya biaya pengelolaan sampah yang besar namun berbanding terbalik dengan anggaran yang disediakan bukanlah cerita isapan jempol semata di negeri ini. Padahal di saat bersamaan, retribusi sampah yang dipungut dari masyarakat jauh panggang dari api. Sebagai contoh, tengok yang mesti dihadapi Pemerintah Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat, di tahun kemarin.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi Djani Ahmad Nurjani sempat mengernyitkan dahi. Biaya Kompensasi Jasa Pelayanan (KJP) dan Kompensasi Dampak Negatif (KDN) untuk pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti melonjak tinggi. Dan retribusi sampah dari masyarakat juga tak mencukupi kebutuhan anggaran pengangkutan sampah.

Terhitung mulai 2017, nilai KPJ yang dikelola Badan Pengelolaan Sampah Regional (BPRS) Jabar untuk TPA Sarimukti ditetapkan sebesar Rp 50 ribu per ton, naik dari Rp 29 ribu. Angka KDN untuk Kabupaten Bandung Barat kini dipatok sebesar Rp 15 ribu per ton, dari sebelumnya Rp 10 ribu. Sementara KDN Arus Balik untuk desa sekitar lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sarimukti dari Rp 4.000 per rit menjadi sebesar Rp 7.500.

Tak pelak lagi, biaya KPJ 2017 membengkak dari Rp 3,143 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp 2,083 miliar. Sedangkan angka KDN dan KDN Arus Balik di periode yang sama mencapai Rp 965,4 juta dari sebelumnya Rp 488.8 juta. Secara total, biaya pengelolaan sampah di Bidang Pengelolaan Sampah dan UPT Persampahan berkisar Rp 14-15 miliar, dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 11-an miliar. Sementara retribusi sampah yang terkumpul dari masyarakat tak bergeser jauh dari tahun sebelumnya, cuma sebesar Rp 1,2-1,3 miliar.

Djani menambahkan, angka itu masih terbilang ringan bila dibandingkan pembiayaan pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) Legok Nangka di Nagreg, di provinsi yang sama. “Bisa lima kali lipat,” kata dia.

Fakta kenaikan biaya pembuangan sampah tadi kemungkinan besar menjadi persoalan mendasar di sejumlah wilayah di Indonesia. Biaya operasional pengelolaan sampah yang membengkak ini hanya bisa diminimalisir dengan pengelolaan sampah di tempat sumber-sumber sampah, di mana pun, dengan tidak membuang sampah sembarangan. Termasuk, seperti yang seharusnya tidak terjadi di areal perhelatan Final Piala Presiden 2018, atau di Gedung KPU Jakarta.

Kekumuhan sebuah wilayah, di antaranya, tercipta akibat penanganan sampah yang tidak terkelola dengan baik. Hasil akhirnya kembali bisa ditebak: lingkungan tercemar, kesehatan terganggu, dan melenceng jauh dari kenyamanan yang diidamkan. Alhasil, perputaran roda perekonomian pun terganggu.

Sebenarnya langkah kecil mendobrak kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat dilakukan siapa pun. Ini sejalan dengan penetapan pemerintah untuk menjadikan tanggal 21 Februari sebagai momentum penghormatan Hari Peduli Sampah Nasional. Ya, bila saja mau...

Oleh: Tim Komunikasi KMP Kotaku wil. 2

1 Komentar


  1. Posted by kirana | Jul 6, 2018

    berita dan informasi yang sanggat bermanfaat, semoga untuk kedepan nya wilayah kota tanjug pinang lebih maju untuk bisa melihat streaming tras tv

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.