Berita

Beranda Warta Berita Kabupaten Pekalongan: Ketika Kampus Tetap “Turun Gunung”

Kabupaten Pekalongan: Ketika Kampus Tetap “Turun Gunung”

Kab Pekalongan Jawa Tengah Comments (0) View (720)

Hampir genap tiga tahun belakangan berjalan, aksi peduli kaum mahasiswa tak jua pudar. Terhitung sejak 2016 dan hingga kini, dua perguruan tinggi di Jawa Tengah tak bergeming tetap bergandeng tangan dengan Program Kota Tanpa Kumuh di Kabupaten Pekalongan. Kedua kampus tersebut adalah Universitas Diponegoro dari Semarang dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan yang tak henti berkolaborasi mengusung tema Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat: Pengembangan Kawasan Permukiman (Bangkim), khususnya di Kabupaten Pekalongan.

Ketiga lembaga ini sepakat meningkatkan kapasitas masyarakat dan wilayah dengan “Gerakan 100-0-100”, yaitu 100 persen akses universal air minum, 0 persen permukiman kumuh, dan 100 persen akses sanitasi layak. Satu di antara sederet strategi yang dilakukan berkesinambungan adalah pendampingan dengan pola berbeda di beberapa lokasi yang sudah dipetakan masuk status pencegahan kumuh.

Undip, misalnya. Kampus yang berbasis di Kota Lumpia, Semarang itu bertanggung jawab membantu pembuatan peta berbasis online ArcGIS wilayah dan profil Desa Samborejo. Bersinergi bersama fasilitator Kotaku dan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) setempat, para mahasiswa ikut serta berdiskusi, memetakan, mendata, dan memverifikasi kawasan permukiman Desa Samborejo berdasarkan 7+1 indikator kekumuhan.

Tak hanya itu saja. Para mahasiswa yang didaulat “turun gunung” mesti secara berkelanjutan mendampingi dan melatih manajemen pengelolaan limbah batik kepada perangkat desa dan masyarakat. Mulai dari memberi pemahaman tentang daerah rawan limbah, inventarisasi tata penggunaan bahan kimia dalam pengolahan, serta cara pengelolaan limbah batik berupa cairan maupun kain perca batik.

Tidak berakhir di situ saja. Sebagai bagian dari program berkelanjutan, para mahasiswa dan pendidik perguruan tinggi tersebut menelurkan desain konsep mesin pencacah sampah kepada masyarakat dan perangkat desa. Mereka mempresentasikan dan urun rembuk bersama menyoal kelebihan dan keuntungan kehadiran mesin sebagai langkah efektivitas dan efisiensi kerja pintar.

Barisan mahasiswa dari STAIN pun tak tinggal diam. Berduet dengan Undip, relawan STAIN ikut mendampingi proses peningkatan masyarakat. Di antaranya merujuk pada perubahan perilaku hidup sehat dan bersih, para mahasiswa ikut memberikan pelatihan keterampilan pemanfaatan plastik sebagai hasil kreatif dan bernilai ekonomis bagi masyarakat setempat. Mahasiswa lain, bagaimana dengan Anda? [Jateng

 

Oleh: Tim Korkab Pekalongan, OSP 5 Kotaku Provinsi Jawa Tengah

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.